Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


WAKTU LUANG DE LOJI Ruang Kuliner Kolonial dalam Nuansa Jeda Bagi Jiwa

    waktu luang de loji
    waktu luang de loji
    waktu luang de loji
    waktu luang de loji
    waktu luang de loji

    Di tengah hiruk pikuk kawasan Titik Nol Yogyakarta yang sarat akan sejarah, sebuah destinasi kuliner dan ruang bertumbuh baru saja lahir. Waktu Luang De Loji yang mulai beroperasi sejak 15 Januari 2026, bukan sekedar resto biasa. Tempat ini hadir sebagai sebuah hub atau rumah bagi siapa saja yang ingin merayakan waktu luang mereka melalui pengembangan diri, asah kreativitas, dan koneksi bermakna.

    Nama "Waktu Luang" membawa misi mendalam untuk mengajak anak muda lebih menghargai saat jeda dalam hidup mereka. Logo resto yang menggambarkan punggung tangan kiri manusia juga memiliki filosofi yang unik. Apabila tangan kanan melambangkan aktivitas rutin seperti bekerja atau mengurus rumah tangga, maka tangan kiri adalah simbol sebuah jeda sekaligus kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Kemudian untuk nama "De Loji" sendiri dipilih karena lokasi bersejarah di dekat Titik Nol, yang pada masa lampau merupakan pusat kumpulan loji (bangunan kolonial) di Yogyakarta.

    Sejarah mencatat Benteng Vredeburg sebagai Loji Gedhe dan Istana Negara sebagai Loji Kebon. Semangat budaya dan kenangan masa lalu inilah yang menjadi jiwa bagi Waktu Luang De Loji. “Kehadiran resto ini juga merupakan bentuk dedikasi bagi mereka yang merasa sedang ‘hilang arah’ dalam hidup. Self development dimulai saat manusia sadar bahwa untuk bertumbuh, kita butuh 'Heal the Past, Live the Present, and Dream the Future'. Banyak orang menjadi workaholic, mungkin karena tidak berani menghadapi waktu luangnya yang mengingatkan pada luka dimasa lalu. Semoga tempat ini menjadi pengingat untuk menghargai waktu luang agar menjadi lebih bermakna,” papar Ruth Melisa Darmawan, Founder dan CEO Waktu Luang De Loji.

    Secara arsitektural, resto yang beralamat di Jalan Panembahan Senopati No. 38, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta tersebut mengusung konsep Adaptive Reuse Dutch East Indies Colonial Building. Resto ini menempati gedung heritage dengan desain kolonial yang kental, namun dikemas modern dengan sentuhan minimalis serta elemen futuristik dari epoxy resin art. Tema besar yang ingin diangkat adalah "Connecting the Past, Present, and Future". Konsep ini tidak hanya terlihat pada bangunan, tetapi juga pada setiap sudut interiornya yang memiliki karakter berbeda. Mulai dari area Self Growth Room yang menampilkan resin art bertema bunga bertumbuh, melambangkan proses dari sebuah perkembangan diri. Kemudian terdapat area Creativity Room, yaitu sebuah ruangan lesehan minimalis dengan karya geode art. Menariknya, ruangan tersebut didesain tanpa batasan kursi untuk mendorong pengunjung berpikir "Thinking without box". Lalu ada juga area Resilient Room, dimana ruangan ini dihiasi dengan interior bernuansa laut yang melambangkan harapan serta ketangguhan. Berikutnya adalah area Childlike Room yang dapat difungsikan sebagai ruang meeting yang didesain agar orang dewasa bisa kembali memiliki rasa ingin tahu dan keberanian layaknya seorang anak kecil dalam bekerja.

    Dengan luas area mencapai 1000 m² yang terbagi dalam dua lantai. Di lantai satu difokuskan untuk pertemuan komunitas, tour and travel, acara keluarga, hingga fasilitas bagi lansia dan tamu berkebutuhan khusus. Tersedia juga private room dan meeting room berkapasitas ± 100 orang. Pada area lantai bawah tersebut, terdapat sebuah mini garden yang menghadirkan nuansa hijau nan sejuk di dalam ruangan. Selanjutnya, di lantai dua dikhususkan sebagai area dine-in dengan perpaduan antara area indoor dan semi outdoor berkapasitas maksimal hingga 180 tamu, mencakup ruang Self Growth, Resilient, dan Creativity. Pada area lantai dua tersebut juga terdapat sebuah bar bergaya modern dengan sentuhan unsur vintage nan estetik, dimana para barista meracik minuman terbaiknya.

    Selaras dengan tema yang diusung, menu-menu yang ditawarkan merupakan perpaduan harmonis antara tradisi dan inovasi. Pengunjung dapat menikmati hidangan heritage Belanda, peranakan tempo dulu, hingga masakan Indonesia. Tak berhenti di situ, Waktu Luang De Loji juga menghadirkan menu modern dan Asian Fusion Food sebagai representasi kuliner kekinian. Beberapa menu makanan yang patut untuk dicoba yaitu Nasi Goreng Oriental Peranakan dan Bakmi Nyemek Manalagi. Kemudian untuk sajian pelepas dahaga, Waktu Luang De Loji memiliki beberapa menu andalan seperti Peach Tea dan Calm Green Juice. Bagi pecinta kopi, resto ini juga mempunyai beberapa sajian coffee based yang beragam. “Dengan pilihan menu yang beragam serta akomodasi ruang tumbuh bagi para kreatif muda, menjadikan Waktu Luang sangat terbuka bagi segala segmen pengunjung. Kami berharap Waktu Luang De Loji juga dapat menjadi titik temu bagi keluarga, pekerja kantoran, hingga wisatawan yang mencari lebih dari sekedar makanan lezat, melainkan sebuah ruang untuk bertumbuh dan berefleksi,” pungkas Melisa.

    WAKTU LUANG DE LOJI
    Jalan Panembahan Senopati No. 38,
    Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta.
    Telp : 0857 7733 3185
    IG : waktuluang.deloji

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain