Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Efisiensi Pengembangan Bangunan Hunian Eksisting

    Rumah setelah pengembangan
    Rumah eksisting sebelum pengembangan
    Interior dapur,ruang makan lantai 1 dan interior master bedroom
    Area depan teras rumah eksisting dan lighting pada tangga
    Area taman samping dan area selasar penghubung

    Bangunan hunian merupakan jenis desain bangunan yang memiliki keterikatan personal dengan pemilik sehingga pada perencanaan bangunan hunian, aspek perspektif pemilik hunian dalam melihat sebuah kebutuhan ruang menjadi titik mulai dalam proses perencanaan dan pengembangan bangunan hunian. Beberapa faktor yang membuat pemilik tetap nyaman tinggal di dalam bangunan hunian yang telah lama berdiri yaitu lokasi lingkungan yang sudah menjadi kebiasaan sehingga menimbulkan rasa kepemilikan, lalu hal yang juga penting adalah aspek historis, dimana setiap bangunan yang dihuni memiliki memori tersendiri bagi pemilik hunian dimana terjadi momen khas secara personal.
    Tipikal bangunan hunian pada era 90 an, memiliki taman yang cukup luas sehingga saat ini bangunan tersebut bisa dikembangkan dengan konsep rumah tumbuh.

    Langkah – langkah untuk melakukan pengembangan pada bangunan eksisting :
    1. Menganalisasi elemen struktur dan dekoratif bangunan eksisting
    Menganalisa struktur eksisting bangunan, merupakan langkah untuk memastikan bahwa proses pengembangan bangunan tidak mengurangi kekuatan struktur bangunan eksisting.
    Citra fasad sebuah bangunan dipengaruhi oleh bentuk elemen struktur dan dekoratif yang melekat pada sisi eksterior. Pada saat ingin memberikan tema citra minimalis moderen pada fasad bangunan, maka hal yang paling efisien untuk melakukan perubahan adalah mengganti/ menghilangkan elemen dekoratif yang tidak diperlukan.

    2. Menyusun kebutuhan ruang pada bangunan tambahan
    Pengembangan bangunan tambahan dapat diterapkan pada sisa lahan yang masih tersedia sehingga pada proses konstruksi, aktifitas pada bangunan eksisting masih dapat berjalan. Penyusunan program di dalam bangunan tambahan harus disusun secara secara compact sehingga tetap dapat menyisakan area terbuka untuk sirkulasi udara, pandangan dan pembatas antara bangunan eksisting yang baru.

    3. Menyeleraskan tampak bangunan eksisting dan tambahan
    Pembentukan citra bangunan baru diharapkan dapat terjalin dengan baik pada bangunan eksisting sehingga membentuk kesatuan yang harmonis. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan elemen detail dekoratif yang sama pada kedua sisi bangunan sehingga memiliki kesinambungan dalam desain.

    Studi Kasus
    Sebuah bangunan eksisting yang berlokasi di area Jl Kartini, Bandar Lampung. Bangunan eksisting berdiri pada tahun 1990 an dengan citra fasad eklektik pada zamannya, lalu pada tahun 2016 pemilik berkeinginan untuk mendirikan bangunan rumah baru pada taman samping rumah dan mengubah citra fasad menjadi lebih modern. Pendirian bangunan rumah baru diharapkan dapat terlihat menjadi kesatuan, tidak terlihat jenis massa bangunan yang berbeda.

    Sisi bangunan eksisting yang menghadap bangunan rumah baru diubah searah dengan citra fasad bangunan baru sehingga penghuni didalam merasa massa bangunan yang berada disebrangnya adalah kesatuan lingkungan.
    Area terbuka (void) sebagai penghubung antara 2 massa bangunan yang memberikan penghawaan dan cahaya alami ke dalam rumah. Peletakan kolam di void memberikan efek sejuk dan terang di ruangan sekitarnya tanpa menggunakan lampu. Rumah yang memiliki void biasanya terasa lebih luas/lapang secara visual.

    Nuansa pada hunian ini sengaja dibuat dengan menggunakan warna-warna yang mengarah ke arah natural. Seperti penggunaan elemen kayu pada facade bangunan, warna putih pada cat, dan warna abu-abu pada concrete. Pada bagian teras bangunan, diberikan dry garden agar tetap ada penghijauan tetapi minim perawatan.

    Pada lantai atas, void berfungsi untuk menerangi ruangan yang berada di sekitarnya dan memberikan sirkulasi udara alami masuk ke ruangan.
    Teknik pencahayaan di area tangga menggunakan konsep pole light, selain untuk penerangan pada area tangga, bentuk alami kayu dapat terlihat jelas dan dapat menimbulkan kesan yang dramatis pada area tangga.
    Selasar ini menghubungkan 2 massa bangunan dengan penggunaan material kaca sebagai kanopi untuk menghadirkan cahaya pada ruangan di bawahnya serta untuk mendapatkan pandangan yang luas ke arah void.

    Kesan estetis yang nyaman pada ruang bisa muncul dengan penekanan pada bidang atau titik tertentu dalam suatu ruang yang sering disebut dengan aksen, aksen diciptakan melalui pemberian warna atau corak yang berbeda pada elemen horizontal ataupun vertikal. Dalam bangunan ini aksennya menggunakan tegel kunci untuk menjadikan sebuah ruangan yang memiliki daya tarik keindahan tersendiri (point of interest) dan meningkatkan nilai estetis pada ruangan. Amata Desain

    Amata Desain
    Jl. Jlagran Lor No. 5, Yogyakarta 55272
    Info : 081220950015
    Email : amatadesain@gmail.com
    website : www.amatadesain.com

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah