Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Tumbuhnya Ruang Ekspresi Diri Rumah Seni Dunadi

    Dunadi (kedua dari kiri) bersama keluarga
    Rumah Seni Dunadi
    Patung Bali pada teras rumah dan Instalasi seni patung di area taman
    Area teras rumah dengan furnitur kayu klasik
    Kamar tidur dengan dominasi unsur kayu

    Jejak nama Dunadi lebih dikenal sebagai pematung monumen. Karya-karya monumental Dunadi terpajang hampir di setiap sudut kota di Indonesia, beberapa terpajang di Eropa dan Asia. Pekerjaannya sebagai pematung monumen tak membuatnya lengah. Sesekali ia mengerjakan patung pribadi secara “tersembunyi” dan sesekali diikutkannya dalam pameran-pameran bersama baik lokal maupun mancanegara. Sebagai pematung monumen, prestasinya terbilang tinggi. Dapat dikatakan merupakan salah satu pematung monumen berskala internasional yang dimiliki negeri ini. Dengan bermodal kemampuan teknik realis yang mumpuni, ia menjadi salah satu murid dan generasi penerus yang berhasil pasca pematung besar almarhum Edhi Sunarso. Kegairahan Dunadi yang tercermin dari setiap hasil karya seni patung personalnya dipenuhi dengan karya-karya yang bertemakan “Tradisi dan Kemanusiaan”. Bapak tiga orang putra tersebut juga begitu responsif terhadap situasi di sekitarnya. Karya pribadinya membawa kita ke dalam wacana tentang krisis psikososial yang terjadi dalam kehidupan manusia.

    Bukan hanya keahliannya dalam menciptakan patung-patung bernilai seni tinggi, rupanya Dunadi juga piawai dalam mendesain hunian yang berkarakter dan nyaman bagi keluarganya yang beralamat di Jalan Prof. Dr. Wirjono Projodikoro (Ring Road Selatan), Tegal Krapyak RT 01, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Hunian milik Dunadi yang berada satu lokasi dengan galeri seni miliknya yaitu Pendhapa Art Space tersebut tidak lepas dari sentuhan instalasi seni di dalamnya. “Pada awalnya dulu sekitar tahun 2000, di tempat ini semua menjadi satu mulai dari rumah pribadi, ruang patung, hingga workshop pengecoran perunggu. Namun pasca tragedi gempa tahun 2006 yang mengguncang Yogyakarta, tempat ini juga terkena dampak dari bencana alam tersebut. Kemudian setelah itu, workshop dipindah ke lokasi lain sedangkan di sini sempat digunakan sebagai gedung serba guna dan dibuka untuk umum pada tahun 2011. Kemudian pada tahun 2013 berkembang menjadi art space lalu tahun 2016 diresmikan sebagai badan usaha mandiri yang bergerak dalam bidang kegiatan kesenian dan kebudayaan bernama Pendhapa Art Space,” ungkap Dunadi.

    Hunian pribadi milik keluarga Dunadi sejatinya berada di sisi belakang area dari art space yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 6000 m² tersebut. Sekilas memang tidak nampak apabila dilihat dari bagian depan, karena terdapat Pendhapa Art Space dan juga Pas Pojok Coffeeshop yang dikelola oleh putranya. Masuk melalui sebuah ruang dengan bangunan Pendopo yang diperoleh dari daerah Ponorogo di dalamnya, terdapat sebuah indoor space yang biasa digunakan sebagai ruang pameran seni. Lantai atas bangunan tersebut juga difungsikan sebagai galeri seni dimana beberapa hasil karya milik Dunadi dan seniman-seniman lain dipamerkan. Ruangan dengan nuansa putih tersebut tampak layaknya sebuah surga bagi pecinta seni yang berkunjung.

    Masuk lebih ke dalam area hunian, terdapat ruang terbuka cukup luas layaknya taman dengan pepohonan dan tanaman hijau yang membuat nuansanya lebih natural. Pada sisi kiri area taman terdapat sebuah panggung terbuka yang biasa digunakan sebagai panggung kesenian dan pertunjukan. Area taman tersebut juga tidak lepas dari instalasi seni patung dengan berbagai bentuk di beberapa sudutnya. Tepat pada sisi belakang dari panggung pertunjukan, terdapat sebuah ruangan yang merupakan galeri karya seni ciptaan Dunadi. Berbagai karya seni patung dengan bentuk yang unik nampak memenuhi segala sudut ruang. Di samping ruang galeri, terdapat ruang Gamelan tempat menyimpan koleksi Gamelan milik Dunadi yang sesekali juga digunakan untuk pertunjukan. “Saya mendirikan art space ini awalnya sebagai ruang srawung bagi para seniman. Jadi di sini kami bisa ngobrol dan bertukar pikiran tentang seni. Setelah dikelola oleh anak saya dan menjadi Pendhapa Art Space seperti sekarang, jadi banyak digunakan sebagai venue pameran, seni pertunjukan, hingga untuk acara wedding juga. Bahkan tak jarang juga karya seni saya laku karena acara-acara tersebut. Ya bisa dibilang di sini setiap hari saya sudah pameran karya-karya saya, jadi tidak perlu ikut pameran-pameran keluar lagi,” kekeh pria asli Bantul tersebut.

    Area hunian terletak di ujung taman dengan step stone yang tertata rapi diantara hamparan rumput hijau. Bangunan utama rumah pribadi milik Dunadi yang diapit oleh sepasang pohon Pulle pada sisi depannya tersebut bergaya Jawa klasik dengan menggunakan bangunan limasan. Unsur kayu nampak begitu mendominasi eksterior memberikan kesan hangat dan vintage pada rumah tersebut. Konsep rumah dengan ketinggian yang lebih dibanding permukaan tanah diaplikasikan, sejalan dengan konsep rumah Jawa yang diusung. Pada sisi depan bangunan terdapat sebuah teras lengkap dengan kursi kayu sebagai ruang bersantai sembari menikmati suasana taman nan sejuk. Sepasang karya seni patung berbentuk manusia juga menghiasi area teras. Tepat di tengahnya terdapat table set kayu klasik dan sebuah patung khas Bali dengan ukuran cukup besar menjadi dekorasi teras rumah. Dinding bangunan menggunakan gebyok kayu dengan ukiran-ukiran yang semakin memperkuat konsep desain rumah Jawa.

    Memasuki ke dalam hunian rumah, terdapat sebuah kamar tidur bernuansa sederhana nan nyaman. Sebuah ranjang tidur kayu klasik berukuran king size dengan balutan bed cover berwarna putih sebagai tempat beristirahat. Nuansa kayu juga begitu mendominasi seisi kamar tidur, terlihat dari semua furnitur yang digunakan berbahan kayu dengan warna natural. Sebuah cabinet kayu bergaya klasik lengkap dengan televisi sebagai entertainment nampak pada salah satu sudut kamar. Sebuah lukisan berukuran besar dan lampu gantung vintage menjadi dekorasi yang semakin mempercantik tampilan interior kamar. Bathroom sebagai fasilitas kamar tidur juga menjadi sisi yang nampak diperhatikan. Fasilitas modern menjadi hal yang diaplikasikan pada kamar mandi untuk menunjang kenyamanan di dalamnya. Dengan dominasi warna putih, bathroom tersebut nampak bersih dan simpel. “Dalam mengkonsep rumah ini sebenarnya tidak ada gambar baku sebagai acuan, apalagi menggunakan jasa arsitek. Prosesnya hanya mengalir dan bertahap dari ide-ide saya, istri, dan anak-anak saja. Maka tidak heran apabila dalam pembangunannya memakan waktu yang cukup lama,” imbuh Dunadi.

    Beralih menuju bangunan lain pada area rumah, terdapat ruang lain yang sengaja disediakan Dunadi apabila ada kerabat maupun saudara yang menginap. Konsep bangunannya kurang lebih sama dengan bangunan sebelumnya dengan tetap mempertahankan gaya rumah Jawa. Pada sudut lain di area taman, tepat pada sisi depan bangunan rumah kedua terdapat sebuah air mancur yang mempercantik sisi dekorasi taman depan rumah. “Sebenarnya tidak setiap hari saya menempati rumah ini, kebetulan ada rumah pribadi yang sehari-hari saya tinggali bersama keluarga. Namun saat pikiran suntuk atau butuh refresh, pasti saya sempatkan untuk ke sini, kadang juga menginap di sini. Rencana ke depannya mungkin rumah ini akan disewakan menjadi guest house atau semacamnya. Dari sisi desain kan juga sudah mendukung untuk dibuat penginapan, jadi mungkin nanti tinggal pelaksanaannya yang saya serahkan sepenuhnya pada anak sulung saya,” pungkas Dunadi mengakhiri perbincangan. Farhan-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain