Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Kolaborasi Hakiki Elemen Alam OLAHAN WAROENG TEDOEH

    Konsep rumah batu berpadu nuansa alam & pernak-pernik lawas
    Area makan outdoor bernuansa alami
    Dominasi unsur batu di segala sudut resto
    Furnitur kayu & tegel motif lengkapi nuansa vintage
    Aneka menu hidangan Waroeng Teduh

    Bisnis kuliner di kawasan Yogyakarta semakin semarak dengan hadirnya berbagai macam resto maupun kafe yang menawarkan berbagai variasi konsep bangunan maupun menu hidangan yang menarik. Persaingan di dunia kuliner khususnya di kota Jogja menuntut inovasi para pelakunya untuk menghadirkan konsep yang berbeda, unik, serta segar untuk dapat diterima oleh berbagai kalangan terutama segmen anak muda dan keluarga yang menjadi salah satu segmentasi pasar paling potensial saat ini. Tak hanya menu yang menarik, namun penataan tempat yang nyaman dan mampu menghadirkan nuansa berbeda.

    Pepohonan nan hijau mampu membuat kesegaran dan kesejukan di dalam maupun di luar ruangan. Melalui pohon yang rindang pengunjung akan terbawa suasana yang nyaman dan tenang. Selain dari segi pepohonan rindang yang akan mempengaruhi ambience tempat, penataan ruang dan penataan material lainnya juga membawa dampak yang besar bagi penikmatnya. Membangun rumah makan yang menarik juga tidak terlepas dari konsep yang jelas dari sang pemilik. Sebab tanpa konsep yang menunjang serta material yang memadai, sebuah resto yang dapat menarik pengunjung untuk datang akan terwujud.

    Sebuah resto dengan perpaduan konsep tempat yang menarik dengan pilihan menu makanan tradisional nan beragam hadir di kawasan Jogja Selatan bernama Waroeng Tedoeh, tepatnya di Jalan Makam Sukma Sinukarta, Sambikerep, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Waroeng Tedoeh adalah titik temu antara alam dan kebudayaan yang klasik. Dengan lokasinya yang masih asri dan berada di tepian lembah, tempat makan tersebut dikonsep sebagai paduan antara ketenangan serta kenikmatan. Konsep tempat seperti itu berawal dari lokasi resto yang berada di daerah perbukitan yang cukup curam dengan banyaknya pepohonan besar yang tumbuh di sekitarnya. “Dulunya sekitar tahun 2015, kebetulan ayah saya mendapatkan lokasi ini masih berupa hutan dengan pohon-pohon besar yang rimbun. Lokasinya seperti tidak terawat dan digunakan warga sekitar sebagai tempat pembuangan sampah. Namun di sisi lain, ayah saya yang kebetulan juga hobi dengan bangunan-bangunan klasik melihat potensi tempat ini apabila dikonsep dengan baik karena view pegunungan di sekitarnya yang begitu menawan,” ujar Candra Ratna Gupita, owner Waroeng Tedoeh.

    Nampak sekilas dari jalan utama, resto yang mulai beroperasi sejak bulan Desember 2019 tersebut terlihat tidak begitu luas karena bangunan utamanya yang berada menjorok agak ke bawah. Pada bagian bawah juga terdapat area parkir kendaraan yang cukup luas dengan pepohonan rindang, menghadirkan nuansa sejuk di area tersebut. Banyaknya pepohonan asli yang sengaja dipertahankan keberadaannya juga menjadi simbol sekaligus dasar penamaan resto Waroeng Tedoeh. “Dari awal pembangunan resto ini, kami sengaja mempertahankan pohon-pohon asli yang sudah ada di sini. Kebetulan ayah juga sangat hobi dengan pohon-pohon besar seperti ini. Jika diibaratkan mereka (pepohonan –red) ini sudah ada di sini bahkan sebelum resto ini dibangun, jadi kami ingin mempertahankan apa yg ada di sini sebelumnya. Atas dasar hal tersebut juga yang menjadi alasan penamaan Waroeng Tedoeh, karena lokasinya yang begitu teduh oleh pepohonan walaupun ketika siang hari sekalipun,” tambah Candra, sapaan akrabnya.

    Beralih dari area parkir kendaraan, terdapat sebuah pintu masuk dengan lorong yang didominasi material batu alam nan eksotis. Setelah memasuki area dalam Waroeng Tedoeh, tamu akan diberikan pilihan untuk menikmati makanan di area luar ruangan (outdoor) atau di dalam bangunan-bangunan dengan desain yang cukup unik. Bangunan dalam resto tersebut cukup unik dimana material berasal dari batuan kapur dan batuan putih yang didapatkan dari kawasan sekitar resto sebagai dindingnya.

    Material batu alam tersebut tampil cantik dengan perpaduan kayu dan besi lawasan koleksi dari owner. Karena konsep yang diusung oleh Waroeng Tedoeh sendiri lebih ke alam, maka untuk penggunaan furniture mengaplikasikan konsep klasik yang merupakan paduan yang serasi dengan konsep alam yang diusung. Furniture yang diaplikasikan lebih banyak menggunakan unsur batu dan kayu dengan desain yang unik, misalnya meja makan kayu dimana kaki meja mengaplikasikan bekas mesin jahit, serta wastafel batu yang mengaplikasikan bekas pompa air lawasan dimana memberikan pengalaman berbeda terutama bagi generasi milenial sekarang. Konsep bangunannya pun juga dibilang mengikuti konsep alam yang diusung, yakni bangunan dengan dinding batu kapur dengan mempertahankan kontur tanah yang ada.

    Area outdoor resto yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 3500 m² tersebut, tamu dapat menikmati makanan di bawah pepohonan seperti pohon kamboja, pohon pandan laut, pohon kelapa, hingga pohon mojo. Area indoor disajikan dalam bentuk seperti rumah panggung serta rumah batu dengan view pegunungan nan menawan. Selain beberapa bangunan tersebut, Waroeng Tedoeh juga menyediakan sebuah bangunan dengan konsep batu alam yang difungsikan sebagai meeting room, arisan, ulang tahun atau acara pertemuan lainnya. “Kebanyakan pengunjung yang datang ke Waroeng Tedoeh berasal dari segmen dari keluarga, instansi maupun perseorangan, terkadang ada juga tamu yang menyewa tempat untuk acara-acara pertemuan seperti arisan, ulang tahun, dan yang lainnya,” tambah Candra.

    Resto yang buka setiap hari, kecuali hari raya Muslim mulai pukul 09.00 hingga 21.00 tersebut menyediakan menu makanan yang menarik dan terbilang jarang ditemui di resto lain. Menu Ingkung Tenong merupakan menu andalan dari Waroeng Tedoeh. Makanan yang terbilang cukup langka ini menjadi menu favorit sekaligus menu yang paling banyak dicari para tamu baik dari luar Jogja maupun masyarakat Jogja sendiri. Makanan tradisional Jawa ini biasanya hanya disajikan dalam sebuah acara tertentu, seperti merti desa atau kendurian. “Menu makanan Ingkung Tenong sendiri merupakan menu kreasi dapur kami sendiri, pemilihan menu juga sebagai sarana untuk melestarikan masakan tradisional Jawa yang semakin hari semakin menghilang dari peredaran,” tutur Candra.

    Untuk harga yang dipatok untuk menu makanan di Waroeng Tedoeh juga terbilang reasonable, yakni tamu cukup membayar seharga 140 ribu untuk sepaket menu Ingkung Tenong. Harga tersebut tamu sudah dapat menikmati satu ekor ayam kampung Jawa lengkap dengan nasi gurih, lauk pauk, sambal beserta lalapan. Dalam penyajiannya pun cukup menarik, yakni makanan tersebut ditaruh di tempat bernama tenongan yang terbuat dari anyaman bambu dengan bentuk bulat, menghadirkan nuansa klasik nan kental. Soal rasa juga terjamin, karena untuk orang yang memasak ingkung sengaja memilih masyarakat asli Jawa yang benar-benar mengetahui proses memasak ingkung. “Bumbu yang kami pakai bumbu gurih, dan proses memasak ingkung pun terbilang cukup lama yakni sekitar 2 jam, jadi bumbu benar-benar meresap ke dalam ingkung,” imbuh Candra.

    Setelah menyatap menu-menu berat di atas, menu minuman sebagai pencair suasana yang disediakan pun cukup menggiurkan. Menu-menu minuman tradisional yang ditawarkan seperti es gula asem kencur, es legen/badek, wedang uwuh, es dawet, hingga es cincau mampu membayar dahaga. Minuman tradisional es cincau yang diambil dari sari daun cincau ini mampu menyegarkan tenggorokan. Selain es cincau tamu juga dapat menikmati es gula asem kencur dengan citarasa nan menyegarkan. Perpaduan kencur dengan asem beserta gula jawa ini dapat menghasilkan rasa yang segar dan tentunya lebih sehat. Wedang uwuh yang merupakan wedang tradisional Jawa ini juga dapat menghangatkan badan, dengan bahan rempah-rempah tradisional. Farhan-red

    Waroeng Tedoeh

    Jl. Makam Sukma Sinukarta,
    Sambikerep, Bangunjiwo,
    Kasihan, Bantul,
    Yogyakarta
    Whatsapp : 0822 2406 4446
    IG : waroeng_tedoeh

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain