Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Dekorasi Unik Bergaya Kekunoan Koleksi Galeri Oma Vintage Store

    Galeri Oma Vintage Store
    Beberapa koleksi barang lawasan tertata di sudut galeri
    Buffet jengki jadul dan Radio & speaker set bergaya retro
    Table set rotan klasik
    Vera Orchidlia Owner Galeri Oma Vintage Store

    Bagi sebagian besar orang penataan interior ruangan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Kesesuaian dengan gaya dan idealisme penghuninya akan mempengaruhi kenyamanan saat berada di dalam rumah. Furnitur pengisi ruangan menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Usahakan dalam satu ruangan terisi dengan satu langgam furnitur. Tidak harus satu warna, yang terpenting sesuaikan keharmonisan dan keseimbangan ruangan secara utuh. Salah satu gaya dekorasi yang saat ini sedang digandrungi adalah bergaya vintage. Gaya furnitur vintage akhir-akhir ini mulai dilirik sebagai pengisi interior ruangan yang memiliki karakter dan unik. Furnitur vintage biasanya akan merujuk pada sebuah furnitur-furnitur dengan model dan tampilan yang terlihat usang. Namun, di situlah letak keunikan dan estetika dari furnitur bergaya lawasan tersebut. Bahkan, karena bentuk dan tampilannya yang sudah kuno atau terlihat usang inilah yang membuat banyak orang mulai mencintai gaya tersebut.

    Adalah Vera Orchidlia yang cukup jeli dalam melihat tren perkembangan dekorasi pernak-pernik berbau vintage yang saat ini banyak digemari dengan membuka Galeri Oma Vintage Store sejak bulan Juni 2016, sebuah galeri yang menyediakan kebutuhan furnitur hingga berbagai pernak-pernik lawasan. Cerita yang cukup menarik justru datang dari awal mula berdirinya Galeri Oma. Vera menceritakan bahwa dulunya sama sekali tidak ada rencana untuk mempunyai galeri vintage seperti sekarang. “Dulu awalnya ada tetangga yang umurnya sudah cukup senja menawarkan barang lawasnya kepada saya karena uangnya mau dipakai untuk berobat. Karena kasihan akhirnya saya beli saja barang tersebut. Terkadang, orang-orang tua tersebut membutuhkan biaya untuk pengobatan ataupun keperluan lain mereka. Mereka sungkan untuk minta (uang) kepada anaknya. Sehingga mereka pun menawarkan barang-barang tidak terpakai yang mereka miliki kepada saya. Kebetulan saya juga hobi koleksi barang-barang lawasan. Rupanya kejadian seperti itu terus berlanjut dikemudian hari dengan orang yang berbeda, namun semuanya juga dari orang tua. Menurut saya, membeli barang yang ditawarkan adalah cara terbaik untuk membantu mereka. Makanya galeri ini saya beri nama Galeri Oma Vintage Store karena awalnya barang-barang di sini diperoleh dari oma-oma,” cerita owner Galeri Oma Vintage Store tersebut.

    Cerita berlanjut ketika Vera bertemu dengan Dimas Javanova, seorang pemuda yang juga penghobi barang lawas seperti piringan hitam dan kaset. Mereka akhirnya merintis bisnis tersebut dengan memanfaatkan ruangan yang tidak terlalu besar di atas sebuah toko besi. Di sana pun Vera memajang barang-barang yang dimilikinya. Dimas yang ditunjuk sebagai marketing manager mengatakan bahwa saat ini penjualan Galeri Oma lebih banyak dilakukan via online. Ia mengunggah barang-barang galeri di berbagai situs belanja online termasuk Instagram. “Karena memang situs belanja online mempermudah konsumen untuk mencari barang sesuai dengan yang mereka inginkan. Menariknya, barang-barang Galeri Oma laku terjual dari berbagai segmen konsumen. Banyak dari mereka yang membeli barang di sini untuk interior di kafe, studi foto, ataupun rumah sendiri,” kata Dimas. Tak urung, barang-barang di Galeri Oma juga laku sampai luar kota serta luar negeri.

    Showroom yang beralamat di Jalan Monjali No. 55, Gemawang, Mlati, Yogyakarta tersebut tidak hanya menjual furnitur klasik semisal table set, namun juga berbagai kebutuhan dekorasi ruang seperti pernak-pernik berukuran kecil hingga radio kuno yang mempunyai ukuran cukup besar. Saat ini, barang-barang yang ada di Galeri Oma kebanyakan dipasok oleh supplier yang berasal dari kawasan Magelang, Semarang, hingga Solo. Berbeda pada saat awal merintis bisnis tersebut, dimana Vera dan Dimas harus berkeliling untuk hunting barang hingga luar kota. “Kalau sekarang ya sudah lumayan enak dapat barangnya, sudah banyak pemasok yang datang nawarin barang. Beda sama dulu ketika awal-awal buka Galeri Oma, saya sama Bu Vera harus keliling-keliling cari barang. Ya walaupun kadang sekarang jadi kangen hunting barang seperti itu, karena memang seru dan mengasyikkan,” cerita Dimas.

    Secara garis besar terdapat 2 macam barang antik ketika pertama kali diperoleh, yaitu barang yang dapat langsung dijual kembali dan barang yang memerlukan proses restorasi untuk mengembalikan bentuk dan fungsinya seperti semula. Galeri yang buka dari pukul 09.00 hingga 21.30 tersebut juga memiliki workshop yang mengerjakan proses restorasi barang hingga siap untuk dijual kembali kepada konsumen. Proses restorasi dilakukan oleh tenaga yang telah berpengalaman di bidang perbaikan barang antik sehingga kualitas produk yang dijual kepada konsumen juga terjamin. “Ketika baru dapat barang dari supplier biasanya ada beberapa yang perlu untuk diperbaiki juga. Namun kerusakannya hanya ringan, misalnya kalau yang berbahan besi perlu dilas lagi atau hanya sekedar dicat ulang agar tampilannya lebih menarik. Ya namanya juga barang bekas yang sudah termakan usia, jadi kerusakan ringan sudah biasa terjadi,” papar pria penghobi rokok lintingan tersebut.

    Hingga saat ini, konsumen Galeri Oma Vintage Store telah tersebar hingga berbagai kota besar di Indonesia, bahkan beberapa konsumen ada yang berasal dari mancanegara. Untuk pasar lokal, konsumennya didominasi oleh kafe-kafe dan studio foto. Sementara untuk segmen konsumen pribadi sebagian berasal dari Jabodetabek dan sekitarnya. Hal tersebut dapat dicapai karena gencarnya pemasaran produk Galeri Oma melalui online shop dan juga media sosial.

    Dari segi harga yang ditawarkan cukup beragam mengingat jenis barang yang dijual oleh showroom tersebut begitu banyak jenisnya. Untuk menentukan harga, Vera mengatakan bahwa hal tersebut agak sedikit rumit. “Karena kita harus menyesuaikan berapa modal awal kita membeli barang ini, dan berapa juga biayanya ketika barang ini sudah diperbaiki. Setelah itu, barulah kita bisa menentukan nilai jual dari barang tersebut,” jelas Vera.

    Harga barang yang bisa ditemukan pun berbagai macam. Mulai dari harga puluhan ribu untuk pernak-pernik berukuran kecil, untuk barang-barang seperti Poster Kayu Lukis dijual seharga 150 ribu, kemudian furnitur set antik ditawarkan mulai dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk barang yang dijual dengan harga paling mahal yaitu Radio dan sound system set antik seharga 10 juta rupiah. Untuk menjaga barang-barang di Galeri Oma agar tetap dalam kondisi yang baik, karyawan Galeri Oma pun rutin untuk membersihkan barang-barang tersebut. Perawatan pun dilakukan sesuai dengan jenis barang yang ada. “Untuk penggemar barang-barang antik sendiri memang ada komunitasnya, anggotanya juga cukup banyak. Biasanya mereka sering mengadakan pameran-pameran secara berkala, termasuk Galeri Oma juga sering mengikuti pameran tersebut. Selain untuk memperkenalkan produk dari galeri kami, juga sebagai ajang silaturahmi sesama penggiat barang antik dan menambah relasi juga,” pungkas Dimas. Farhan - red

    Galeri Oma Vintage Store
    Jalan Monjali No. 55,
    Gemawang, Mlati, Yogyakarta
    Whatsapp : 082189469979
    Ig : galerioma

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain