Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Memuaskan Jiwa & Raga Dalam Atmosfer Majapahit Ala Jiwangga Resto

    Jiwangga Resto
    Meja kursi kuno pada area depan & Landscape dengan nuansa Bali
    Nuansa pedesaan Bali dihadirkan pada sisi area terakota
    Konsep area Taman Sari dengan unsur air mendominasi
    Aneka menu Jiwangga Resto

    Saat para generasi 'jaman now' tengah berlomba-lomba memenuhi feed foto sosial media mereka dengan foto berkonsep futuristik, alam, serta outfit of the day, Jiwangga Resto hadir dengan konsep yang justru kembali kepada jaman kerajaan. Seolah hadir menjadi pembeda pada eranya, resto yang terletak di Jalan Terbaik No. 1 Bromonilan, Purwomartani, Kalasan, Sleman ini menawarkan nuansa khas kerajaan Majapahit kuno. “Kebetulan Suami memang sangat mengagumi kerajaan Majapahit kuno, semua furnitur lawas hingga barang-barang kuno yang ada disini merupakan koleksi pribadi suami saya,” ujar Rosalya Sri Wulandari, owner resto ini.

    Menempati tanah pribadi pemilik seluas kurang lebih satu hektar ini, Jiwangga Resto memberikan pemandangan yang sangat kental dengan budaya Hindu yang memang dianut oleh kerajaan Majapahit kuno saat itu. Dengan bangunan didominasi oleh bata merah ekspos, bertingkat dari atas menurun ke bawah dengan beberapa pohon dengan daun yang rindang dan dibatasi sungai dan sawah di pinggir resto ini menambah khas suasana kerajaan kala itu. Bangunan pendopo dan segala furnitur yang digunakan pun sangat kental dengan alam, kayu lawas akan banyak ditemui sebagai material meja kursi yang disediakan untuk tamu resto. Dengan desain yang sangat kuno membuat lokasi ini sangat cocok untuk pengunjung yang ingin berfoto dengan nuansa kerajaan kuno.

    Jiwangga Resto akhir-akhir ini namanya cukup mencuat karena kekhasan dari arsitektur bangunan yang mengambil miniatur bangunan di masa kerajaan Majapahit. Jika kita masuk di kawasan Jiwangga Resto maka seolah-olah mesin waktu berjalan pada saat kita menginjakkan kaki di halaman resto ini, kita akan diajak kembali ke jaman keemasan kerajaan Majapahit yang sangat tersohor dengan arsitekturnya yang sangat elok. Jiwangga Resto dibangun di tepi sungai Kuning dengan bangunan dan arsitektur yang sangat kental dengan model bangunan dan kerajaan jaman Majapahit, ornamen dan sisi letak bangunan terbilang sangat indah. Bahkan tidak sedikit pula tamu yang berasal dari luar kota datang dan sekedar makan siang serta mengambil gambar dengan latar bangunan di resto ini yang kemudian mereka share melalui sosial media. “Justru kebanyakan tamu kita dari luar kota, lalu fotonya ketika di sini mereka share dan temannya yang di Jogja baru mengetahui dari foto tersebut dan akhirnya ke sini,” tutur Wulan.

    Terdapat 4 lokasi yang disediakan dengan konsep berbeda, pertama yakni pendopo yang berada di bagian depan resto, kemudian terakota atau taman yang berada di bawah pendopo dan 2 bagian lain berada di ujung Timur resto yang mulai beroperasi sejak Maret 2017 ini. Area pertama yang sering disebut sebagai Pendopo Kraton Jiwangga, yaitu berupa bangunan joglo kuno ala kraton yang nampak begitu megah dan terletak di area paling tinggi resto tersebut. Lengkap dengan beberapa ornamen yang terbuat dari ukiran kayu, semakin menghadirkan nuansa khas dari kerajaan Majapahit kuno di area ini. Berbagai macam barang-barang antik koleksi pemilik resto terutama yang berbahan kayu begitu mendominasi setiap sudut area pendopo tersebut. Dengan luasan yang cukup besar, area pendopo juga cocok dijadikan tempat untuk gathering maupun acara-acara yang menghadirkan cukup banyak orang. Sebuah patung batu khas Hindu yang berada di ujung area taman pendopo, berada di antara tanaman-tanaman hias semakin menambah nuansa yang diusung resto ini.

    Area berikutnya yang juga tidak kalah menarik yaitu area terakota atau taman yang letaknya tepat di bawah pendopo. Mempunyai berbagai spot yang dapat dipilih oleh pengunjung, area ini memiliki nuansa layaknya sebuah pedesaan tradisional yang ada di pulau Dewata. Dengan ornamen-ornamen dinding gapura dengan bata ekspos di segala sisinya, bangunan tradisional dan juga rumah adat lengkap dengan kontur area yang cenderung naik turun tentu saja akan memberikan kesan tenang dan asri seperti berada di sebuah desa tradisional kepada setiap pengunjung yang datang. Hal tersebut sejalan dengan tagline yang diusung Jiwangga Resto yaitu 'tempat makan jiwa dan raga'. “Memang pada dasarnya kami ingin menyajikan sebuah resto yang bukan sekedar dapat memuaskan rasa haus dan lapar tubuh (raga) saja, namun juga dapat memberikan asupan bagi pikiran dan hati (jiwa) setiap pengunjung yang datang dengan nuansa dan ketenangan yang ada di Jiwangga Resto ini,” tutur Wulan.

    Melangkah lebih ke area bawah resto, terdapat sebuah spot outdoor yang letaknya berbatasan langsung dengan aliran sungai Kuning. Meja dan kursi makan pengunjung sengaja ditata sedemikian rupa, bahkan hingga bibir sungai sehingga memberikan pengalaman menikmati hidangan dengan suasana tepi sungai dan view yang begitu alami. Tepat diujung area tersebut terdapat sebuah replika candi yang megah dengan ukuran yang menyerupai candi yang ada di situs peninggalan dunia Candi Borobudur.

    Tidak jauh dari area candi, terdapat sebuah area dengan konsep mata air yang disebut area Taman Sari. Dengan letaknya yang berada paling ujung dan setting tempat yang sarat akan unsur air ini menjadikan nuansanya begitu tenang dengan suara gemericik air yang dihasilkan oleh mata air alami yang muncul di area ini. “Dari dulu memang di sini sudah ada dua mata air alami yang keluar, kami biasa menyebutnya dengan sendang Kawijayan dan Kamulyan. Dengan adanya mata air tersebut juga yang menjadi dasar kita mendesain area ini layaknya Taman Sari yang ada di Kraton, lengkap dengan spot-spot yang dihubungkan dengan jembatan kecil dengan kolam dan air terjun kecil yang selanjutnya aliran dari mata air tersebut langsung mengalir ke sungai Kuning,” ungkap Wulan.

    Dengan menu tradisional dan masakan rumahan, resto yang beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 (last order pukul 20.00) ini seolah memperkuat kesan klasik dan kembali pada era kerajaan jaman dahulu. Harga menu yang ditawarkan juga bisa dibilang terjangkau dengan rentang harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 100.000. Menu andalan yang dimiliki Jiwangga Resto dan wajib dicoba diantaranya Bubur Rempah Jiwangga dengan kuah hitamnya yang bercita rasa khas. Ada juga Tahu Gimbal khas kota Semarang dan juga Nasi Langgi yang tentu saja sayang untuk dilewatkan. Untuk menu minuman, Jiwangga Resto menawarkan beberapa minuman tradisional yang menjadi favorit pengunjung, seperti Wedang Rempah yang sarat akan bahan-bahan alami yang menyehatkan. Beberapa menu kopi dan minuman lain juga dapat menjadi pilihan saat berkunjung ke resto ini.

    Jiwangga resto juga melayani sewa lokasi baik sebagian maupun seluruhnya untuk berbagai acara, seperti acara pernikahan maupun foto pre-wedding, gathering, dan event lainnya. “Kalau untuk reservasi tempat di Jiwangga untuk berbagai acara bisa langsung menghubungi Customer Relations Jiwangga. Beberapa kali juga lokasi resto ini dipakai untuk shooting film dan juga video clip,” pungkas Wulan. Farhan-red

    Jiwangga Resto
    Jalan Terbaik No. 1, Bromonilan,
    Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
    Telp. : 085647440414
    Email: jiwanggaresto@gmail.com
    Facebook : jiwanggaresto
    Instagram : jiwanggaresto_

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah