Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


DPD REI DIY Evaluasi & Inovasi 2018 Untuk Target 2019

    REI Expo Desember 2018
    Peserta pameran REI Expo, terdiri atas developer dan mitra perbankan
    Pameran REI Expo, 19-25 Desember 2018 di Atrium Plaza Ambarrukmo
    Ir. Rama Adyaksa Pradipta, Ketua DPD REI DIY

    DPD REI DIY kembali menghadirkan Pameran properti bertajuk REI EXPO 2018 yang digelar pada tanggal 19-25 Desember 2018 di Atrium Ambarrukmo Plaza. Dalam pameran tersebut masyarakat bisa menemukan beragam jenis properti mulai dari rumah, apartemen, perkantoran hingga niaga. Dengan jumlah proyek yang tersebar diseluruh indonesia, dan menghadirkan 34 pengembang properti terbaik anggota REI, baik pengembang lokal maupun skala nasional dan 4 perbankan pemerintah sebagai pendukung pameran.

    Pameran properti ini bertujuan sebagai jembatan penghubung antara seller dan buyer serta memberikan informasi agar lebih update tentang properti. REI EXPO 2018 diselenggarakan oleh DPD REI DIY didukung oleh PT. Mavindo Pratama sebagai kelanjutan dari bentuk kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan properti masyarakat luas.
    Seperti disampaikan Ir. Rama Adyaksa Pradipta, selaku Ketua DPD REI DIY saat pembukaan pameran, bahwa dengan meningkatnya keikutsertaan sejumlah pengembang pada pameran ini menunjukan prospek pasar properti Jogjakarta terbilang masih sangat potensial, walaupun banyak masyarakat yang menunda saat ini akibat suku bunga yang naik.

    Pertumbuhan properti akan terus menanjak seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi di masyarakat DIY. Menurut catatan BPS, pertumbuhan ekonomi DIY pada periode triwulan III tahun 2018 lalu mencapai angka 6,03 %, terbukti lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh di angka 5,17 % year on year.

    Menurut Rama, sapaan akrabnya, pelaksanaan pameran properti REI EXPO ini dinilai merupakan momentum yang tepat bagi para investor maupun pencari properti. “Pameran ini sudah berjalan 5 tahun atau sejak 2013 continue kami lakukan, dalam setahun kami gelar 2 kali pameran dengan skala besar. Kita semacam curi start untuk kejar target pemasaran tahun 2019, karena momentum akhir tahun menjadi waktu peak season di Jogjakarta. Karena musim liburan, dan kehadiran potensial buyer berupa wisatawan yg membanjiri kota istimewa ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian pembeli properti Jogja adalah mereka konsumen dari luar Jogja”.

    Pada kesempatan kali ini, pihak Real Estate Indonesia (REI) juga meluncurkan website resmi yaitu www.reijogja.or.id. Diharapkan masyarakat memanfaatkan kesempatan investasi properti di event ini untuk menemukan produk properti idaman yang nyaman dan aman. Menurut Rama, dengan website DPD REI DIY ini, mempunyai beberapa keunggulan, baik bagi anggota maupun masyarakat.

    Website ini khusus bagi anggota REI yang sudah mengantongi perijinan, yang sekaligus dapat menjadi filter pengaman untuk konsumen supaya tidak ragu terhadap sebuah pengembang yang bersangkutan. Sebagai follow up dari kegiatan pameran maupun gathering yang kami adakan. Dalam website ini seluruh anggota dapat memamerkan produknya secara virtual sepanjang waktu. Diharapkan website ini dapat menjadi platform 'market place' properti di Jogja yang khusus dikembangkan oleh REI DIY. Dalam penyajiannya website ini menggunakan pendekatan 'map basis approach' sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam pencarian lebih dari 88 lokasi properti yang difavoritkan dan dipilih pengunjung website, serta menyajikan profil dan daftar anggota REI DIY yang berjumlah 110 sebagai referensi. Dengan data tersebut, kami berharap bisa dimunculkan peluang kemitraan dengan perbankan serta memuat informasi secara update berita terkini tentang REI DIY.

    Untuk tahun 2019, Rama menyampaikan bahwa prospek bisnis properti Jogja ditahun politik 2019, masih landai pertumbuhannya dan ada kemungkinan cenderung stagnan dibanding 2018. “Kami masih optimis di tahun 2019, dan berharap kepada pihak pemerintah daerah terus mendukung potensi bisnis properti Jogja dengan berbagai kebijakan yang semakin jelas dan transparan. Contohnya pemerintah dan legislatif (seharusnya) menyiapkan Perda Tata Ruang yang detail dan spesifik. Untuk segmen pasar, segmen primadona masih di rumah dengan harga di kisaran 500 juta hingga 800 jutaan per unit.

    Perihal rumah murah bersubsidi, Rama juga memberikan penyataan, rumah subsidi di DIY jumlahnya tidak banyak, sekitar 200 unit pada tahun 2018. Bahwa masalah lahan menjadi kendala utama pengembangan rumah bersubsidi di daerahnya. Stok lahan yang makin terbatas menyebabkan harga tanah tidak memungkinkan lagi untuk dibangun rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). “Rata-rata harga tanah di Yogyakarta sekarang terendah itu Rp 500 ribu per meter persegi. Bahkan di Kulon Progo dan Gunung Kidul pun harga tanah sekarang sudah mahal. Ini jadi kendala serius,” ungkap Rama.

    Padahal berdasarkan data yang dimiliki DPD REI DIY, terdapat kekurangan pasokan (backlog) rumah secara kepemilikan sebesar 252 ribu unit dan secara hunian sebesar 88 ribu unit. Sebuah angka kebutuhan yang cukup besar dan perlu percepatan supaya dapat terpenuhi sehingga masyarakat dapat tinggal di rumah yang layak huni. Untuk itulah, REI DIY beserta pemerintah daerah dan stakeholder terkait telah membuat solusi baik untuk jangka pendek, maupun jangka menengah. Rencana jangka pendek yang akan dilakukan untuk mengurangi backlog adalah terus mencari lahan-lahan yang masih bisa untuk dibangun untuk rumah tapak atau landed house. Meski diakui Rama, lahan-lahan yang memungkinkan itu berada jauh di pinggiran kota dan juga konturnya pegunungan seperti Bantul dan Kulon Progo.

    ”Untuk program DPD REI DIY ditahun 2019 ini kami akan meningkatkan profesionalisme anggota dengan diklat, persiapan sertifikasi, dan kompetensi pengembang. Kami juga akan terus memacu pejualan produk properti anggota lewat pameran dan juga website. Kami juga berkomitmen terus menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah terutama terkait peraturan perundangan bagi properti dan mengupayakan terobosan penyediaan rumah bersubsidi di DIY. Konsepnya sudah dibicarakan dengan Pemda, dan mereka menyambut baik. Namun, belum bisa dimulai karena masih menunggu birokrasi yang belum selesai. Pembangunan hunian low rise ini akan sangat signifikan dalam mengatasi keterbatasan lahan. Targetnya, saat masyarakat sudah terbiasa dengan bangunan low rise, maka 5-10 tahun ke depan, masyarakat akan lebih mudah menerima konsep hunian highrise,” pungkas Rama. Wahyu Pras

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain