Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Rupa Rekonstruksi Nurdi Antoro Warisan Budaya Mataram Pleret

    Ir. RM Nurdi Antoro beserta sang istri
    Fasad rumah hasil rekonstruksi  jawa klasik dengan atap limasan kampung
    Ornamen ukiran klasik di ruang tamu utama & Area ruang keluarga dengan hiasan pe
    Koleksi lukisan antik di samping area ruang kerja & Koleksi berbagai tombak puso
    Penataan interior yang artistik pada sudut ruang keluarga & Koleksi keris kuno

    Bencana gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Yogjakarta. Bencana yang meluluh-lantahkan sebagian wilayah Kota Budaya tersebut menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa yang tidak sedikit. Namun dengan semangat untuk bangkit dari keterpurukan, perlahan namun pasti warga Jogja mulai membangun kembali kehidupannya. Sarana dan prasarana penunjang hidup mulai dibangun kembali hingga sekarang aktifitas Yogyakarta sudah kembali seperti sedia kala.

    Semangat tersebut juga yang mendorong Ir. RM. Nurdi Antoro untuk bangkit kembali. Rumah tinggalnya yang berlokasi di Jalan Anggrek No. 01 RT 02, Keputren, Pleret, Bantul, Yogyakarta tersebut juga menjadi salah satu yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana alam gempa bumi pada hampir 11 tahun silam. “Pasca gempa bumi tersebut, dampak pada rumah ini memang sangat parah bahkan sebagian besar roboh. Jadi ya mau tidak mau memang harus dibongkar sekalian,” ujar pria asli Bantul tersebut. Setelah proses pembongkaran, kurang lebih satu tahun setelah gempa Nurdi mulai membangun kembali bangunan rumahnya. Proses pembangunan rumah yang ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah tersebut dilakukan secara bertahap hingga menjadi rumah seperti saat ini. Sebagian besar konstruksi kayu pada bangunan rumah tersebut memanfaatkan kayu bekas rumah terdahulu yang hampir semua bermaterialkan kayu jati.

    “Dulunya memang adalah rumah peninggalan turun temurun. Bangunan Jawa kuno, bahkan sudah ada sejak jaman Kraton Mataram Pleret dan dulunya merupakan bekas rumah dinas Pabrik Gula Pleret, makanya banyak konstruksi kayu di dalamnya. Setelah roboh terkena gempa, semua kayu bekasnya digunakan untuk membangun kembali rumah yang ada sekarang ini. Ya untuk tata letak dan denah ruang kurang lebih saya pertahankan seperti rumah yang dulu ”, cerita Nurdi.

    Memang benar, sejak bagian depan rumah nuansa artistik bangunan bergaya tradisional Jawa sudah terasa. Pagar batuan alam yang mengelilingi area rumah bergaya klasik tersebut nampak kokoh berdiri. Dikombinasikan dengan pintu gerbang bernuansa kayu yang nampak menggoda mata setiap orang yang melewatinya. Diungkapkan pria yang sejak 1989 mulai konsen di bidang arsitektur Jawa ini bahwa rumahnya juga merupakan basecamp dari Yayasan Warisan Budaya Mataram Pleret yang sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu. “Sejak 5 tahun yang lalu saya memprakarsai berdirinya Yayasan Warisan Budaya Mataram Pleret yang concern terhadap kelestarian budaya peninggalan Kraton Mataram Pleret. Karena jika ditelusuri ternyata wilayah Pleret mempunyai latar belakang sejarah yang cukup besar, oleh karena itu saya dan anggota yayasan tergerak untuk peduli dan melestarikan kebudayaan lokal”, ungkap pria tiga anak tersebut.

    Sebelum masuk ke area dalam rumah yang diberi nama Pendopo Keputren tersebut, akan ditemui sebuah spot menarik berupa pendopo kecil yang berapa di sudut area halaman depan. Table set bergaya klasik dengan bahan kayu ditambah adanya beberapa pohon perindang menambah sejuk suasana bersantai. Selain sebagai tempat bersantai dan menerima tamu, rupanya area tersebut merupakan tempat set up bangunan limasan dari usaha jual beli bangunan Jawa yang ditekuni Nurdi Antoro sejak beberapa tahun belakangan. “Area ini sebenarnya adalah tempat set up bangunan Jawa dari usaha saya. Kalau belum ada yang beli yang dipakai sendiri untuk menerima tamu begini. Nanti kalau ada yang beli ya dibongkar lalu diganti dengan desain bangunan Jawa selanjutnya”, beber pecinta seni lukis tersebut.

    Bergeser menuju bangunan rumah, kita akan melewati beberapa anak tangga yang mengantarkan ke area teras depan. Furnitur meja dan kursi kayu yang tertata rapi, dan sebuah kolam ikan mini yang berada tepat di depan teras membuat suasana semakin syahdu. Sebuah ruangan lain yang dapat digunakan untuk ruang tamu berada tepat di samping area teras, namun lebih ke dalam. Pada ruang tamu ini terdapat pernak pernik bergaya klasik. Sebagian besar furnitur adalah peninggalan dari rumah terdahulu, beberapa diantaranya sudah direstorasi agar tampilannya tetap cantik.

    Melangkah lebih ke dalam menyusuri rumah pria yang juga aktif mengajar bidang arsitek di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja ini banyak cerita di dalamnya. Kecintaannya terhadap seni dan budaya dituangkan secara total dalam dekorasi rumahnya. Beberapa barang antik peninggalan Kraton Mataram Pleret seperti mata tombak, perisai logam, dan beberapa patung nampak tertata rapi di dalam ruang keluarga tersebut. Ditambah dengan lukisan-lukisan yang tertempel di berbagai sudut dinding ruangan dan gebyok ukiran lawas yang menjadi pemisah antara ruang tamu dengan ruang keluarga, membuat nuansa klasik semakin kental.

    Bergeser melewati sebuah lorong dengan dinding batu bata ekspos berkelir putih yang dihiasi beberapa foto-foto lawas tersebut akan langsung menuju sebuah area balai pertemuan. Ruangan semi outdoor tersebut cukup menyita perhatian karena dekorasi ruang yang nampak seperti balai pertemuan Kraton dan letaknya yang cukup tersembunyi di area belakang. Bangunan Joglo dengan dominasi warna khas hijau kuning dan merah tersebut cukup sering digunakan sebagai tempat meeting dan rapat. Meja kayu beralaskan marmer dan kursi kayu klasik tertata rapi di area ruang dengan lantai keramik bermotif kotak-kotak berwarna merah dan putih. Aksen ukiran yang terpahat pada soko dan gebyok atas semakin menambah kesan klasik. Pernak pernik ala Kraton juga nampak menghiasi berbagai sudut ruangan. Beberapa tombak yang merupakan peninggalan Kraton Mataram Pleret berjajar rapi di beberapa sisi ruang. Suara gemericik dari air mancur buatan yang ada di depan Joglo menjadi pelengkap suasana yang sangat pas.

    Kamar utama milik sang empunya rumah berada bersebelahan dengan balai pertemuan tersebut. Nampak sebuah motor klasik warna merah berjenis DKW berdiri di area depan kamar, bersanding dengan sepasang kursi dan meja kayu yang biasa digunakan Nurdi untuk bersantai saat pagi selepas bangun tidur. Dekorasi ruang kamar tidur yang cukup sederhana namun tetap memberikan kenyamanan untuk beristirahat. Sebuah cabinet kayu di sudut kamar nampak dipenuhi dengan koleksi keris-keris miliknya. “Kalau saya dari dulu memang sangat menyukai keris. Bukan karena maksud lain, tetapi lebih karena estetikanya. Karena anggapan orang keris sangat berhubungan erat dengan hal-hal mistis, tapi bukan itu alasan saya menyukai keris”, cerita Nurdi.

    Puas mengelilingi area rumah yang berdiri di atas lahan seluas ± 3000 m² ini di lantai bawah, kita akan menuju ke bagian rumah di lantai atas yang lebih difungsikan sebagai kamar tamu dan tempat menyimpan beberapa koleksi lukisan milik pria berdarah Kraton tersebut. Area lantai atas ini mempunyai desain yang terbilang cukup modern dibanding dengan bagian rumah lain. Nampak di berbagai sisi dinding di area ini dipenuhi berbagai lukisan koleksi dari berbagai maestro pelukis ternama. Sebut saja Affandi, Trubus, Wakidi, Dullah, Widajat, dan beberapa pelukis ternama dari mancanegara yang lukisannya terpampang rapi di area ini. “Ya memang area lantai atas ini tidak begitu banyak digunakan untuk aktivitas keluarga. Paling kalau ada saudara datang dan menginap saja. Jadi daripada kosong, area ini sekaligus digunakan sebagai galeri mini dari lukisan-lukisan yang saya koleksi sejak dulu”, pungkas Nurdi Antoro. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain