Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Sisi Otentik Rumah Lawas Menjaga Amanah Ala Maria

    Maria beserta suami dan kedua putrinya
    Sisi Otentik Rumah Lawas Menjaga Amanah Ala Maria
    Bukaan jendela yang terhubung area longkangan
    Kamar tidur utama di area gandhok
    Instalasi seni patung di sudut halaman & Kolam ikan di area longkangan dengan pa

    Rumah merupakan istana bagi penghuninya. Untuk mengejar kenyamanan, tentu si pemilik akan mendesain rumahnya semenarik mungkin. Karena dengan inilah ia bisa bereksplorasi mewujudkan rumah impian. Akibat perubahan masyarakat dewasa ini, tradisi-tradisi lama cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pikir yang didukung oleh perubahan sosial dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan rumah tradisional yang semakin jarang ditemukan. Tak heran di jaman sekarang banyak sekali rumah yang memiliki desain unik dan cantik, bahkan ada yang sampai meniru gaya eropa demi mempercantik istananya tersebut.

    Namun hal itu tidak berlaku bagi Maria SE dalam memilih konsep bangunan hunian bagi dirinya dan keluarga tercinta. Berprofesi sebagai Marketing Manager di salah satu developer perumahan berskala nasional, membuat Maria terbiasa berhubungan dengan hal yang berbau desain arsitektur rumah modern dan mewah jaman sekarang. Pekerjaan yang mengharuskannya berhubungan dengan dunia properti setiap harinya tersebut membuatnya merasa jenuh dengan bentuk rumah saat ini yang sebagian besar menganut desain dari luar negeri. “Memang pekerjaan saya sudah sehari-harinya lihat rumah-rumah mewah dan modern, jadi sekarang kalau melihat rumah seperti itu kok rasanya biasa saja. Makanya untuk rumah pribadi, saya ingin suasana yang berbeda dari apa yang setiap hari sudah saya temui pada pekerjaan. Kebetulan diberi amanah untuk tinggal dan merawat rumah orang tua,” cerita Maria.

    Rumah lawas yang berlokasi di Jalan Jogja-Turi Km. 13, Sompilan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta tersebut benar-benar menampilkan fasad rumah tradisional Jawa dengan kesederhanaannya. Suasana kawasan pedesaan yang masih asri dan tenang sungguh akan memberikan kenyamanan dalam menjalani kehidupan bersama orang-orang tercinta. Area halaman depan rumah sengaja dibiarkan terbuka tanpa pagar baja maupun tembok beton menampilkan kesan terbuka pemilik rumah. Berbagai macam pepohonan juga tumbuh subur di area halaman depan, sehingga nuansa sejuk dan alami khas pedesaan begitu terasa saat berada di sini. “Sebenarnya tidak banyak perubahan yang dilakukan pada rumah ini, dari jaman kakek-nenek buyut dulu memang bentuknya seperti ini. Ya, mungkin hanya beberapa perbaikan kecil karena usia bangunan ini sudah cukup tua,” ungkap ibu dari dua orang anak tersebut.

    Sisi otentik bangunan rumah yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 500 m2 tersebut rupanya tidak luput dari perhatian insan perfilman untuk menjadikan rumah tersebut sebagai lokasi syuting. Maria menceritakan setidaknya sudah dua judul film yang melakukan proses syuting di rumahnya. “Seingat saya sudah dua kali rumah ini dipakai untuk syuting film. Yang pertama dulu saya sedikit lupa judul filmnya apa, tapi yang terakhir itu judul filmnya Bethlehem Van Java,” paparnya. Sentuhan seni dapat terlihat di salah satu sudut halaman depan. Terdapat sebuah patung batu bergaya realis karya seniman lereng Merapi, Ismanto. “Saya sendiri juga sebenarnya tidak tahu persis makna apa yang ada pada bentuk patung tersebut. Namun saat itu ada seorang teman yang kebetulan baru pertama berkunjung ke rumah ini. Ketika melihat patung ini dia terdiam sejenak, kemudian berkata kepada saya bahwa yang membuat patung ini pasti orang yang memiliki kelebihan, padahal saat itu saya sama sekali belum bercerita apa-apa tentang patung itu,” tambah Maria.

    Pada area teras rumah yang dibangun sejak masa awal kemerdekaan Indonesia tersebut terdapat sebuah tempat yang posisinya lebih menjorok ke depan dibandingkan bagian teras lainnya. Bagian rumah yang dalam istilah Jawa disebut Kuncungan tersebut berfungsi sebagai tempat bersantai maupun menerima tamu jika bosan dengan suasana dalam rumah karena letaknya semi outdoor, sehingga semilir angin begitu terasa di area ini. Sofa set klasik dengan material kayu semakin memperkuat kesan rumah tradisional pada Kuncungan. Pada sisi teras sebelah kanan, terdapat sebuah lumbung padi kuno atau dalam bahasa Jawa disebut Gledheg yang hingga saat ini masih dipakai untuk menyimpan persediaan padi hasil panen. Kotak kayu yang sudah ada awal dibangunnya rumah tersebut dihiasi dengan ukiran-ukiran motif khas Jawa kuno, dilengkapi dengan roda kayu pada kaki penyangganya sehingga memudahkan saat akan memindahkannya. Pada sisi teras sebelah kiri terdapat sebuah tempat yang difungsikan juga sebagai ruang tamu, namun dengan ruangan yang lebih tertutup dibandingkan dengan area Kuncungan. Satu set sofa rotan bergaya klasik nampak tertata rapi, menampilkan sudut khas rumah Jawa kuno pada sisi area ini. Lampu gantung lawas dengan paparan cahaya temaram saat petang semakin menambah kesan hangat sudut ruang tamu teras.

    Masuk menuju area pendopo rumah yang digunakan untuk menerima tamu, nampak sebuah ruangan yang cukup luas dengan beberapa kursi dan meja tamu tertata rapi tepat di area tengah pendopo. Sisi klasik pada ruangan tersebut juga ditampilkan dari aplikasi pintu gebyok kayu yang menjadi sekat pemisah antara ruang pendopo dengan area teras depan dan area dalam rumah atau omah njero. Beberapa hiasan dinding berupa lukisan yang juga merupakan hasil karya dari seniman Ismanto nampak menghiasi sisi dinding area pendopo. “Kalau ruangan ini (pendopo –red) biasanya sering dipakai untuk acara kumpul keluarga besar karena memang cukup luas, jadi bisa menampung banyak orang. Sering juga saudara kalau sedang bersepeda ke Kaliurang, pulangnya mampir ke sini satu rombongan pesepeda gitu. Ya, biasanya pakai ruangan ini juga,” kata Maria.

    Bergeser menuju area rumah yang lebih pivate, yaitu area kamar tidur yang juga biasa disebut senthong. Dalam tradisi rumah adat Jawa, biasanya terdapat dua area senthong yaitu senthong kiwa dan senthong tengen yang biasanya difungsikan sebagai area kamar maupun tempat untuk menyimpan bahan makanan dan alat bertani. Kamar tidur utama di rumah ini terletak di sisi senthong kiwa, tepat di sebelahnya terdapat sebuah area terbuka tanpa atap yang disebut longkangan. Area longkangan digunakan sebagai kolam ikan yang menghadirkan nuansa gemericik air di dalam rumah. Tepat pada sudut kolam ikan terdapat sebuah patung batu berukuran besar dengan cekungan ke dalam berbentuk sosok Bunda Maria yang apabila diperhatikan cekungan pada batu tersebut layaknya sebuah cetakan untuk pembuatan patung.

    Melangkah lebih ke dalam area rumah, kita akan menuju pada omah njero yang biasa dipakai untuk melakukan aktifitas sehari-hari keluarga. Kamar tidur anak dan area dapur juga terletak di sisi samping area ini. Ruangan dengan bangunan Joglo yang terpisah dengan bangunan pendopo tersebut biasanya dipakai untuk berkumpul atau sebagai tempat makan sembari menonton bersama keluarga. Suasana ruangan ini terasa begitu sepi dan tenang karena letaknya yang berada paling dalam, sangat cocok sebagai tempat bersantai dan beristirahat. “Pada sisi belakang ruangan ini (omah njero –red) terdapat sebuah ruangan yang disebut senthong tengah atau krobongan yang dulunya dipakai untuk menyimpan benda-benda pusaka. Karena sekarang sudah tidak ada benda pusakanya, jadi ya sekarang hanya dipakai sebagai gudang saja,” canda Maria sembari menutup perbincangan. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah