Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Padu Padan Arsitektur Klasik Jawa, Eksplorasi Dian Angestoni Wintoro

    Dian Angestoni Wintoro bersama istri dan kedua putrinya
    Furnitur bergaya klasik pada sudut teras
    Ruang utama dan Dapur
    Kamar tidur utama dengan latar gebyok kayu
    Garasi mobil menggunakan bangunan kandang kerbau

    Memiliki rumah atau hunian yang nyaman tentu saja merupakan salah satu hal yang sangat di dambakan oleh setiap orang. Hunian yang nyaman akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk berkumpul dengan keluarga. Tentu saja, untuk memiliki sebuah rumah yang nyaman, Anda memang harus memperhatikan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memulai pembangunan. Sebagaimana kita ketahui, ide pembangunan rumah dewasa ini semakin kreatif saja. Banyak ide-ide bangunan yang baru muncul ke permukaan, menyajikan ide yang unik dan nampak menarik. Rumah dengan aplikasi dinding menggunakan bata ekspos memang memberikan kesan rumah pedesaan tapi tetap elegan dan keren. Bata ekspos menjadi tren saat ini karena fleksibel dipadukan dengan gaya lain seperti skandinavian, rustic, maupun industrial. Rumah bata ekspos memberikan kesan hangat dan informal, serta kontras dengan kebanyakan kehidupan profesional di kota-kota besar. Setelah seharian berkutat di kantor dengan bangunan yang kaku, pulang ke rumah dengan gaya ekspos yang berbeda 180 derajat dari kantor membuat kita benar-benar terlepas dari masalah-masalah profesional yang cukup menyita pikiran.

    Hal ini yang menjadi alasan Dian Angestoni Wintoro untuk membangun hunian yang berlokasi di daerah Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Daerah yang belum begitu ramai dengan hiruk-pikuk dan cenderung tenang menjadi alasan keluarga tersebut memutuskan membangun rumah di sana. “Dari dulu memang saya sangat suka dengan rumah bergaya Jawa. Kesannya hangat dan begitu nyaman untuk menjadi hunian bersama keluarga. Kebetulan di daerah sini suasananya tidak begitu bising oleh aktifitas kendaraan dan hawanya juga masih sejuk,” cerita Dian, sapaan akrabnya.
    Nampak konsep bangunan dengan arsitektur Jawa klasik begitu kental pada fasad rumah limasan yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 400 m² tersebut. Pagar depan bangunan mengaplikasikan batu bata ekspos dengan desain klasik layaknya sebuah pagar kerajaan kuno. Pada halaman depan rumah terdapat berbagai tanaman hijau yang memberikan nuansa alami nan sejuk. Hal tersebut merupakan salah satu cita-cita dari pria yang berprofesi sebagai aparat kepolisian Republik Indonesia tersebut. ”Dari dulu memang saya punya cita-cita kalau bangun rumah ingin yang di depannya terdapat taman hijau. Karena pada dasarnya saya juga suka berkebun dan hobi dengan tanaman. Kalau ada taman di depan rumah kan jadi enak kalau sedang bersantai di teras depan. Hawanya juga jadi sejuk,” ujar Dian.

    Pada area taman depan juga terdapat sebuah kolam kecil beserta berbagai jenis ikan di dalamnya yang letaknya tepat di depan teras rumah, lengkap dengan suara gemericik air yang dihasilkan dari mini fountain berbentuk gentong gerabah. Pada tengah taman, jalan setapak menuju ke dalam area rumah didesain menggunakan batu alam yang semakin memperkuat konsep natural di area depan. Bangunan utama dengan konsep rumah Jawa yang didominasi pengaplikasian batu bata ekspos pada dinding dan material kayu pada beberapa pilarnya memberikan kesan hangat hunian tersebut. Bata ekspos dipilih Dian karena alasan beberapa keuntungan yang didapatkan. Diantara keuntungan penggunaan dinding bata ekspos adalah memiliki kesan unik dan klasik, bisa memberikan nuansa desa atau sederhana, biaya relatif lebih murah, perawatan yang mudah dan sangat baik jika dikombinasikan dengan jenis furnitur klasik. Selain itu dinding akan lebih kokoh jika menggunakan bata ekspos karena sifat bata ekspos yang memiliki kepadatan tinggi sehingga tidak mudah hancur. Hal itu diperoleh dari bahan baku dalam pembuatan bata ekspos yang merupakan jenis bahan baku tanah liat khusus yang dapat menghasilkan bata ekspos yang kokoh saat digunakan.

    Ciri khas arsitektur rumah Jawa yaitu permukaan rumah yang lebih tinggi daripada permukaan tanah juga dipertahankan oleh Dian. Setelah melalui undakan, nampak sebuah teras depan yang memanjang ke samping dilengkapi dengan table set berbahan kayu bergaya klasik. Nuansa bata ekspos dan lantai berwarna kemerahan yang berpadu dengan material kayu dari table set memberikan kesan hangat pada area teras tersebut. Beberapa pernik bernuansa Jawa juga nampak menghiasi area teras, seperti topeng batik dan patung gerabah berbentuk sepasang pengantin Jawa. Pintu utama juga mempunyai desain klasik juga berasal dari bekas copotan rumah lawasan. Pintu berbahan kayu dengan desain Jawa klasik semakin menambah kental nuansa yang diusung.

    Memasuki ruang utama rumah yang ditempati sejak tahun 2016 tersebut, aplikasi batu bata ekspos masih mendominasi hampir di seluruh dindingnya. Sofa set kayu bermotif ukiran dengan gaya klasik terdapat tepat pada tengah ruangan. Pada sisi dalam ruang utama, hampir seluruh material yang diaplikasikan tidak lepas dari sentuhan motif ukiran, mulai dari pintu, jendela, hingga pilar dan rangka utama bangunan limasan. Hal tersebut semakin menampilkan sisi eksotis pada hunian dengan 2 kamar tidur itu. Lampu gantung bergaya klasik tergantung tepat di tengah ruangan, memberikan nuansa hangat di dalamnya. “Kalau untuk kayu-kayu yang ada di rumah ini campuran antara lawasan dan baru. Yang saya tahu ada salah satu bagian kayu bertuliskan 1965, mungkin bagian itu yang paling tua,” imbuh pria dua anak tersebut.

    Pada sisi sebelah kanan dari ruang utama yang dibatasi dengan sebuah dinding anyaman bambu, terdapat sebuah ruang keluarga yang biasa digunakan untuk berkumpul sembari menonton tayangan televisi. Kesan sederhana nampak pada penggunaan amben kayu di ruang keluarga tersebut. Bersebelahan dengan ruang keluarga, terdapat ruang makan dan dapur yang memadukan konsep modern ala mini bar dengan aplikasi batu bata ekspos serta kayu ukiran yang menampilkan sisi klasik. “Untuk objek-objek vital seperti dapur dan kamar mandi memang sengaja didesain lebih modern, karena untuk lebih mengedepankan sisi fungsionalnya saja. Yang penting sudah dapat nuansa Jawanya, kan repot juga kalau harus memakai dapur tradisional atau kamar mandi jaman dahulu,” canda Dian.

    Sisi menarik dari rumah yang dahulunya sempat digunakan sebagai homestay tersebut juga dapat ditemui pada area taman belakang. Pada taman terbuka dengan rumput hijau yang berbentuk memanjang tersebut terdapat sebuah bangunan berbentuk kandang kerbau yang digunakan sebagai garasi untuk mobil berkelir kuning kesayangan Dian. Terdapat jalan setapak dengan batu alam menyusuri taman dimana pada ujung taman belakang terdapat sebuah pintu gerbang berukuran cukup besar yang langsung terhubung dengan jalan lingkungan kampung. Pintu gerbang tersebut terbuat dari kayu berukuran besar layaknya pintu masuk sebuah kerajaan, lengkap dengan atap bernuansa klasik. “Untuk taman belakang sendiri memang dibiarkan terbuka, karena selain sebagai garasi mobil di area ini juga sering digunakan untuk pembelajaran luar kelas anak-anak TPA. Kebetulan kan di depan rumah dekat dengan masjid, dan ada banyak siswa-siswi TPA juga termasuk kedua anak saya. Jadi saya dengan senang hati juga mempersilahkan mereka untuk memanfaatkan lahan taman belakang ini,” pungkas Dian. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain