Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Mengenal Suku Bunga Acuan Serta Berbagai Jenis Suku Bunga KPR

    Jenis suku bunga KPR
    Jenis suku bunga KPR_2

    Setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, sejumlah bank sedang melakukan evaluasi terhadap suku bunga simpanan dan kredit mereka. Saat bank sedang dalam masa transisi tersebut, masyarakat dinilai perlu untuk segera mengambil kredit pemilikan rumah (KPR). Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) hingga 50 bps (basis points) dinilai akan berdampak kepada kenaikan suku bunga kredit yang ada di perbankan. Saat ini bank-bank mulai menyesuaikan suku bunga dari sisi funding terutama produk deposito.

    Dengan kenaikan bunga deposito artinya bank harus memberikan imbal bunga lebih tinggi terhadap nasabah. Dengan status sebagai lembaga bisnis, tentu bank juga memerlukan pendapatan terutama dari penyaluran kredit. Saat ini suku bunga kredit di Indonesia mulai menyesuaikan kondisi ini. Salah satu suku bunga yang menyesuaikan perubahan tersebut yaitu KPR. Efeknya setelah BI menaikkan suku bunga acuannya beberapa waktu lalu, beberapa perbankan sudah menaikkan suku bunga KPR, saat ini, rata-rata suku bunga KPR perseroan di angka 7 - 8 %.

    KPR sendiri menjadi salah satu suku bunga yang cukup sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan. Ketika suku bunga acuan naik, besar kemungkinan bank pun akan menyesuaikan suku bunga KPR terutama non-subsidi. Misalnya di tahun 2013, ketika BI menaikkan suku bunga acuan hingga 3 kali, perbankan merespon dengan ikut menaikkan suku bunga KPR. Pada tahun tersebut suku bunga KPR yang awalnya berada di rata-rata 7%, meningkat ke rentang 8 - 9%. Sementara suku bunga floating juga ikut naik ke rentang 12 - 13% setelah sebelumnya berada di rentang 9 - 10%.

    Melihat fenomena ini, bagi calon konsumen yang berencana mencicil rumah, minimal harus paham bunga KPR di tahun 2018 ini mana yang bunganya yang dirasa paling ringan. Bunga KPR ini berbeda sama bunga yang lain, misalnya bunga waktu mencicil kendaraan. Meski ada jenis suku bunga fix (tetap) atau cap (kenaikannya gak melebihi beberapa persen yang ditentukan), pada akhirnya bunga itu bakal jadi float (mengambang) mengikuti suku bunga dasar kredit (SBDK) di tahun tertentu.
    Apa saja yang mesti diperhatikan sebelum mengambil KPR? Salah satunya adalah soal bunga. Ini penting, soalnya berdampak buat besarnya cicilan KPR. Ada beberapa jenis-jenis bunga KPR yang ditawarkan beberapa perbankan.

    Suku Bunga Fixed
    Fixed rate atau bunga fixed atau bunga tetap artinya bank mengenakan suku bunga yang sama untuk KPR kamu selama masa pinjaman. Jenis bunga ini tidak terpengaruh sama besarnya suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI-7 Days Repo Rate). Misalnya bunga KPR ditentukan 7 % diawal pinjaman, apabila kemudian suku bunga BI naik menjadi 10 %, bunga cicilan KPR yang harus dibayarkan bakal tetap 7 %, dan begitu pula saat suku bunga BI turun jadi 6 %, bunga cicilan KPR juga akan tetap 7 %. Namun pada kenyataannya, pihak perbankan biasanya cuma memberlakukan bunga ringan saat masa awal pinjaman, misalnya tiga atau lima tahun. Untuk sisa masa pinjaman, konsumen akan dikenakan suku bunga floating.

    Suku Bunga Floating
    Floating rate atau bunga mengambang artinya bunga pinjaman nasabah akan mengikuti besarnya suku bunga acuan. Dan untuk suku bunga acuannya ini bisa berbeda-beda. Ada yang mengikuti suku bunga BI, suku bunga dasar kredit (SBDK), dan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI). Secara singkat, SBDK adalah suku bunga acuan yang ditetapkan perbankan untuk memberikan kredit kepada debitur. Tiap perbankan menetapkan SBDK yang berbeda-beda, yang bisa nasabah cek di situs bank Indoensia secara berkala.
    Sementara itu, SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan BI sebagai pengakuan hutang jangka pendek dengan sistem bunga. Suku bunga SBI merupakan suku bunga acuan yang ditentukan dari mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang untuk SBI periode tertentu. Besarannya pun selalu berubah dari waktu ke waktu.

    Untuk tipe bunga seperti inilah yang terkadang membikin nasabah cukup was-was. Soalnya besar cicilan nasabah tiap bulan bakal ditentukan dari besarnya suku bunga BI. Mengapa BI, karena besaran SBDK tiap bank dan suku bunga SBI bakal selalu menyesuaikan dengan suku bunga BI. Nasabah diharapkan selalu memastikan suku bunga acuan untuk produk KPR-nya, supaya nasabah bisa memperkirakan estimasi besar cicilan dan tidak terkejut pas bayar tiap bulan.

    Buat nasabah yang berani mengambil risiko, memilih KPR dengan suku bunga floating bisa dijadikan pertimbangan. Apalagi, kalau tren ekonomi saat ini lagi bagus. Siapa tahu saat baru menginjak dua tahun masa cicilan, SBDK bank nya atau suku bunga SBI diturunin sampai 100 basis poin, pastinya akan lebih menguntungkan, karena angsurannya menjadi lebih ringan.

    Suku Bunga Fixed + Floating
    Suku bunga jenis seperti ini yang paling sering ditemuin di banyak perbankan yang menyalurkan KPR. Ini biasanya perbankan bisa menarik calon debitur dengan gimmick promo bunga tetap untuk masa-masa awal cicilan. Tapi di sisi lain, bank juga bisa main aman dengan menetapkan bunga floating yang mengikuti suku bunga acuan selama periode bunga fixed berakhir. Misalnya, nasabah mengambil KPR dengan bunga fixed + floating di Bank A dengan skemanya : Tahun 1 - 5 = bunga fixed 8%, untuk tahun 6 dan seterusnya = bunga floating mengikuti SBDK Bank A. Ini artinya, selama lima tahun pertama cicilan, bunga KPR akan tetap, meskipun SBDK Bank A sudah naik sampai 10%, bunga KPR nasabah akan tetap 8% saja, begitupun sebaliknya, kalau SBDK turun jadi 5%, bunganya akan tetap 8%. Selanjutnya, untuk sisa masa cicilan, nasabah akan dikenakan bunga floating yang mengikuti SBDK bank A tersebut. Metode ini cocok bagi konsumen yang menyukai kepastian untuk tahun-tahun awal cicilan, nasabah juga bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk menyimpan dana lebih, karena siapa tahu BI rate akan naik di masa mendatang.

    Suku Bunga Cap
    Karena persaingan penyediaan KPR semakin banyak, perbankan terus berinovasi membuat penawaran menarik bagi nasabah untuk mengambil KPR. Dan saat ini ada beberapa perbankan yang menyediakan suku bunga cap. Sebenarnya, bunga cap setipe dengan bunga floating. Bedanya, untuk bunga cap, bank memberi batasan maksimum. Misalnya, bunga cap KPR nasabah dipatok 10 %. Artinya, bunga KPR nasabah tetap floating mengikuti SBDK, tapi maksimal di angka 10 % saja. Jadi kalau SBDK naik sampai 12 %, bunga KPR nasabah akan tetap 10 %. Namun, penawaran bunga cap ini biasanya hanya berlaku dalam periode waktu tertentu, misalnya lima tahun pertama cicilan. Apabila cicilan KPR nasabah selama 15 tahun, maka 10 tahun sisanya, bunga KPR nasabah akan floating mengikuti SBDK tanpa batas maksimum.

    Suku Bunga Fixed & Cap
    Suku bunga fixed & cap adalah cara penetapan bunga yang menggabungkan bunga fixed dengan bunga cap. Misalnya nasabah mengambil KPR di bank B dengan suku bunga fixed & cap selama lima tahun pertama, dengan metode Tahun 1-2 = bunga fixed 7% dan Tahun 3 - 5 = bunga cap 10%. Ini berarti selama dua tahun pertama, bunga KPR nasabah akan selalu tetap 7%, tanpa naik-turun. Untuk tiga tahun berikutnya, akan mengikuti ketentuan bunga KPR floating mengikuti SBDK namun tidak akan melebihi 10%. Untuk tahun-tahun berikutnya, biasanya perbankan akan mengenakan nasabah suku bunga floating yang besarannya terus berubah sesuai dengan SBDK.

    Setelah membaca artikel tadi, calon konsumen bisa berhitung, kira-kira bank mana nih yang jadi tujuan nasabah untuk mengajukan KPR? Apakah bakal mencari bank dengan suku bunga KPR 2018 yang paling rendah atau yang tenornya paling panjang? Intinya, sesuaikan sama kebutuhan dan kemampuan bayar calon konsumen. Gali informasinya lebih lanjut dengan menghubungi bank-bank terkait. (dari berbagai sumber). Wahyu-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain