Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Menginap Instagenic di Jantung Kota THE CHENDELA GUEST HOUSE

    THE CHENDELA GUEST HOUSE
    Area depan digunakan sebagai coffeeshop bergaya klasik
    Kamar-kamar dengan warna & motif tematik
    Kamar tidur double bed
    Kamar tidur twin bed

    Menjadi salah satu tujuan wisata populer di Indonesia, kota Yogyakarta tidak hanya memanjakan para wisatawan dengan pesona budayanya. Kebudayaan yang kian menyatu erat dengan keindahan alam membuat kota ini menjadi pilihan saat ingin menghabiskan liburan bersama orang-orang tersayang. Kota ini tidak hanya memberi pilihan pada destinasi yang kian membuat bingung para pecinta wisata. Namun sering kita dihadapkan pada pilihan sulit dalam memilih penginapan, karena pastinya kenyamanan, keamanan, dan juga kemudahan akses yang mendukung aktivitas selama liburan menjadi pertimbangan khusus sebelum kita bertamasya.

    Wisatawan di Jogja kian hari semakin dimanjakan dengan beragam pilihan penginapan. Berbagai konsep penginapan disajikan oleh pelaku bisnis, mulai dari konsep hotel berbintang hingga konsep rumah pribadi. Konsep yang tengah marak antara lain adalah homestay maupun guest house. Salah satu tempat menginap dengan konsep yang cukup unik adalah The Chendela Guest House. Penginapan yang beralamat di Jalan Panembahan Mangkurat No. 10, Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta tersebut menyuguhkan kenyamanan dalam nuansa tematik yang jarang ditemui di tempat menginap lain. Ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau, setiap tamu dapat menikmati kemudahan akses untuk menjangkau berbagai tempat wisata di Jogja. Kedekatan dengan pusat kuliner dan juga tempat-tempat strategis yang ada di kota Jogja menjadi keunggulan dari The Chendela.

    Berawal dari keinginan Bima Adhitya, owner The Chendela, untuk melestarikan rumah tinggal milik Eyang, akhirnya pada tahun 2016 mulai dibangun untuk penginapan. Kemudian pada bulan November 2018 mulai resmi beroperasi sebagai The Chendela Guest House yang merupakan penginapan berkonsep guest house ketiga yang dikelola oleh owner. “Sebenarnya dulu ini adalah rumah pribadi milik Eyang yang semasa hidupnya mengabdi sebagai Abdi Dalem Kraton. Kemudian tahun 2012 beliau meninggal dan rumah ini tidak ditinggali. Dengan maksud melestarikan rumah peninggalan Eyang agar tidak dibeli orang lain, akhirnya orang tua memutuskan untuk membeli rumah ini. Kemudian baru pada tahun 2016 saya terpikir untuk memanfaatkan rumah ini sebagai penginapan, kebetulan juga lokasinya sangat strategis di area Kraton. Tentunya mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang ingin menginap,” ungkap Bima, sapaan akrabnya.

    Guest house yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 300 m² tersebut mengusung konsep Jawa klasik dengan sensasi layaknya menginap di rumah nenek. Fasad depan bangunan The Chendela menampilkan sisi klasik yang begitu kental. Pada bagian depan digunakan sebagai kafe yang diberi nama Sapulu Coffee. Konsep kafe dengan bangunan Limasan berpadu dengan taman hijau semakin memperkuat nuansa klasik penginapan tersebut. Salah satu spot yang menjadi ikon The Chendela terletak pada pintu masuk penginapan yang berbentuk layaknya sebuah gapura kerajaan dengan pintu klasik dan beberapa anak tangga yang akan membawa tamu memasuki area dalam The Chendela. Tepat di sisi sebelah pintu masuk, nampak sebuah bangunan berbentuk menara khas kota Kudus berdiri dengan gagah dilengkapi dengan sign lamp bertuliskan Chendela. Memasuki pintu gerbang utama, nuansa tropis nan sejuk terasa begitu kental dengan adanya taman di area tengah penginapan. “Kalau untuk konsep utama bisa dibilang mengarah ke konsep klasik ala rumah Jawa ya. Tapi saya ingin memasukkan unsur tropis di dalamnya, jadi di area tengah sengaja diberikan taman dengan pohon dan tanaman yang dapat memberikan nuansa sejuk. Karena lokasi penginapan tepat di tengah kota Jogja yang ramai dengan hiruk pikuknya, jadi saya ingin tamu yang menginap di The Chendela merasakan ketenangan layaknya berada di rumah. Untuk menara Kudus itu sepenuhnya ide dari desainer, kebetulan memang hampir semua bangunan garapannya pasti diberikan identitas bangunan serupa,” papar pria kelahiran Jakarta tersebut.

    Bangunan kamar-kamar penginapan yang memiliki total 7 kamar tersebut menggunakan rumah model Jawa kampung dengan atap limasan. Pintu dan jendela kamar memanfaatkan material bekas bangunan lama yang direstorasi. Sebagian merupakan peninggalan dari rumah lama milik Eyang, sebagian lagi merupakan hasil hunting dari bekas bongkaran rumah lawas. Warna-warna pastel menghiasi masing-masing kamar memberikan kesan kekinian dan instagramable. Warna yang diaplikasikan pada fasad masing-masing kamar juga sekaligus menjadi penamaan kamar di The Chendela, misalnya Pink, Red, Blue, Yellow, Tosca, Purple, dan Green Room. Sentuhan karya seni bertema bunga pada masing-masing room menjadi salah satu background favorit tamu untuk berfoto. “Dari awal dulu memang ingin memberikan kesan kekinian, maka dari itu kami hadirkan dengan warna-warna pastel yang lembut. Pada sisi dinding depan kamar juga diberikan sentuhan karya seni bernuansa bunga-bunga. Untuk gambar bunga-bunga kami mengundang seniman dari Bantul untuk merealisasikannya,” ujar Bima.

    Kamar-kamar yang tersedia di The Chendela terbagi menjadi 3 tipe, yaitu tipe twin bed, double bed, dan bunk bed dengan fasilitas ranjang tidur bertingkat. Konsep interior kamar tidur didesain simpel namun tetap mengutamakan kenyamanan dan suasana layaknya sedang menginap di rumah nenek bagi tamu. Tempat tidur menggunakan ranjang besi lawas berkelir bronze yang senada dengan aplikasi lantai tegel berwarna merah bata. Dinding kamar bernuansa putih yang dipadukan dengan warna pastel sesuai dengan tema masing-masing kamar tersebut. Konsep minimalis juga nampak diaplikasikan pada sisi bathroom yang didominasi oleh nuansa putih, lengkap dengan fasilitas modern demi kenyamanan tamu yang menginap.

    Secara garis besar, konsep kamar dan tata interior setiap kamar cenderung senada. Yang membedakan hanya pada jenis tempat tidur serta paduan warna pada dinding yang disesuaikan dengan tema warna bagian eksteriornya saja. “Untuk dekorasi interior dan fasilitas tiap kamar memang sebenarnya sama saja. Masing-masing kamar juga memiliki fasilitas pendingin ruangan, televisi, dan private bathroom. Yang membedakan hanya pada penggunaan tempat tidurnya, ada kamar dengan twin bed, double bed, dan satu kamar dengan kasur tingkat. Untuk kamar tipe bunk bed biasanya menjadi pilihan tamu yang hanya transit untuk tidur saja. Mereka pagi buta sudah pergi untuk berwisata, nanti pulang larut malam kemudian beristirahat. Kami juga menyediakan extra bed dengan maksimal tamu yang menginap dalam satu kamar yaitu 3 orang,” jelas Bima.

    Berjalan hampir satu tahun, serapan pasar yang menginap di The Chendela lebih di dominasi oleh wisatawan lokal yang sedang berlibur di Jogja. Okupansi akan mencapai puncaknya pada saat momen libur lebaran dan juga tahun baru. Dari sisi harga juga terbilang cukup terjangkau, sebanding dengan fasilitas dan nuansa yang diberikan oleh penginapan tersebut. Untuk kamar dengan fasilitas twin bed dan double bed ditawarkan dengan harga 400 ribu per malam. Kemudian untuk kamar tipe bunk bed dengan fasilitas kasur bertingkat dihargai 350 ribu rupiah per malamnya. Harga tersebut sudah termasuk breakfast untuk 2 orang. Farhan-red

    THE CHENDELA
    Jl. Panembahan Mangkurat No. 10,
    Panembahan, Kraton, Yogyakarta.
    Hotline : 0812 1540 0520
    Ig : thechendela

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain