Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


KONSEP 'RUMAHKU ISTANAKU' Mahakarya Supriyanto

    KONSEP 'RUMAHKU ISTANAKU' Mahakarya Supriyanto
    Supriyanto bersama Istri
    Ruang keluarga berkonsep lesehan dengan dekorasi unik
    Area dapur minimalis bergaya ala bar
    Kamar tidur bernuansa simpel nan nyaman

    Istana Merdeka merupakan sebuah bangunan resmi yang difungsikan sebagai kediaman dan kantor bagi Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangunan dengan desain nan megah tersebut memiliki gaya arsitektur Kolonial Belanda yang cukup kental karena pada sejarahnya, Istana Merdeka yang dulunya dikenal dengan nama Paleis te Koningsplein atau Istana Koningsplein tersebut merupakan tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Memiliki bentuk bangunan simetris dengan ciri khas berupa pilar-pilar berukuran besar di sisi fasad depan bangunan, menjadikan Istana Merdeka sebagai daya tarik tersendiri dari segi konsep arsitekturnya.

    Rupanya hal tersebut juga yang menjadi inspirasi bagi Supriyanto dalam membangun sebuah hunian bagi keluarganya yang beralamat di daerah Banjarwaru, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. “Berawal dari kecintaan saya terhadap hal-hal yang berbau klasik, termasuk juga desain bangunan. Jadi saat itu saya terinspirasi dari bentuk bangunan Istana Merdeka yang mempunyai konsep arsitektur nan megah. Desainnya bergaya kolonial dan kelihatan kokoh. Sepertinya kalau desain seperti itu diterapkan untuk rumah tinggal akan menarik. Akhirnya saat membangun rumah tinggal, saya memilih untuk mengaplikasikan desain tersebut pada bangunan utama rumah. Selain itu saya juga berusaha untuk memasukkan unsur filosofi Jawa serta sarat akan nilai-nilai spiritual ke dalamnya,” ungkapnya.

    Gaya arsitektur Indis nampak begitu kental pada bangunan rumah yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 600 meter persegi tersebut. Fasad rumah dengan dominasi nuansa putih tersebut benar-benar merepresentasikan gaya bangunan Kolonial dengan pilar-pilar depan yang nampak kokoh sebagai struktur penyangga bangunan utama bagian depan. Pada sisi area halaman depan yang cukup luas, terdapat pot-pot tanaman berukuran besar berpadu dengan rumput hijau yang semakin menambah unsur natural pada area tersebut. Meja dan kursi klasik berbahan kayu nampak tertata apik melengkapi tata dekorasi ruangan. Bangunan berwarna putih gading ini menegaskan dominasi gaya kolonial dalam rancangannya. Pengaruh gaya tersebut juga terlihat dari pintu dan jendela kayu dengan ukuran yang cukup besar. “Dalam membangun rumah ini saya memiliki prinsip bahwa rumah adalah istana bagi saya serta keluarga. Rumah ini sengaja tidak diberi pagar karena memang saya ingin ada interaksi dengan tetangga, jadi kesannya lebih terbuka. Lambang Garuda Pancasila yang terpampang di atas bagian fasad juga mencerminkan bahwa rumah ini multi cultural,” imbuh pria yang saat ini menjabat sebagai Kasi Pemerintahan Gilangharjo tersebut.

    Masuk ke dalam area rumah yang mulai dibangun tahun 2017 tersebut, terdapat area ruang tamu dengan dekorasi furnitur dan pernak-pernik handycraft nan unik. Desain ruang tanpa sekat dipilih agar ketika di dalam rumah tidak terkesan sempit dan terlalu penuh. Pada bagian ruang tamu, terdapat sofa set kayu bergaya klasik. Terdapat sebuah kursi kayu unik dengan kombinasi berupa kulit kambing asli yang memberikan kesan natural pada ruang tamu. Sisi natural semakin terasa dengan hadirnya akuarium ikan hias lengkap dengan suara gemericik air di dalamnya. Pada salah satu sudut ruang tamu, terdapat sebuah rak dengan beberapa hasil kerajinan yang tertata rapi sebagai penghias ruangan. “Untuk furnitur serta pernak-pernik dekorasi ruangan di rumah ini memang sebagian besar merupakan hasil karya sendiri. Kebetulan saya juga mempunyai usaha di bidang handycraft, jadi bisa dibilang rumah ini sekaligus sebagai galeri untuk display produk-produk buatan workshop,” ujar Supriyanto.

    Beralih menuju area lebih dalam rumah yang telah ditempati selama satu tahun tersebut, terdapat sebuah ruang keluarga sebagai area bersantai dan berkumpul. Area tersebut nampak simpel dengan meminimalkan penggunaan furnitur di dalamnya, ditambah dengan konsep ruangan tanpa sekat sehingga terkesan luas. Bahkan pada ruang keluarga tersebut menggunakan konsep lesehan tanpa meja dan kursi sebagai tempat duduk. Terdapat sebuah cabinet kayu sebagai tempat menaruh televisi pada salah satu sudut ruang keluarga sebagai fasilitas entertainment. Pada sisi kanan kirinya, nampak rak penyimpanan berbahan kayu dengan desain minimalis tempat menyimpan barang serta pernak-pernik hiasan yang mempercantik dekorasi ruangan. Sisi spiritual pemilik rumah dihadirkan lewat sebuah patung Yesus berukuran cukup besar yang berdiri di antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Di salah satu sisi ruang penghubung tersebut juga terdapat beberapa koleksi Keris serta pakaian adat Jawa yang tertata rapi pada sebuah almari kaca.

    Beralih menuju ke area belakang, terdapat sebuah dapur dan ruang makan dengan desain minimalis modern. Nuansa hitam putih nampak mendominasi tampilan area dapur yang memberikan kesan monochrome, dengan meja ala bar serta industrial stole menjadi sisi dekorasi bergaya modern. Lampu gantung dengan desain minimalis pada sisi atas meja bar menjadi pencahayaan sekaligus mempercantik tampilan interior. Konsep dapur nan simpel didukung dengan aplikasi kitchen set modern menjadikan kesan bersih pada area tersebut. Hal menarik terdapat pada sisi belakang area ruang makan yang terkoneksi langsung dengan sebuah pintu keluar dimana terdapat sebuah area halaman belakang berkonsep outdoor. Pada halaman belakang tersebut digunakan sebagai tempat bercocok tanam berbagai macam tanaman buah dan tanaman hias yang tumbuh subur. Pada area taman belakang tersebut juga dilengkapi dengan tempat bersantai dengan meja dan kursi berbahan gerabah bernuansa putih.

    Hunian milik pria asli kelahiran Bantul tersebut memiliki total 3 kamar tidur. Di bagian samping ruang keluarga terdapat dua ruangan yang difungsikan sebagai kamar tidur anak-anak kesayangannya. Sedangkan kamar tidur utama terletak di sisi lain yang juga masih bersebelahan dengan ruang keluarga. Pada bagian kamar tidur utama tersebut didesain lebih simpel dengan beberapa sentuhan unsur klasik di dalamnya. Bagian tempat tidur mengaplikasikan kasur berukuran king size tanpa ranjang yang justru menampilkan kesan simpel nan nyaman sebagai tempat beristirahat. “Pada dasarnya dalam membangun rumah ini, saya hanya berprinsip untuk memiliki hunian yang simpel, rapi, bersih, serta nyaman untuk ditinggali bersama keluarga. Dapat terlihat dari sisi dekorasinya memang saya padukan antara unsur klasik dan modern di dalamnya. Karena bagi saya sendiri rumah harus nyaman untuk ditempati, bukan untuk memuaskan pandangan orang lain saja,” pungkas Supriyanto. Farhan-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain