Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Atmosfer Ala Resort Kediaman Irsyam Nde Luweh

    Irsyam Sigit Wibowo beserta istri Arni Risviyanti
    Fasad Rumah kediaman Irsyam Nde Luweh
    Fasad rumah bernuansa kolonial dengan sentuhan jawa klasik dan Ruang keluarga ya
    Beberapa sudut rumah kediaman Irsyam
    Gasebo di sudut halaman lengkap dengan drum set

    Faktor kenyamanan selalu menjadi prioritas utama dan tentu saja hal terpenting bagi setiap orang di setiap segi kehidupan. Semua orang ingin agar dirinya dan keluarganya bisa merasa nyaman, baik di rumah, kantor, ataupun sedang dalam perjalanan. Sudah bukan rahasia lagi jika kenyamanan selalu menjadi paramater utama dalam menentukan atau memilih suatu hal. Seperti kita ketahui, rumah adalah kebutuhan utama dalam kehidupan setiap manusia, oleh karena itu faktor kenyamanan dari sebuah rumah pasti akan selalu menjadi perhatian.

    Bagi pengusaha kuliner Irsyam Sigit Wibowo, rumah harus mampu menaungi dan memberikan keteduhan bagi penghuninya. Ia juga ingin suasana rumah selalu memberi kesan bahwa tiap hari adalah liburan. Untuk itu, ia merancang rumahnya dengan konsep resort. Berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi di kawasan Kotagede, tepatnya di Jalan Mondorakan No. 1 Yogyakarta, Irsyam hanya menggunakan sekitar 200 meter persegi sebagai bangunan rumah yang terdiri dari tiga kamar tidur, ruang tamu, mini bar, dan dapur. Sedangkan sisanya adalah teras dan gasebo di depan rumah yang juga digunakan sebagai ruang kerja.

    Tepat setelah keluar pintu rumah adalah kolam ikan dan taman dengan aneka tumbuhan berukuran tinggi yang merimbun. Untuk menghindari munculnya nyamuk, Irsyam menanam berbagai jenis tanaman yang dianggap dapat membuat serangga penggigit itu enggan datang, seperti pandan, melati, kanthil, dan kenanga. “Saya ingin rumah saya tidak seperti rumah lain pada umumnya dan bernuansa layaknya sebuah resort. Keluar rumah langsung kolam, ada taman. Bisa terasa, kan? Di sini tidak bising, padahal di tepi jalan,” kata Irsyam, pemilik beberapa usaha restoran di Jogjakarta. Meski demikian, Irsyam tidak ingin terlalu repot karena ia dan istri, Arni Risviyanti, sepakat untuk tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Agar pemeliharaan kolam mudah, ia menebar berbagai jenis ikan, seperti nila, gurami, dan koi. Dengan begitu, ia tidak perlu khawatir dengan kemunculan jentik-jentik nyamuk. Jika saatnya tiba, ikan-ikan tersebut akan dipanen oleh karyawan-karyawannya lalu dimasak dan disantap bersama. Kadang-kadang juga dibawa pulang oleh teman dekat atau kerabat yang datang berkunjung ke rumahnya.

    Di tengah kolam, tampak pohon pandan pantai tumbuh dengan rindang yang sekaligus membantu menghalau sinar matahari dari arah barat ketika mulai beranjak sore hari. Saat pagi hari, ia dan istri kerap duduk-duduk di teras yang menghadap kolam sambil mengobrol. Sebelumnya, mereka berbagi tugas menyapu dan mengepel rumah. Menjelang siang, barulah istrinya berangkat mengurus restoran mereka, Pendopo Ndalem di kompleks Tamansari, Keraton Yogyakarta. Irsyam dan istri mengelola beberapa restoran. Selain Pendopo Ndalem yang pada malam hari berubah konsep jadi Angkringan JAC atau Jogja Automotive Community, juga ada Pendopo nDe' Luweh yang lokasinya masih berada di dalam satu kawasan rumahnya . Selain itu, Irsyam bersama saudara-saudaranya juga mengelola Restoran Omah Dhuwur di Kotagede. Bisnis kuliner ini adalah perluasan dari bisnis inti keluarga di bidang perak dengan bendera usaha HS Silver.

    Irsyam sendiri sambil mengawasi bisnis kulinernya juga aktif di sejumlah organisasi, seperti Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, Ikatan Motor Besar Indonesia, Harley Davidson Club Indonesia, serta Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di wilayah Yogyakarta. Kesibukannya yang lain adalah mendampingi pengusaha muda di bidang kuliner. Hobinya tour dan blusukan dengan rekan-rekan seprofesi sering mempertemukannya dengan kuliner lokal yang lezat dan potensial dikembangkan. “Saya anggap mentoring yang saya lakukan sebagai sedekah ilmu untuk tabungan amalan saya nanti. Lagi pula di era yang semakin berkembang ini, kita harus selalu menampilkan daya tarik baru termasuk di bidang kuliner, agar pariwisata kota Jogja selalu menggeliat,” imbuh ayah dari 2 orang anak, Syaroh Ardhanareswari dan Ramadhan Abibowo tersebut. Hingga kini, sudah ada tiga usaha dampingannya, yakni Warung Pondok Sundak Bu Ratmi di Wonosari, Kopi Menoreh Pak Rahmat, dan Warung Ereng-ereng di Pundong, Bantul. Irsyam mendampingi mulai dari mengatur menu, kemasan, higienitas, sanitasi lingkungan, hingga pemasaran dan promosi. Biasanya ia memanfaatkan kekuatan promosi dari mulut ke mulut lewat jaringan pertemanan di sejumlah organisasi yang aktif diikutinya hingga melalui media sosial. Untuk ini, Irsyam sama sekali tidak meminta imbalan materi. Dua usaha sudah berjalan dengan baik, kini ia sedang menggenjot untuk promosi Warung Ereng-ereng.

    Untuk keseimbangan hidup, ia juga rutin mengundang anak yatim piatu untuk bermujahadah di rumahnya, biasanya pada tanggal 17 setiap bulan. Mereka diajak bermujahadah sambil makan-makan di restorannya, Pendopo nDe' Luweh, yang terdapat di bagian depan rumahnya. Di waktu yang lain, tempat ini juga ia sediakan gratis untuk kumpul-kumpul teman-temannya dari sejumlah organisasi. “Mereka biasanya rapat atau sekadar kumpul-kumpul di sini. Enggak harus makan di tempat saya,” kata Irsyam.

    Di kala senggang, ia akan duduk mengobrol dengan istri dan kedua anaknya di ruang tengah yang menghadap televisi. Pemisah ruang ini dengan bagian luar rumah adalah pintu utama berupa gebyok kayu berukir yang terbuat dari kayu Jati dan ia peroleh langsung dari daerah Madura. Pada dinding samping depan rumah tampak deretan pecahan genteng yang disusun seperti mozaik. Beberapa bagiannya telah menghitam akibat cuaca. “Awalnya tidak sengaja, sisa genteng lalu di susun, ternyata kok malah jadi sesuatu yang unik. Lalu saya minta untuk ditambahi pecahan genteng-genteng baru lagi untuk menutup seluruh bidang dinding itu,” papar Irsyam.

    Pada bagian lantai depannya juga tersusun dari mozaik, namun bagian ini terdiri dari mozaik pecahan marmer berukuran kecil yang disusun menjadi tegel dan merupakan produk dari seorang rekannya di HIMKI. Mozaik batu-batu alam juga menghias bar table yang berdekatan dengan ruang keluarga. Ruang ini diberi kesan modern dengan dukungan perabot interior yang modern. Tiga lampu gantung berwarna merah menjulur dari atas dilengkapi foto-foto keluarga yang membuat bagian rumah ini lebih semarak. Ini agar tidak menimbulkan kesan monoton dengan kehadiran banyaknya perabot antik dari kayu. Rumah ini memang dihiasi berbagai macam perabotan antik, seperti radio-radio kayu dan lesung yang dijadikan meja dengan memberi penutup kaca di atasnya. Pria asli Yogyakarta ini dulunya sempat berbisnis barang antik, akan tetapi kini sudah ditinggalkan dan hanya sekedar menjadi hobi saja. Beberapa patung dan lukisan juga menghiasi dekorasi rumahnya. Beberapa diantaranya adalah karya dari anak temannya yang mengenyam pendidikan di bidang seni rupa. Salah satu lukisan merupakan karya Didit Slenthem, cucu maestro pelukis Indonesia Affandi.

    Untuk menciptakan kesan luas, dinding kamar tidur dibuat mencembung dan dicat warna merah. Kesan hangat pada ruang tengah muncul dari lantai parket kayu dengan finishing plitur agar terkesan mengkilap dan awet. Meski berkonsep rumah limasan, jendela dibuat besar dengan bagian atas melengkung mengikuti gaya rumah kolonial. Selama delapan tahun berdiam di rumah ini, Irsyam merasa pundi-pundi keteduhan hidup yang didambakannya berhasil Ia kumpulkan di sini, mengisi hari-hari di kehidupannya bersama keluarga tercinta. Fahan – red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain