Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Mencicipi Menu Kenduri dalam Balutan Rimbun, Kandang Ingkung

    Kandang Ingkung
    Nuansa alam yang kental dengan unsur kayu dan batu
    Tempat makan outdoor
    Area panahan pada belakang resto
    Aneka Menu Kandang Ingkung

    Selain terkenal sebagai kota pelajar, Malioboro, Alun-alun, dan pasar Beringharjonya, Yogyakarta yang kaya akan tradisi dan budayanya juga mampu menempatkan diri sebagai kota tujuan wisata yang begitu diminati, baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Destinasi wisata kota tersebut tak hanya terbatas pada kota madya Jogja saja, namun semua wilayah Jogjakarta yang terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota madya tersebut juga memiliki daya tariknya masing masing. Bicara Daerah Istimewa Yogyakarta, selain adat dan budayanya yang masih kental, tidak afdol rasanya apabila tidak berbicara tentang berbagai kuliner khas. Biasanya, wisatawan mencari gudeg atau oleh-oleh khas Jogja seperti bakpia. Padahal, Jogja memiliki banyak pilihan kuliner yang tidak kalah nikmat bila dibandingkan dengan gudeg.

    Berwisata kuliner di Yogyakarta memang lebih asyik kalau disertai dengan perburuan kuliner yang masih tradisional atau ndeso, apalagi yang sudah mulai jarang dijumpai. Meskipun kerap kali lokasinya agak jauh dari pusat kota Yogyakarta, namun ada kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan kuliner langka yang enak dan belum diketahui banyak orang. Bagi yang ingin bernostalgia dengan menu kenduri zaman dulu, mungkin akan tertarik dengan masakan ingkung ayam yang belakangan kembali digemari. Di daerah sisi Barat Daya kabupaten Sleman terdapat sebuah tempat yang menawarkan kuliner klasik ini beserta suasana khas pedesaan yang bersahaja.

    Salah satu tempat yang menjual menu tradisional ini yaitu Kandang Ingkung Resto & Kopi yang berlokasi di Dusun Jlitengan RT 01 RW 27, Balecatur, Gamping, Sleman. Jaraknya kira-kira 10 kilometer ke arah Barat dari pusat kota Yogyakarta. Lokasi cukup dekat dengan BMKG DIY, berada di perbukitan yang masih asri dengan suasana yang ndeso dan sejuk. Kesan pertama saat masuk ke lokasi ini seperti berada di sebuah kampung dengan bangunan hampir semua terbuka dari bahan kayu dan bambu. Masih banyak pohon tinggi dan rimbun. Pada depan jalan terpampang papan nama yang cukup jelas “Kandang Ingkung” berwarna merah. Tempat parkir yang cukup luas dan memadai dapat menampung hingga sekitar 10 mobil.

    Adalah Dwi Puguh Pranowo, owner dari Kandang Ingkung Resto & Kopi yang terinspirasi untuk melestarikan salah satu hidangan tradisional tersebut yang akhir-akhir ini mulai sulit untuk ditemui. “Mengenai nama Kandang Ingkung sendiri karena memang bangunan resto ini menggunakan beberapa bekas kandang sapi yang saya dapatkan dari kampung sekitar sini. Kan selama ini masyarakat mengenal kandang sebagai tempat untuk memelihara hewan, nah di sini kandang digunakan sebagai tempat makan. Selain kandangnya, saya juga menggunakan bekas gerobak sapi yang berada di area depan resto sebagai tempat makan dengan nuansa yang cukup unik,” ungkap pria yang akrab disapa Puguh tersebut.

    Memasuki area resto yang berdiri di atas lahan seluas ±3500 m² tersebut, suasana sejuk dan tenang langsung begitu terasa. Perpaduan antara bangunan-bangunan resto yang sengaja dibuat terbuka tanpa dinding dan rimbunnya pepohonan di sekitar akan membuat siapapun betah untuk berlama-lama di tempat ini. “Memang dulu awalnya area resto ini adalah hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. Pada saat mulai membangun resto ini saya berusaha untuk tetap mempertahankan pohon-pohon yang sudah ada agar jangan sampai ditebang, agar nantinya nuansa natural dan sejuknya tetap ada. Ya mau tidak mau bangunannya yang harus menyesuaikan letaknya diantara pepohonan tersebut hingga jadinya seperti sekarang ini,” ucap Puguh.

    Di area depan resto, tepatnya di sebelah papan nama “Kandang Ingkung” terdapat sebuah gerobak sapi yang cukup ikonik. Bukan hanya sebagai dekorasi, namun rupanya pemilik juga sengaja menggunakan bekas gerobak tersebut sebagai area makan yang dapat dipakai oleh pengunjung. Pada atas gerobak terdapat sebuah meja dan kursi kayu sebagai tempat makan yang memberikan kesan menikmati hidangan di atas gerobak sapi. Terdapat beberapa bangunan utama resto berupa limasan kayu. Bangunan pertama berada tepat di depan area dapur. Bangunan limasan kayu yang cukup luas dengan furnitur meja dan kursi makan di dominasi unsur kayu menampilkan nuansa etnik yang cukup kental. Satu hal yang cukup unik yaitu sebagian besar meja dan kursi makan di area ini terbuat dari kayu-kayu bekas kandang yang telah dibongkar, sehingga gurat-gurat kayu dan juga bekas lubang yang ada pada kayu tersebut justru memberikan sentuhan unik pada furnitur. Pada area limasan depan tersebut dapat menampung hingga 50 orang sehingga sering digunakan untuk meeting maupun arisan.

    Masuk menuju area dapur resto yang mulai beroperasi sejak bulan November 2017 yang lalu tersebut terdapat hal cukup menarik bagi pengunjung. Terdapat sebuah tungku batu tradisional berbahan bakar kayu lengkap dengan beberapa ceret di atasnya serta beberapa pilihan jenis kopi dan gula. Selain itu juga terpampang tulisan “Minum sepuasnya, bayar seikhlasnya” pada sebuah kotak kayu. “Untuk menu kopi memang kami tidak mematok harga, pengunjung dapat membayar seikhlasnya saja. Terdapat dua jenis kopi gayo dan kopi lampung. Dapat disajikan original atau diseduh dengan air jahe dan dicampur dengan bubuk kapulaga yang berkhasiat menghangatkan badan. Dengan suasana dapur tradisional, area ini cukup banyak diminati pengunjung untuk berfoto juga,” papar Puguh.

    Melangkah memasuki area lebih dalam resto, terdapat sebuah bangunan utama dengan luasan yang sedikit lebih besar dibandingkan bangunan limasan di area depan. Pada area limasan belakang tersebut menghadirkan nuansa lesehan pada tempat makannya serta nuansa yang lebih tertutup karena letaknya yang berada paling belakang. Bagi pengunjung yang telah memesan menu ingkung, Kandang Ingkung Resto & Kopi menyediakan fasilitas kegiatan unik yang dapat dilakukan pengunjung sembari menunggu hidangan datang, yaitu kegiatan Panahan atau yang dalam bahasa Jawa disebut Jemparingan. Dengan target sasaran yang berjarak ±25 meter, pengunjung dapat melatih ketepatan serta konsentrasinya dengan kegiatan tersebut. “Selain ingin menghadirkan fasilitas yang jarang ditemukan, hal ini juga sekaligus melestarikan budaya tradisional yang mulai tergerus perkembangan jaman. Selain itu juga sebagai upaya meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, dimana memanah merupakan salah satu kegiatan kesukaan beliau,” tutur pria yang juga mempunyai usaha guesthouse tersebut.

    Dari sisi menu makanan yang disuguhkan, resto ini menyediakan citarasa menu hidangan ingkung yang begitu menggugah selera. Terdapat dua buah pilihan hidangan ingkung, yakni Ingkung Original dan Ingkung Goreng. Sajian paket ingkung tersebut disajikan di atas sebuah tampah bambu dengan pelengkap berupa oseng jantung pisang, oseng daun pepaya, dan nasi gurih lengkap dengan sambal kosek yang memberikan sensasi pedas pada dominasi rasah gurih dari ingkung tersebut. Tekstur daging ayam ingkung yang empuk dan bumbu yang meresap hingga ke tulang akan membuat siapapun ketagihan untuk kembali lagi. “Rahasia citarasa ingkung kami memang berasal dari proses memasak yang memakan waktu lama serta pemilihan ayam kampungnya, tidak sembarang ayam yang kami olah. Hal itu kami lakukan semata-mata untuk menjaga kualitas dan rasa dari hidangan kami agar pengunjung yang datang ke sini puas dan kembali lagi suatu saat,” pungkas Puguh. Farhan-red

    Kandang Ingkung
    Dusun Jlitengan RT 01, RW 27,
    Balecatur, Gamping, Sleman
    Telp. 081329864579
    www.kandangingkungresto.com
    ig : kandangingkung

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah