Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Upaya Mengatasi Backlog Dengan Peningkatan Kompetensi Bisnis Hunian Vertikal

    Ketua DPD REI DIY bersama perwakilan peserta dan pembicara
    Kunjungan ke Apartemen Malioboro City
    Kunjungan ke Student Castle Apartement
    Sambutan dari Wakil Ketua DPD REI DIY bidang Diklat, Hugi Kahyadi
    Para seluruh peserta dan panitia Diklat di lokasi Malioboro Park View

    Jogjakarta merupakan salah satu daerah utama tujuan wisata nasional dan predikat sebagai kota pendidikan masih menjadi magnet kuat di Daerah Istimewa ini. Tak mengherankan apabila dua faktor tersebut makin membuat para investor skala lokal maupun level nasional tertarik menanamkan modalnya. Salah satu industri yang tumbuh positif ialah bisnis properti. Banyak masyarakat yang terjebak untuk berlomba berinvestasi yang mengarah ke landed property. Seiring berjalannya waktu dan semakin terbatasnya lahan yang diperuntukkan untuk menghadirkan perumahan, membuat harga tanah semakin mahal khususnya di wilayah Kotamadya Jogjakarta, lalu Kabupaten Sleman, dan sekarang sudah masuk di beberapa titik kawasan di wilayah Kabupaten Bantul, sehingga membuat para developer kesulitan mendapatkan land banking yang masuk matematika bisnis mereka.

    Dan mulai sekitar tahun 2014 lalu, tren investasi properti di Jogjakarta, mulai mencari alternatifnya, yakni mencoba menghadirkan kawasan hunian vertikal dalam wujud rumah susun komersil dengan kemasan yang modern atau akrab disebut apartemen. Seperti kota-kota besar lainnya, tren hunian vertikal mulai menjamur dibeberapa sudut kota Jogja, khususnya di daerah Kabupaten Sleman.

    Model hunian vertikal dianggap menjadi solusi terbaik mengatasi backlog atau kesenjangan antara permintaan pasar dan penyediaannya, dalam hal ini permasalahan selisih pasokan dan permintaan rumah di Jogja. Pasalnya dari DPD REI DIY sendiri baru mampu menyediakan 300 hunian bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) setiap tahunnya. Artinya masih banyak kebutuhan yang belum mampu dipenuhi, padahal kebutuhan akan hunian terus meningkat.

    Fenomena inilah yang dibaca REI sebagai organisasi pengusaha properti mencoba memberikan upaya pencerahan secara keseluruhan bagi seluruh anggotanya. Melalui Badan Pendidikan & Pelatihan (Diklat) DPP REI bersama PT. Bank Pembangunan Negara (BTN) menyelenggarakan diklat bertajuk "Strategi Perencanaan Pembangunan dan Pengelolaan Apartemen/Rumah Susun" di Hotel Pesona Malioboro, yang dilangsungkan selama tiga hari, yakni pada tanggal 7-9 Mei 2018.

    Dalam diklat tersebut peserta akan diberikan beragam materi yang disampaikan. Di antaranya tata cara regulasi pendirian apartemen, pemilihan lokasi, feasibility study, proses sertifikasi dan pertelaan apartemen, serta cara pengelolaan apartemen. Diklat ini dihadiri sekitar 70 peserta yang berasal dari anggota DPD REI DIY dan sekitarnya, investor lokal, serta beberapa akademisi dan mahasiswa. Tak hanya mendengarkan pemaparan narasumber, para peserta diklat juga diajak untuk meninjau langsung tiga apartemen di Jogja, yakni kawasan apartemen Mataram City, Student Castle, Malioboro Park View sebagai contohnya. "Pelatihan ini kami adakan untuk meningkatkan profesionalisme dan pengetahuan anggota REI. Tujuannya agar siap menghadapi era masyarakat modern dengan generasi milenialnya ini, yang meliputi gaya hidup masyarakat dalam memilih hunian," kata Hugi Kahyadi, selaku Wakil Ketua Bidang Diklat DPD REI DIY.

    Dikutip dari pernyataan MR Priyanto, selaku Ketua Badan Diklat DPP REI bahwa penyediaan hunian mendatar sudah semakin sulit dilakukan, terlebih harga dasar tanah di Jogja yang ,makin naik dan tidak rasional, khususnya di daerah yang masih strategis dan dipandang layak didirikan kawasan hunian rumah tinggal. Tak hanya itu, telah terjadi pergeseran gaya hidup masyarakat era milenial ini. Mayoritas anak muda kini tak terlalu berminat dengan rumah berhalaman besar karena alasan kepraktisan. Mereka lebih memilih rumah dengan lahan seadanya namun fasilitasnya komplit, seperti apartemen.

    Hal ini juga diamini oleh Ketua DPD REI DIY Rama Adyaksa Pradipta, bahwa kini para developer sudah mulai merasa kesulitan membangun rumah dan menjualnya dengan harga di bawah 500 jutaan dan alasannya pasti karena harga dasar tanahnya sudah mahal. Padahal harga yang masih tergolong terjangkau untuk kemampuan finansial masyarakat lokal Jogja dan sekitarnya, berkisar di range harga 300 - 400 jutaan untuk rumah kecil tipe sederhana. "Harga itu masih bisa dijangkau untuk para pegawai swasta, PNS, maupun keluarga muda yang memang masih banyak membutuhkan rumah tinggal dengan tipe antara 36 sampai tipe 45-an," tuturnya.

    Sementara itu, meski sampai saat ini sudah terdapat 18 tower hunian vertikal di seantero Jogja, namun hal ini juga belum mampu menyelesaikan permasalahan backlog. Hal tersebut disebabkan karena banyak developer yang mayoritas dari developer kelas nasional tersebut kebanyakan memasarkan tower apartemennya untuk investasi. Konsep yang mereka bangun merupakan apartemen dengan model ukuran studio yang diperuntukkan bagi para pelajar atau mahasiswa. Sedangkan segmen masyarakat menengah ke bawah tetap tidak dapat mengaksesnya karena tidak sesuai kebutuhan. "Tipe studio memang mudah memasarkannya tapi tidak mengurangi backlog Jogja. Maka kami, DPD REI DIY mengajak para developer Jogja untuk meningkatkan kompetensi dalam membangun apartemen ini agar punya pengetahuan setara dengan pengusaha skala nasional. Sehingga kita di Jogja tidak hanya jadi penonton," ujarnya. Pras-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain