Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Wujud Kecintaan Klasik Jawa Rumah Canting Nurdi Antoro

    Ir. R.M. Nurdi Antoro bersama Istri
    Ruang tamu dengan aksen Jawa klasik
    Area ruang makan dan dapur semi outdoor
    Area outdoor belakang dengan gazebo & kandang sapi
    Area pendopo dengan sentuhan nuansa natural nan sejuk

    Rumah atau omah dalam masyarakat Jawa memiliki arti yang mendalam. Dalam literatur-literatur Jawa banyak disebutkan, omah merupakan jagad kehidupannya yang tertuang dalam sebuah bangunan. Masyarakat Jawa mendesain omah, sebagai representasi dari makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos adalah lingkungan alam sekitarnya, dan mikrokosmos adalah arsitektur bangunan dari tempat tinggal itu sendiri. Kiranya hal tersebutlah yang diusung oleh Ir. RM. Nurdi Antoro dalam membangun hunian tempat tinggalnya. Rumah tak hanya sebagai tempat tinggal atau tempat berteduh saja namun harus memberi berkah bagi penghuni dan lingkungan sekitarnya. Kecintaan seseorang terhadap suatu hal, bila diwujudkan akan menghasilkan sesuatu yang amat bernilai bahkan syarat makna. Kecintaan Nurdi pada rumah Jawa contohnya, bermula dari keprihatinan beliau kepada rumah tradisional Jawa yang perlahan mulai punah dan jarang ditemui. Hal tersebut membuat hatinya tergerak untuk melestarikan dan mendirikannya sebagai hunian pribadi.

    Rumah yang beralamat di daerah Tamanan, Banguntapan, Bantul ini memang berbeda dengan rumah-rumah yang lainnya baik dari konsep maupun ornamen yang ada di dalamnya. Dituturkan Nurdi, dalam perjalanan membangun hunian tersebut tidak pernah terbayang untuk membangun hunian dengan konsep bangunan Jawa klasik. “Dari awal saya sebenarnya tidak punya konsep dalam membangun rumah ini, hanya istri saya bercita-cita punya rumah ndeso dan berada di lingkungan ndeso” tutur Nurdi. Lebih lanjut diceritakan Bapak yang berprofesi sebagai Dosen di salah satu perguruan tinggi di Jogja ini, bahwa dalam pembangunan rumah tersebut tidak sekali jadi. “Pembangunan rumah ini bertahap, semacam rumah tumbuh”, ucapnya.

    Rumah yang berdiri di atas lahan total seluas kurang lebih 1000 meter persegi ini terbagi menjadi tiga bangunan utama. Nuansa pedesaan sangat kental hadir pada hunian milik Nurdi ini. Suasana pedesaan yang nyaman, damai, serta jauh dari hiruk pikuk keramaian kota begitu terasa ketika berada di pekarangan rumah. Melihat sekeliling rumah, berbagai jenis pepohonan dan tumbuhan lainnya hadir sebagai perindang. Pepohonan ini mempunyai peran sebagai paru-paru alami dan menyaring polusi udara. Di sini kita bisa menghirup udara segar dan bersih jauh dari polusi udara. Semilir angin bertiup di antara dedaunan menambah kesan damainya pedesaan. Terasa begitu sejuk ketika menapakan kaki masuk ke dalam pekarangan dan taman. Bangunan Joglo sebagai identitas bangunan pedesaan jaman dahulu dihadirkan dalam hunian tersebut. “Sebagai orang desa, saya ingin melestarikan budaya pedesaan, yang sebagian besar rumah ada Joglonya sebagai tempat untuk berkumpul dengan keluarga dan kegiatan warga kampung,” tutur Nurdi.

    Memasuki bangunan depan yang berfungsi sebagai hunian, konsep natural berpadu dengan arsitektur Jawa sudah nampak sejak berada pada halaman depan rumah. Desain bangunan utama ini sendiri tidak sepenuhnya bergaya tradisional, namun ornamen-ornamen yang diaplikasikan dapat menampilkan konsep Jawa yang diusung oleh pemilik. Pagar batuan alam yang mengelilingi area rumah bergaya klasik tersebut nampak kokoh berdiri. Dikombinasikan dengan pintu gerbang bernuansa kayu yang nampak menggoda mata setiap orang yang melewatinya. Aplikasi batuan alam dan rumput hijau serta beberapa pohon perindang menjadikan halaman depan rumah terasa hidup. Sebuah kolam ikan yang dilengkapi dengan sebuah spot untuk bersantai berada tepat di ujung halaman depan rumah yang membuat suasana semakin syahdu. Pintu utama dan jendela kayu yang dilengkapi dengan ukiran-ukiran bermotif yang khas memberikan sentuhan etnik pada sisi bagian depan rumah. Masuk ke dalam ruangan utama, konsep ruang tanpa sekat menjadikan kesan lega di dalamnya. Sebuah dipan atau bangku panjang mirip sofa berbahan kayu dengan desain ukiran-ukiran yang menampilkan sisi etnik nampak pada sisi ruangan. Dipan lawas tersebut diperoleh Nurdi langsung dari daerah Madura yang merupakan produk khas dari kota tersebut. Area ruang tengah ini biasanya dipakai untuk berkumpul bersama keluarga sembari menonton tayangan televisi. Beberapa dekorasi lukisan dan sebuah lampu gantung bergaya klasik menjadi pemanis dekorasi ruangan ini.

    Terpisahkan oleh sebuah gebyok kayu kuno dari ruangan utama, terdapat sebuah ruang makan yang menjadi satu dengan area dapur bersih. Material kayu yang ada pada table set dan kitchen set di area ini benar-benar tidak luput dari sentuhan ukiran, menjadikan perpaduan desain modern minimalis dan etnik nampak begitu cantik. ”Jadi memang antara bangunan satu dengan bangunan lain di area rumah ini sengaja dibuat terbuka dan nampak tanpa sekat, sehingga kesannya jadi lebih luas dan tentunya udara di dalam rumah lebih sejuk,” ungkap Nurdi.

    Beralih dari bangunan utama rumah, terdapat sebuah lorong pendek yang menghubungkan area hunian dengan pendopo belakang. Lorong dengan sentuhan material batu alam tersebut terlihat eksotis dengan tambahan pintu kayu ala kerajaan dengan ukuran cukup besar, seakan menjadi gerbang menuju dimensi lain. Area pendopo belakang didesain layaknya sebuah area untuk meeting maupun acara lainnya. Sebuah bangunan Joglo dengan beberapa table set kayu bergaya klasik yang nampak tertata rapi di tengah area pendopo. Pria penghobi dan kolektor seni lukis tersebut menceritakan bahwa area belakang rencananya akan digunakan sebagai galeri edukasi dan workshop batik yang diberi nama Omah Canting. “Kebetulan saya punya relasi yang concern di bidang seni dan pengembangan potensi daerah, namanya Mbak Tika. Jadi di sini akan menjadi semacam galeri dan workshop yang berfokus pada pemberdayaan kain batik sebagai pakaian sehari-hari dengan gerakan yang diberi nama “Canting for Life”, paparnya.

    Dekorasi ruang pendopo tersebut dipenuhi dengan unsur batik di beberapa sudutnya. Gebyok-gebyok lawas yang telah direnovasi dengan kain batik berbagai motif nampak menghiasi sekeliling area pendopo, layaknya sebuah galeri yang menampilkan jenis motif-motif kain batik. Barang-barang kuno koleksi pribadi owner juga tidak luput menghiasi ruang ini, seperti lukisan, beberapa payung lawas ala kerajaan, serta tombak-tombak yang terpampang rapi. Tanaman hias serta pepohonan perindang yang ada di sekitar pendopo membuat nuansa sejuk dan nyaman sebagai tempat untuk bersantai. Table set kayu bergaya klasik dengan material kayu tertata di segala sisi pendopo. “Biasanya kalau ada acara seperti gathering dan kunjungan ya diadakan di pendopo ini, karena ruangannya lebih terbuka dan mampu menampung lebih banyak orang. Terlebih lagi di area belakang pendopo juga terdapat tempat terbuka, jadi orang lebih bebas juga,” ujar Nurdi.

    Beranjak dari area pendopo menuju outdoor area belakang, terdapat beberapa spot tempat duduk dengan sentuhan alami yang begitu nyaman. Sebuah bangunan rumah minimalis yang ada pada sisi area outdoor difungsikan sebagai kantor dari Omah Canting. Tepat disebelahnya terdapat sebuah kolam ikan dengan gemericik suara air mancur yang menenangkan. Sungai yang mengalir deras tepat dibalik tembok pagar semakin memperkuat unsur alam pada area ini. Di salah satu sudut lain nampak sebuah bangunan yang berbentuk seperti kandang sapi kuno. Rupanya bangunan tersebut memang bekas kandang yang dibangun ulang menjadi area bersantai di pinggir kolam. Suasana yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk suara kendaraan bermotor menjadikan area ini sangat nyaman untuk refresh dan menenangkan pikiran. “Sebenarnya untuk ke depannya nanti sudah ada rencana untuk pengembangan area ini, kurang lebih 2000 meter persegi lagi. Pengembangan itu nantinya akan digunakan sebagai outbond area dan juga resto tradisional yang akan dikelola oleh istri saya. Diharapkan dengan adanya pengembangan tersebut dapat membuat project Omah Canting ini semakin maju lagi,” tutup Nurdi. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah