Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Omah Pitutur Karya Penebusan Muji HW

    Muji HW beserta istri, Ni Putu Novy Avianti
    Rangka utama Joglo limasan berbahan kayu lawasan
    Bangunan utama sebagai pusat aktifitas keluarga
    Selasar sekaligus teras, penghubung antar bangunan
    Area dapur minimalis menyatu dengan nuansa klasik

    Memiliki sebuah hunian tentu menjadi dambaan untuk siapa saja, termasuk masyarakat yang tinggal di kampung atau pedesaan. Suasana kampung yang cenderung masih asri rasanya sayang bila tidak memaksimalkan sisi pembangunan rumah dengan baik. Pembangunan memang tengah marak terjadi di masyarakat saat ini, terutama dalam pembangunan bangunan rumah untuk tempat tinggal. Ada begitu banyak orang berlomba menciptakan bangunan dengan inovasi yang menarik. Semua ini dilakukan semata demi menciptakan hunian yang nyaman dan indah sebagai rumah idaman. Kecantikan serta estetika dari sebuah bangunan rumah perlu diperhatikan dengan baik. Hal ini tentu semata dilakukan demi menciptakan hunian yang nyaman dan terlihat lebih elegan. Termasuk bagi anda yang saat ini memutuskan untuk tinggal di pedesaan dengan suasana yang lebih nyaman dan tentram. Kondisi perkampungan yang hangat dan nyaman akan lebih terasa menyenangkan bila menghadirkan suasana yang sederhana dan asri untuk sebuah tempat tinggal.

    Namun tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa memiliki rumah di pedesaan kurang menarik. Gaya yang sederhana dan cenderung itu-itu saja membuat sebagian orang merasa enggan memiliki rumah tinggal di desa. Namun hal tersebut justru tidak berlaku bagi seorang Mujiyo Hadi Wiyono yang pada kesehariannya banyak dihabiskan untuk bergelut dengan hiruk pikuk suasana perkotaan karena tuntutan pekerjaannya. “Jadi memiliki rumah tradisional Jawa dan tinggal di pedesaan merupakan salah satu cita-cita saya sejak dahulu. Saya berpikir untuk hari tua saya dan istri nanti, rasanya kok suasana hidup di desa lebih terkesan manusiawi dibandingkan dengan kehidupan di kawasan perkotaan maupun komplek perumahan yang terkesan individual,” papar Muji HW, sapaan akrabnya.

    Selesai dibangun pada bulan Agustus tahun 2017, Muji yang dibantu dengan team design Rumah Jawa Jogja, berhasil mewujudkan keinginannya tersebut ke dalam sebuah hunian rumah dengan desain arsitektur tradisional Jawa yang terletak di Dusun Kertopaten RT 02, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Lokasi rumah yang berdekatan dengan persawahan serta pepohonan dan cukup jauh dari jalan raya membuat suasana rumah tersebut cukup nyaman dan tenang sebagai tempat beristirahat. Letaknya yang berada di ujung gang dan cukup tersembunyi membuat area rumah jarang dilewati lalu-lalang kendaraan.

    Muji mengatakan bahwa dirinya mempunyai alasan tersendiri mengapa Ia memilih desain rumah Limasan Jawa sebagai rumah tinggalnya, selain memang tertarik dengan berbagai filosofi yang terkandung di dalamnya. “Jadi dulu sekali saya pernah ikut membongkar rumah Jawa milik orang tua, namun belum mengerti dan belum tertarik dengan estetika sebenarnya dari rumah itu sendiri. Kemudian sejak penempatan kerja di Bali dan tinggal di sana, malah jadi suka dengan arsitektur rumah Jawa dan menyesal dulu pernah membongkar rumah peninggalan orang tua. Ya, mungkin saya membangun rumah ini salah satunya adalah bagian dari rasa bersalah saya kepada orang tua,” cerita pria satu putri tersebut.

    Bangunan rumah yang berdiri di atas lahan seluas 250 m² itu terbagi atas 2 area, yaitu area Limasan depan yang lebih banyak digunakan sebagai tempat bersantai maupun area untuk mengadakan acara-acara seperti arisan dan rapat, serta area hunian dibelakang yang lebih private dan lebih banyak digunakan untuk aktifitas sehari-hari. Sentuhan khas dekorasi Pulau Dewata nampak pada area gerbang depan rumah, dimana terdapat dua buah patung wanita Bali yang terpampang di kedua sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Bukan tanpa alasan mengapa terdapat unsur khas Bali pada dekorasi rumah ini, karena Ni Putu Novy Avianti, istri dari Muji HW adalah wanita kelahiran pulau yang terkenal dengan wisata pantainya tersebut. Perpaduan bata ekspos dan juga batuan karst pada sisi tembok pagar rumah sedikit menampilkan unsur tropis di dalamnya. “Sebenarnya dulu tidak berencana membangun pagar tembok keliling seperti ini, namun karena rumah ini tidak kami tempati setiap harinya, jadi saya memutuskan untuk membangun pagar demi alasan keamanan saja,” ungkap Muji.

    Area Limasan depan dengan konsep ruangan semi terbuka merupakan bangunan lawasan yang melalui tahap rekonstruksi sehingga menjadi bangunan seperti sekarang. Kursi dan meja kayu berbentuk cukup unik di tengah ruangan menjadi tempat untuk menerima tamu yang datang. Pencahayaan pada saat malam hari menggunakan lampu gantung kuno yang semakin menambah nuansa klasik area tersebut. Sepeda “Onthel” kuno dan motor bebek klasik koleksi owner nampak terpajang pada sisi ujung ruangan yang menjadi pelengkap dekorasi area seluas 72 m² ini. Selain sebagai ruang tamu, rupanya area ini juga sering digunakan Muji untuk mengumpulkan anak-anak terutama dari kalangan kurang mampu untuk melakukan kegiatan sosial. Kegiatan semacam brain storming tersebut dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu saat Muji dan sang istri libur. Hal itu dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak melalui media permainan. Bahkan rumah Muji HW tersebut sering dijuluki “Omah Pitutur” yang dalam bahasa Jawa, omah berarti rumah, sedangkan pitutur berarti nasihat-nasihat yang baik. Sehingga diharapkan rumah tersebut dapat menjadi media untuk memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut.

    Sebelum menuju bangunan utama, akan nampak sebuah sumur tradisional lengkap dengan timba dan juga “Padasan” yang berada di sudut antara area Limasan depan dengan bangunan utama. Benda tersebut tetap dipertahankan untuk menjaga nilai estetika rumah Jawa yang sebenarnya. Bergeser menuju bangunan rumah utama, aplikasi bata ekspos masih nampak mendominasi segala sisi dinding area tersebut berpadu dengan motif tegel kunci pada lantai teras depan. Aksen kayu yang tetap mempertahankan warna aslinya semakin memperkuat nuansa klasiknya, termasuk pada pintu utama rumah yang berbentuk kuno. Bangunan rumah yang memiliki luas yang kurang lebih serupa dengan area limasan depan tersebut mempunyai 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur, dan juga ruang ibadah. Nuansa kesederhanaan khas rumah tradisional Jawa nampak begitu terasa saat memasuki rumah ini. Beberapa furnitur yang digunakan nampak tidak begitu mendominasi. Tepat di sebelah kanan setelah memasuki bangunan rumah, terdapat sebuah ruang untuk beribadah. Kedua kamar tidur terletak bersebelahan pada salah satu sudut ruangan rumah tersebut, sedangkan area dapur berada tepat di samping area ruang ibadah. “Memang untuk furnitur rumah kami belum begitu maksimal, masih kami tambahkan pernak-pernik dekorasi sambil jalan juga karena memang tidak setiap hari kami tinggal di rumah ini. Namun besar harapan saya agar kelak rumah ini menjadi tempat saya dan istri menikmati hari tua nanti bersama anak cucu kami,” pungkas Muji. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah