Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


DPD REI DIY Menjawab Tantangan Penyediaan Rumah Bersubsidi & Rumah Murah Terjangkau

    Ketua & Sekretaris DPD REI DIY,  Rama A. Pradipta & Ilham M. Nur

    Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) DIY, terus berusaha mengoptimalkan kinerja sesuai fungsi dan tugasnya sebagai salah satu asosiasi perusahaan berbasis bisnis properti. Tentu saja harus bersinergi dengan seluruh stakeholder, baik langsung dari pemerintah pusat yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Pemerintah Daerah/Kota setempat.

    Seperti disampaikan Ketua DPD REI DIY, masa bakti 2017 – 2020, Ir. Rama Adyaksa Pradipta, tantangan terbesar kami selaku asosiasi, kondisi backlog rumah tinggal murah, baik rumah murah bersubsidi maupun rumah komersil yang terjangkau. Lebih lanjut Rama mengatakan hingga saat ini pengembang yang menggarap segmen itu masih di bawah 10 %. Bahkan berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serapan rumah terjangkau di DIY tergolong paling kecil yakni 0,1 % pada pertengahan tahun 2017 lalu.

    "Selama ini sebagian besar pengembang masih banyak menggarap di segmen menengah atas, maka secara fungsi kami akan lebih banyak mendorong teman-teman pengembang untuk masuk segmen tersebut. Menurut Rama, harga tanah di Jogjakarta yang terus mengalami kenaikan membuat program rumah murah bersubsidi sulit direalisasikan. Untuk memenuhi rumah MBR, model landed batasannya maksimal 130 juta, demikian juga dengan vertikal housing dengan batasan harga 7 juta per meter persegi.

    "Jika tidak ada sinergi dan peran nyata dari pemerintah, baik pusat maupun daerah/kota, misalnya dengan menyediakan bank tanah (land banking), program subsidi, serta kemudahan regulasinya, akan terasa sulit sekali," lanjutnya. Penyediaan rumah bersubsidi ini, kata Rama, selain REI juga tengah diupayakan oleh Perumnas, Kemenpera, dan asosiasi lainnya. Dengan harapan mampu mengurangi angka backlog perumahan secara nasional dan meningkatkan kualitas hidup masyatakat. Meski di dukung oleh sejumlah instansi pemerintah dan swasta, Rama mengatakan supply rumah bersubsidi ini relatif masih sangat kecil.

    Setelah tiga tahun terakhir sangat sedikit supply rumah murah bersubsidi di Jogjakarta, pada tahun 2018 ini dipastikan sekitar 300 - 500 unit rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Tahun 2018 ini DPD REI DIY juga berusaha memenuhi target 3.500 - 4.000 unit rumah murah terjangkau, untuk mengurangi jumlah backlog rumah di Jogjakarta, dari jumlah tersebut segmen kelas menengah ke bawah adalah yang paling besar. Apalagi, dengan jumlah usia produktif di segmen menengah yang paling banyak, pengaruhnya terhadap upaya pemenuhan kebutuhan hidup paling mendasar, yakni perumahan juga meningkat,” jelasnya. Oleh karena itu, permintaan properti di segmen tersebut diperkirakan masih besar, khususnya rumah bersubsidi yang pasarnya didominasi oleh warga lokal. Dan karena konsumen di pasar ini merupakan golongan pekerja, pengaruh segmen itu terhadap pertumbuhan perekonomian juga besar. “Besarnya kebutuhan masyarakat di segmen yang mulai menggeliat tersebut harus diakomodasi melalui penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah,” lanjutnya.

    Sejauh ini, sudah terdapat 3 - 4 pengembang dari REI DIY yang menggarap rumah bersubsidi. Kawasan yang mereka bidik tersebar di sejumlah cluster diantaranya Wonocatur Banguntapan Bantul, Sindet Trimulyo Bantul, serta area Argorejo Sedayu di wilayah perbatasan antara Bantul dan Sleman. “Untuk rumah bersubsidi pengembang berburu kawasan pinggiran kota karena problem utama penyediaan rumah bersubsidi di Jogjakarta adalah sulitnya mencari lahan dengan harga yang realistis,” imbuh Ilham M. Nur, selaku Sekretaris DPD REI DIY.

    “Kami juga akan memaksimalkan penjualan rumah komersil terjangkau di pada 2018 karena pasar tersebut dinilai masih memiliki pangsa pasar yang besar dan potensial untuk diwujudkan di Jogjakarta. Kami akan terus mendorong pengembang anggota REI DIY untuk memaksimalkan segmen rumah komersil yang terjangkau di DIY. Pasar rumah terjangkau dengan kisaran harga 200 - 300 jutaan memiliki potensi besar di DIY, hanya saja belum tergarap secara optimal. "Supply dari pengembang memang belum banyak, namun dari sisi potensi pasarnya besar sekali," lanjutnya. Oleh sebab itu, yang paling memungkinkan dan realistis bisnis untuk digarap saat ini adalah segmen rumah komersial terjangkau. "Kami berharap dengan menggenjot rumah murah bisa membantu mendorong pertumbuhan penjualan rumah yang sejak 2015 masih smooth, dan di kisaran 1.000 hingga 1.500 unit rumah. Ini adalah satu strategi kami di tahun 2018 untuk menggairahkan pasar properti,” terang Ilham.

    Kami secara bertahap dan terencana akan terus membuat dan melaksanakan program kerja yang nyata, produktif, dan profesional. Program kami akan berusaha keras mengoptimalkan potensi geografis DIY serta para anggotanya, untuk semakin kreatif dan produktif dalam upaya menyediakan kebutuhan pokok rumah tinggal. “Di awal tahun 2018, kami sudah melakukan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) kepada seluruh anggota REI DIY, yakni melaksanakan Diklat Perpajakan. “Kami berharap dengan diklat-diklat tersebut, seluruh anggota akan semakin menguasai seluk beluk perpajakan properti, dan terhindar dari permasalahan perpajakan dari seluruh transaksi jual beli, baik dihulu sampai hilir,” lanjut Rama.

    Untuk menggairahkan pertumbuhan daya beli properti di Jogja, REI DIY ke depan akan aktif membuat agenda yang produktif, salah satunya secara continue mengadakan pameran properti, tentunya dengan menggandeng unsur perbankan, salah satunya dengan Bank Mandiri. “Yang paling dekat akan kami laksanakan ialah Pameran REI Expo tersebut akan kami adakan tanggal 11 - 16 April 2018 bertempat di atrium Plaza Ambarrukmo.

    Selanjutnya dibulan Mei 2018, kami juga akan melanjutkan program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Dalam Diklat tersebut kami akan mengulik, membahas, serta mencari solusi terhadap permasalahan yang kerap dihadapi pengembang, khususnya perihal pembangunan kawasan hunian berkonsep vertical building, baik rumah susun atau apartemen. Dalam Diklat tersebut, kami bekerjasama dengan perbankan yang menjadi pionner terhadap istilah KPR, yakni Bank BTN. Adapun tema Diklat tersebut ialah “Pelatihan Menjadi Developer yang Tangguh” dengan sub tema membahas “Strategi Perencanaan Pembangunan dan Pengelolaan Apartemen/Rumah Susun”. Dalam acara tersebut akan dihadirkan beberapa narasumber, yakni dari DPP REI (MR Priyanto, Andi Kusuma Natanael, Taufik Iman Santoso, Heri Sosiawan, dan Mualim Widjojo), Ciputra Group (Meiko Handoyo), PT. PP Properti, Tbk (Galih Saksono dan Taufik Hidayat), dan PT. Intiland Development (Budi Hermawan).

    Acara diklat tersebut sangatlah tepat momentumnya, seiring semakin banyak munculnya apartemen di beberapa titik di area Kotamadya Jogjakarta serta Kabupaten Sleman juga Kabupaten Bantul. Sehingga akan memberikan pencerahaan terhadap seluruh unsur yang sedang berhubungan dengan bisnis hunian vertikal dan meminimalisir kesalahan strategi maupun prosedur dalam proses pembangunan maupun pemasarannya. Terkait dengan pertumbuhan apartemen/rumah susun komersil di DIY, Rama memberikan pernyataan bahwa Hunian vertikal itu sudah keniscayaan bagi pemenuhan kebutuhan akan rumah tinggal, namun dalam pelaksanaannya harus sesuai koridor hukum yang menaungi sebuah kota/daerah. DPD REI DIY mendukung sepenuhnya prosedur, proses, dan policy pemerintah kota/kabupaten terkait perijinan hunian vertikal/rumah susun. “Kami juga meminta pengembang pemohon ijin, yang merupakan anggota REI DIY, untuk menunggu terbitnya perijinan sebelum memulai kegiatan pemasaran, tetap mendukung seluruh pengembang anggota DPD REI DIY yang memiliki pemikiran/konsep/visi pengembangan hunian vertikal di wilayah aglomerasi perkotaan DIY, mengharapkan agar proses perijinan terkait hunian vertical dapat segera dipercepat, serta kami siap untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mencari solusi menghadapi fenomena dan permasalahan perumahan dan permukiman di DIY,” pungkas Rama. Pras-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah