Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


When In Solo Nostalgia Kampung Laweyan Tempo Dulu

    When In Solo
    Ruang keluarga sebagai fasilitas bagi tamu dengan dekorasi furnitur antik
    Konsep sederhana pada area dapur dengan fasilitas modern
    Ruang makan dengan furnitur & pernak-pernik mewah klasik
    Kamar tipe VIP dengan ranjang lawas khas Jawa kuno

    Kampung Laweyan di Solo identik akan destinasi belanja batik yang populer. Namun selain itu, Laweyan juga memiliki banyak sudut cantik yang instagramable. Sejak abad ke-19 silam hingga hari ini, Kampung Laweyan masih mempertahankan eksistensinya sebagai penghasil kerajinan batik. Hal itu pun dapat dilihat melalui sejumlah tempat belajar pembuatan batik hingga toko-toko yang menjualnya. Namun bagi wisatawan yang tidak ingin belajar atau membeli batik, Kampung Laweyan tetap bisa menjadi pilihan destinasi menarik di Solo. Coba saja jelajahi setiap sudut gang di Laweyan yang menjadi saksi bisu sejarah pembuatan batik di sana. Melewati setiap gang sempit Laweyan, rasanya seakan membawa diri untuk kembali ke masa lampau. Jendela kayu jadul hingga tembok bata dengan cat yang luntur termakan cuaca, menjadi bukti akan otentiknya Laweyan. Tersembunyi di balik tembok Laweyan, wisatawan juga dapat menjumpai sejumlah tempat produksi batik. Baik yang dilakukan dengan metode cap hingga tradisional. Jika ingin, wisatawan juga dapat melihat aktivitas pembuatan batik secara langsung di salah satu sentra pembuatannya.

    Bagi wisatawan yang memutuskan untuk bermalam di daerah Laweyan, tidak perlu khawatir karena di kawasan yang terkenal sebagai tempat berdirinya organisasi Syarekat Dagang Islam tersebut sudah banyak berkembang penginapan dan juga hotel. Salah satu penginapan dengan nuansa otentik khas Laweyan yang dapat dipilih wisatawan di daerah Kampung Laweyan adalah When in Solo. Perpaduan antara tradisi dan kemewahan itulah yang ditawarkan oleh When in Solo kepada tamu yang ingin menikmati suasana Kampung Laweyan dengan suasana rumah Jawa tempo dulu nan kental. Nuansa herritage yang begitu tenang menjadi unsur yang sangat menonjol serta mendominasi dari penginapan yang beralamat di Gang Setono No. 12 RT 02 RW 02, Laweyan, Solo tersebut. When in Solo menawar­kan suasana menginap dengan ciri khas tempo dulu. Konsep rumah kolonial begitu kental akan filosofi budaya Jawa. Budaya menjadi ciri khas khusus dari tempat menginap dengan bangunan rumah yang sudah ada sejak tahun 1700an tersebut. Penginapan ini dibangun agar tamu dapat merasakan pengalaman menginap yang tidak akan terlupakan.

    Mengenai penamaan When in Solo pada penginapan tersebut berasal dari anak pertama dari pemilik yang mempunyai arti “Ketika di Solo”, karena owner juga ingin menghadirkan sekaligus memperkenalkan budaya Jawa yang masih otentik kepada tamu ketika mereka berada di Solo, khususnya Kampung Laweyan. “Jadi tamu yang menginap di sini akan kami berikan pengalaman tinggal di rumah peninggalan jaman kolonial dengan sisi historis yang begitu kental. Bahkan kedepannya nanti, owner juga berencana untuk merubah namanya menjadi When in Laweyan dengan maksud agar Kampung Laweyan lebih dikenal oleh masyarakat luas dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke kampung wisata tersebut,” ujar Rully, ST. MT. IAI., Operational Manager When in Solo.

    Untuk dapat mencapai penginapan yang mulai beroperasi sejak awal tahun 2017 tersebut, tamu harus berjalan kaki menyusuri gang Kampung Laweyan selepas dari Jalan Sidholuhur sejauh kurang lebih 50 meter. Perjalanan tersebut tidak akan terasa membosankan karena di sepanjang gang, tamu akan disuguhi pemandangan bangunan-bangunan tua dengan temboknya yang tinggi serta keramahan penduduk sekitar yang akan menyambut setiap tamu. Secara fasad bangunan mungkin orang tidak akan mengira bahwa itu adalah sebuah penginapan karena dikelilingi tembok bangunan yang cukup tinggi dengan pintu gerbang kayu/regol berukuran besar. Begitu regol dibuka, barulah nampak sebuah bangunan rumah bergaya kolonial yang begitu kental dengan halaman cukup luas. “Bangunan penginapan ini dulunya memang merupakan bekas rumah pribadi dari seorang juragan batik yang cukup disegani di daerah ini. Pada tahun 2015, owner yang merupakan keturunan Solo berhasil membeli rumah tersebut. Kemudian direnovasi yang menghabiskan waktu sekitar 2 tahun hingga akhirnya jadi seperti sekarang. Dalam proses renovasi, kami berusaha mengembalikan sisi originalitas bangunan lengkap dengan dekorasi dan furnitur lawas di dalamnya,” papar Rully.

    Sebuah teras depan rumah menjadi identitas yang memperkuat gaya kolonial bangunan seluas kurang lebih 500 m² tersebut. Teras yang sejatinya difungsikan sebagai area lobby dan juga tempat bersantai bagi tamu tersebut dilengkapi dengan table set lawasan bermaterial kayu, berpadu dengan lantai tegel bermotif menghadirkan kesan klasik pada area teras. Beberapa pernak-pernik vintage seperti lampu gantung, vas porselain antik, serta kipas angin kuno semakin memperkuat konsep yang diusung. Sebagian besar barang-barang antik yang terpajang di penginapan ini merupakan barang koleksi dari owner. Tanaman hias serta pohon perindang pada area teras memberikan nuansa sejuk di area teras tersebut, sehingga tamu betah berlama-lama menghabiskan waktu untuk sekedar bersantai.

    When in Solo memiliki total 3 kamar tidur dengan 2 pilihan tipe, yaitu Standard Room dan VIP Room. Untuk kamar VIP terletak di sisi tengah, tepatnya berada pada ruang senthong. Sedangkan 2 kamar tipe standar terletak pada sisi kanan atau sering disebut gandok tengen. Tepat pada bagian depan kamar VIP atau pringgitan terdapat sebuah ruang untuk berkumpul dan bersantai dengan konsep lesehan yang kental akan filosofi budaya Jawa. Ruangan yang sejatinya merupakan ruang tamu tersebut memiliki lantai yang lebih tinggi dibanding sisi lantai yang lain, hal ini bermakna sebagai sebuah penghormatan kepada tamu. “Bukan hanya dekorasi interior dan eksterior ala rumah Jawa kuno yang ingin kami pertahankan, namun juga filosofi yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut kami harapkan juga dapat menjadi sarana edukasi bagi tamu yang datang, karena kebanyakan berasal dari wisatawan luar kota Solo, bahkan ada beberapa dari mancanegara. Sejauh ini mereka sangat tertarik dengan konsep penginapan di When in Solo,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai seorang dosen di salah satu kampus di kota Solo tersebut.

    Nuansa klasik juga turut dihadirkan pada sisi ruang kamar tidur dengan dekorasi layaknya kamar tidur bangsawan Jawa pada jaman dahulu. Tidak banyak dekorasi dan pernak-pernik yang diaplikasikan pada kamar tidur. Ranjang tidur kayu yang dilengkapi dengan kelambu memberikan kesan tersendiri pada tamu ketika beristirahat di malam hari. Sebuah meja rias kuno dan lampu gantung sebagai penerangan kamar semakin memperkuat nuansa vintage di dalamnya. Walaupun berkonsep ala rumah Jawa kuno, namun air conditioner dan kamar mandi dengan fasilitas modern tetap diberikan untuk menjamin kenyamanan tamu yang menginap. “Secara keseluruhan yang membedakan kamar tipe standard dan VIP hanya pada luasan dan letak kamar mandinya saja. Untuk kamar VIP, kamar mandi terletak di dalam kamar. Sedangkan kamar tipe standard, kamar mandinya terletak di luar kamar namun masih berada area tersebut. Bahkan kami juga akan menyerahkan kunci kamar mandi kepada tamu yang menginap di kamar tipe standard untuk menjaga privasi mereka,” tambah Rully.

    When in Solo menyediakan fasilitas dining room dan ruang keluarga bagi tamu yang menginap. Untuk ruang keluarga berada pada gandok tengen yang masih berada pada area kamar standard. Kemudian area ruang makan berada pada gandok kiwo yang dapat digunakan tamu untuk memasak serta makan bersama. Bagi wisatawan yang tertarik untuk merasakan pengalaman menginap di When in Solo, pengelola mematok rate seharga 500 ribu rupiah per malam untuk kamar tipe Standard Room. Sedangkan kamar tipe VIP Room ditawarkan dengan harga 600 ribu rupiah per malamnya, sudah termasuk breakfast untuk 2 orang. Bagi tamu yang datang bersama sanak saudara maupun kerabat, penginapan yang tercatat sebagai bangunan cagar budaya tersebut juga dapat disewa satu rumah dengan kapasitas 9 hingga 14 orang. Harga sewa satu rumah dengan kapasitas maksimal 9 orang yaitu 2 juta rupiah per malam, sedangkan untuk kapasitas hingga 14 orang dihargai 2,5 juta rupiah termasuk breakfast. “Untuk mengangkat kearifan lokal, sarapan untuk tamu biasanya kami memberikan makanan khas Jawa, seperti nasi liwet dan sebagainya. Selain itu, When in Solo juga sering dipakai untuk foto pre wedding. Untuk tarif pre wedding kami tetapkan sama dengan harga sewa kamar per malamnya. Okupansi tamu yang menginap di sini akan mencapai puncaknya pada weekend dan hari libur, biasanya selalu full pada saat-saat seperti itu,” pungkas Rully. Farhan – red

    When in Solo
    Jalan Gang Setono, No.12
    Laweyan, Surakarta
    Telp. (0271) 7462206
    Ig : wheninsolo.gh

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain