Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Suguhan Langgam Budaya Lawasan Kopi Tubruk Den Jayeng

    Kopi Tubruk DenJayeng
    Kopi Tubruk DenJayeng
    Kopi Tubruk DenJayeng
    Kopi Tubruk DenJayeng
    Kopi Tubruk DenJayeng

    Dalam memilih restoran untuk memenuhi kebutuhan makan, belakangan ini masyarakat bukan hanya mencari berdasarkan menu makanannya saja, akan tetapi tempat yang unik serta cozy menjadi cukup diminati. Hal tersebut yang menjadi dasar Aldo Inka Giffari dalam membangun sebuah tempat makan yang tidak hanya mengunggulkan menu masakan lezat, tapi juga tempatnya yang memiliki daya tarik tersendiri. Dan akhirnya pada bulan Juli 2017 atau beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri, Ia mulai membuka restoran yang diberi nama Kopi Tubruk Den Jayeng.

    “Kalau untuk namanya sendiri sebenarnya ini (Den Jayeng –red) adalah nama dari kakek buyut saya yaitu Den Jayeng Sumardi. Nah tempat ini sendiri dulunya merupakan rumah tinggal beliau, namun setelah kakek buyut meninggal rumah ini sempat kurang lebih 27 tahun kosong tidak ditempati. Akhirnya saya dan keluarga mempunyai ide untuk memanfaatkan bangunan ini untuk dijadikan tempat makan. Memakan waktu setahun untuk mengkonsep dan merenovasi bangunan, ya alhamdulillah tahun ini sudah mulai beroperasi”, ungkap Aldo.

    Selain untuk memanfaatkan tempat yang ada, Aldo mengungkapkan bahwa Kopi Tubruk Den Jayeng sendiri didirikan untuk merangkul masyarakat sekitar dalam menjalankan usaha tempat makan ini. Semua karyawan yang bekerja di Kopi tubruk Den Jayeng merupakan warga sekitar, bahkan bahan baku makanan juga sebagian besar diperoleh dari hasil pertanian di kawasan resto yang berlokasi di Jalan Bantul-Samas KM. 22, Pinggir, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul tersebut.

    Nampak dari tampilan depan bangunan yang berdiri di atas lahan seluas ±2000 m² ini layaknya rumah tradisional Jawa. Mulai dari halaman depan yang digunakan sebagai lahan parkir pengunjung, pendopo, hingga toilet yang berdampingan dengan sumur lawas di area depan resto menampilkan kesan rumah tradisional Jawa yang cukup kental. “Kalau tata ruang di tempat ini memang tidak ada yang diubah dari dulu, bahkan furnitur seperti meja dan kursi semua masih asli peninggalan kakek buyut dulu. Paling hanya ada penambahan detai-detail kecil saja, dan itupun masih tetap dengan konsep desain rumah tradisional”, tambah Aldo.

    Memasuki area pendopo depan, nuansa hangat khas rumah Jawa langsung terasa menyambut pengunjung yang datang. Bangunan limasan asli dengan ciri khas permukaan lantai yang sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah, ditambah dengan furnitur-furnitur lawas yang tertata rapi membuat suasana nyaman sembari menyantap hidangan yang ada. Di tengah ruangan nampak sebuah lampu gantung klasik yang semakin memperkuat konsep yang diusung oleh Kopi Tubruk Den Jayeng. Kawasan yang masih cukup asri dan berada di sekitar persawahan memberikan nuansa sejuk di area ini. Kapasitas pendopo yang mampu menampung cukup banyak tamu menjadikan area ini sering dipesan untuk acara arisan maupun gathering komunitas.

    Bergeser ke dalam rumah, kita akan langsung menuju area Pringgitan depan yang juga digunakan sebagai tempat makan untuk tamu resto. Nuansa kesederhanaan khas rumah tradisional Jawa nampak begitu kental di ruangan ini. Dua set meja kayu dan kursi rotan lawas terjajar rapi pada ruangan yang dulunya digunakan sebagai ruang tamu tersebut. Beberapa barang-barang kuno seperti meja rias lengkap dengan cermin berbahan kayu dan sebuah lampu gantung klasik yang berada di tengah ruang semakin menambah kehangatan bagi pengunjung dalam menyantap hidangan di tempat ini. Sebuah almari kayu lawas yang sekaligus menjadi tempat televisi layar datar pada sudut ruangan menjadi pelengkap sisi hiburan untuk tamu resto.

    Menuju ke area resto yang lain, kita akan menuju area ruang Pringgitan belakang. Dengan dekorasi ruangan yang tidak jauh berbeda dengan ruang sebelumnya, Kopi Tubruk Den Jayeng ingin menyuguhkan kenyamanan layaknya berada di rumah sendiri kepada para pengunjung. Table set klasik berwarna merah dengan aksen kayu bersanding dengan sofa set kayu bermotif bunga yang tertata rapi di tengah ruangan memberikan nuansa ala rumah lawas yang cukup kental. Lantai sengaja dibiarkan tanpa hiasan keramik maupun marmer, hanya dicor semen yang semakin memperkuat aksen klasik yang ingin disuguhkan. Pada sisi belakang ruang Pringgitan belakang terdapat sebuah pintu menuju Senthong yang dimanfaatkan sebagai ruang mushola.

    Tepat di samping ruang Pringgitan dalam, kita akan langsung menuju ke ruang Pawon atau dapur tradisional. Area ini digunakan sebagai ruang prasmanan, dimana para tamu mengambil menu makanan yang telah disediakan. Dengan konsep prasmanan, pengunjung bebas memilih dan mengambil sendiri menu hidangan yang ada sesuai dengan yang diinginkan. Disajikan di dalam wadah-wadah sayur berbahan gerabah dan ditata di atas sebuah meja kayu, para tamu seakan diajak bernostalgia ketika berkunjung ke rumah simbah. Pada sudut ruangan terdapat sebuah meja kayu yang digunakan sebagai meja kasir, berdampingan dengan amben lawas lengkap dengan perabotan masak dan beberapa bahan mentah yang tertata di atasnya.Di depan area dapur, terdapat sebuah ruang yang dulunya digunakan sebagai ruang keluarga. Untuk furnitur seperti meja dan kursi yang digunakan di ruangan ini di dominasi oleh material kayu. Sebuah kursi memanjang kayu dengan aksen ukiran berwarna hijau gelap yang semakin mempercantik desain klasiknya.

    Puas menyusuri area dalam bangunan, kita akan menuju area outdoor Kopi Tubruk Den Jayeng. Pada area luar juga tak kalah menarik bagi pengunjung, dengan adanya gazebo-gazebo kayu di sekeliling rumah. Dengan adanya pepohonan perindang di sekitarnya, membuat suasana di area outdoor menjadi lebih sejuk sembari menikmati hidangan lezat dari resto ini. Di area belakang rumah terdapat beberapa meja dan kursi kayu yang disediakan bagi pengunjung yang ingin menikmati menu yang ada sambil merasakan semilir angin. Untuk para tamu yang hobi berfoto dan selfie juga disediakan sebuah spot berupa kereta andong lawas di sekitar area belakang. “Kalau kereta andong ini dulunya saya dapatkan di daerah Kasongan dalam kondisi rusak, karena memang kereta ini adalah andong asli Jawa Barat buatan lawas sekitar tahun 1900an”, ungkap Aldo.

    Spot yang tak kalah menarik juga terdapat pada sudut area outdoor belakang. Sebuah kolam buatan lengkap dengan ikan-ikan berukuran sedang, dilengkapi dengan sepasang perahu sampan yang dapat digunakan oleh pengunjung. Selain sebagai area bermain bagi keluarga yang mengajak anaknya, area kolam juga menjadi spot berfoto favorit pengunjung. Perahu sampan yang digunakan adalah perahu nelayan yang didatangkan langsung dari daerah Pasuruan. Kemudian untuk mengelilingi area Kopi Tubruk Den Jayeng namun tidak ingin capek berjalan kaki, resto ini juga menyediakan odong-odong atau kereta kayuh berbentuk mobil antik yang dapat digunakan pengunjung untuk berkeliling menikmati keindahan area outdoor resto Den Jayeng.

    Membahas mengenai menu makanan yang ada di Kopi Tubruk Den Jayeng, resto yang beroperasi setiap hari mulai pukul 11.00 hingga last order pukul 22.00 ini menyajikan masakan-masakan khas rumahan, seperti sayur brongkos, sayur bobor, aneka oseng, dan mangut lele. Untuk lauk Kopi Tubruk Den Jayeng menyediakan aneka menu, seperti ayam goreng, pindang telur, tahu/tempe bacem, hingga gereh layur. Bagi pengunjung yang ingin sekedar menikmati cemilan, resto ini menyediakan beberapa menu cemilan, seperti pisang goreng dengan toping coklat keju susu, roti bakar, tempe mendoan, kentang goreng, hingga risol mayo. Untuk menu minuman terutama kopi, resto Den Jayeng menawarkan beberapa menu kopi tubruk yang menjadi andalan, seperti kopi tubruk robusta Bali, kopi tubruk arabika Preanger, dan kopi tubruk arabika Kintamani. Namun bagi pengunjung yang tidak menyukai kopi, resto ini mempunyai menu minuman lainnya. Teh tubruk gula batu, wedhang uwuh, dan wedhang tape susu dapat menjadi pilihan alternatif selain kopi. “Harga yang kami tawarkan cukup terjangkau. Untuk menu makanan dan cemilan mulai dari harga Rp. 1500 rupiah hingga Rp. 8500 rupiah saja. Kemudian untuk menu minuman dibanderol mulai dari harga Rp. 3000 rupiah hingga Rp. 9000 rupiah saja”, pungkas Aldo. Farhan-red

    Kopi Tubruk DenJayeng
    -lenggahan, wedhangan, Janganan-

    Jl. Bantul-Samas KM 22, Pinggir, Sidomulyo,
    Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta
    Hotline Reservasi : 0813 2943 2468
    Instagram : kopitubrukdenjayeng

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah