Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space

    Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space#1
    Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space#2
    Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space#3
    Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space#4
    Nuansa 'Tempo Dulu' pada Desain Co-working Space#5

    Sejak beberapa tahun belakangan, kehadiran co-working space semakin meningkat seiring dengan meningkatnya perusahaan start-up di Indonesia. Menggalaknya program ekonomi kreatif yang didukung oleh pemerintah pun ikut meningkatkan kebutuhan para pengusaha muda akan ruang bekerja yang nyaman. Sebelum jauh membahas tentang desain co-working space, ada baiknya kita mengenali tentang pengertiannya serta tujuan diciptakannya ruang bekerja bersama ini. Co-working space merupakan ruang komunal yang digunakan untuk bekerja atau berkumpul bagi sekumpulan orang yang bekerja secara independen. Di ruang inilah setiap individu akan saling berbagi pengalaman, informasi, dan ilmu yang dimiliki. Tak hanya pekerja, saat ini co-working space pun juga digunakan oleh kalangan mahasiswa sebagai tempat kumpul dan belajar bersama. Christian Cordes dalam wawancaranya bersama Klaus Luber yang tertulis dalam jurnal online Goethe Institute Indonesia tahun 2016 menerangkan bahwa co-working space adalah tempat orang berbagi prasarana dan sumber daya, mulai dari tempat kerja,koneksi WLAN, sampai printer.

    Peran wirausaha muda sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia, namun kadang hal tersebut belum didukung oleh fasilitas bekerja yang memadai. Co-working space dapat menjadi solusi bagi para pengusaha muda yang membutuhkan ruang bekerja yang nyaman dan dilengkapi dengan fasilitas pendukung. Kenyamanan dalam bekerja menjadi salah satu faktor penentu meningkatnya produktivitas dalam bekerja. Biasanya ruang yang disediakan oleh co-working space beragam, seperti ruang terbuka yang memuat meja kursi untuk bekerja secara kelompok maupun individu, ruang rapat yang digunakan jika pekerja membutuhkan area yang lebih privat untuk berdiskusi dengan tim, dan ruang kelas yang digunakan sebagai tempat pelatihan, seminar, dan sebagainya. Sementara fasilitas pendukung berbeda-beda pada masing-masing co-working space. Sebagai salah satu contoh, penyediaan wifi, cafeteria, buku bacaan, hingga peralatan elektronik seperti, printer, komputer, dan sebagainya.

    Konsep desain ruang co-working space ditentukan oleh pendiri atau pemiliknya yang biasanya melibatkan arsitek atau desainer interior dalam perancangannya. Konsep yang banyak berkembang saat ini adalah konsep-konsep modern yang meminimalisir penggunaan ornamen pada furniture dan dekorasi ruang, sehingga ruang berkesan luas. Namun, selain konsep modern, pemilihan konsep tempo dulu juga dapat dihadirkan dalam perancangan co-working space. Konsep desain co-working space yang akan dibahas kali ini adalah bagaimana menghadirkan nuansa kuno atau tempo dulu pada desain ruang co-working space. Kuno tak selalu berarti ketinggalan jaman, saat ini hal-hal kekunoan memiliki nilai lebih ditengah arus modernisasi. Nuansa tempo dulu pada desain co-working space diciptakan melalui pemilihan material, jenis furniture, dan elemen dekoratif yang menghiasi ruang. Jenis tempo dulu pun beragam, dari yang model tradisional, klasik hingga kolonial. Pada desain berikut, tema tempo dulu menitikberatkan pada tema kolonial jaman dulu.

    KONSEP 'TEMPO DULU' PADA DESAIN CO-WORKING SPACE
    Area kerja komunal merupakan area kerja terbuka bagi pengunjung baik untuk bekerja secara individu maupun kelompok. Pada area ini per set meja dapat diisi dua hingga enam kursi. Furniture menggunakan material kayu dengan finishing yang masih memperlihatkan serat kayu, sehingga karakter kayu secara tegas terlihat pada suasana ruang. Sedangkan pemilihan model furniture menggunakan model kursi tamu tempo dulu, seperti kursi & meja model betawi, serta kursi & meja kerja jaman dulu. Pemilihan material plafon menggunakan anyaman bambu yang dicat putih. Plafon dapat ditambahkan list atau pembatas antar plafon berbentuk persegi agar plafon tidak terkesan terlalu polos. Cat dinding berwarna putih, sementara pintu dan jendela perpaduan antara warna coklat kayu dan hijau tua.

    Pemilihan warna ini mampu memperkuat kesan tempo dulu dalam ruang. Material lantai menggunakan jenis tegel kunci atau tegel kuning. Jika menginginkan sedikit kesan rustic maka lantai cukup menggunakan tegel abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Faktor lain yang mempengaruhi suasana ruang yaitu, elemen dekoratif. Sesuai dengan temanya, maka pemilihan elemen dekoratif merujuk pada dekorasi rumah jaman dulu. Dekorasi elektronik dapat menggunakan jenis elektronik keluaran lama, seperti televisi, radio, mesin ketik, dan lampu teplok. Hiasan dinding menggunakan koran keluaran jaman dulu, foto pahlawan nasional, hingga kisah-kisah perjuangan. Selain tempelan dinding, standing element seperti, patung pahlawan, sepeda onthel, dan lemari jenis lama dapat memperkuat kesan tempo dulu.

    Pada area kerja privat, ruang dibuat lebih tertutup dengan unit-unit kecil. Area ini dapat digunakan sebagai ruang kelas untuk pelatihan maupun seminar. Meja dan kursi dapat ditata seperti kelas di sekolah dan dapat pula ditata membentuk kelompok-kelompok kecil agar diskusi menjadi lebih kondusif. Elemen dekorasi lain yang dapat ditambahkan yaitu papan tulis hitam yang masih menggunakan kapur untuk menulis. Bambu juga dapat dijadikan sebagai alternatif material pada furniture, karena penggunaan bambu sudah ada sejak jaman penjajahan pula.

    Selain ruang komunal dan ruang kelas, ruang lain yang sebaiknya disediakan co-working space adalah ruang rapat. Ruang ini berfungsi bagi komunitas pekerja yang membutuhkan ruang lebih privat dan lebih luas untuk mengadakan rapat tim. Pemilihan furniture pada ruang rapat bisa menggunakan model kursi dan meja kerja kantor jaman dulu yang didominasi oleh kayu solid yang mengekspos teksturnya. Elemen dekoratif lainnya seperti peta Indonesia, bendera merah putih, foto pahlawan, meja sudut berisi tumpukan buku lama dapat memperkuat suasana tempo dulu.

    Fasilitas lain yang dapat ditambahkan yaitu, cafeteria atau area yang menyediakan makanan dan minuman. Cafeteria dapat diletakan pada area tertentu atau area khusus dan dapat juga diletakan pada area kerja terbuka agar mudah diakses dari manapun. Terdapat 2 konsep cafeteria yang dapat disediakan pemilik co-working space, yaitu konsep self service atau dan konsep full service. Pada konsep self service, pengunjung melayani diri mereka sendiri, mulai dari pemesanan makanan, mengambil makanan, hingga membereskan sisa makanan dan peralatan makan. Sedangkan konsep full service, pengunjung akan dilayani mulai dari pemesanan hingga membereskan sisa makanan dan peralatan makan. ARCHIRA – Archsketch Cipta Inspira

    ARCHIRA – Archsketch Cipta Inspira
    Jl. Garuda 185 B, RT 05/RW 30,
    Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman,
    Yogyakarta 55283
    Telp. (0274) 882480 / 0821 3453 5876
    Email : arsitekarchira@gmail.com
    www.arsitekarchira.com

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain