Dalem Kawiryanan Cinta Kasih Rumah Jawa Impian.
Bukan tanpa alasan ketika keluarga Drs. R. Wiryono memutuskan untuk tinggal di sebuah desa dan bukan di perkotaan yang sarat dengan pusat keramaian. Ingin kembali ke desa tempat ia dilahirkan dengan menghadirkan nuansa dan hunian khas Jawa lah yang menjadi pertimbangannya.
“Awal mula saya memutuskan untuk tinggal di desa memang bukan tanpa alasan. Sejak tahun 2006, setelah saya pensiun dan tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah dinas yang berlokasi di jalan Kaliurang, sejak saat itulah saya memikirkan ingin tinggal dimana. Saat saya mengalami kesulitan itu, anak-anak sayalah yang membantu mengatasi kesulitan yang saya alami waktu itu. Lalu pada tahun 2007 pembangunan rumah ini telah dilakukan dan tepat di tahun 2008 dengan berat hati kami meninggalkan rumah dinas dan pindah ke sini. Dengan cinta kasih dari anak-anak lah hunian ini bisa saya wujudkan,” cerita Wiryono.
Drs. R. Wiryono yang memiliki background di bidang militer, yakni mantan Panglima ABRI sejak tahun 1962 tersebut, kini telah berusia sekitar 80 tahun. Sedangkan sang isteri RAy. Widjaya Prihatin berusia sekitar 79 tahun. Pasangan suami isteri tersebut telah dikaruniai putera dan puteri sebanyak 11 anak. Dengan banyaknya anak lah yang juga menjadi alasan mengapa Wiryono memutuskan tinggal di desa. “Karena keluarga besar, maka rumah yang saya pilih haruslah sesuai dan mampu menampung jika semua sedang berkumpul. Untuk itulah saya memutuskan tinggal di tempat saya dilahirkan ini,” tambahnya.
Berkat cinta dan kasih sayang dari anak-anaknya, kini pasangan tersebut hidup bahagia menikmati masa tua di kediamannya yang berada di desa. Hunian yang berlokasi di dusun Setran, RT/RW 004/027, Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta tersebut tampak berbeda dibandingkan dengan hunian di sekitarnya. Konsep Jawa begitu kental terlihat dalam rumah pensiunan ABRI tersebut. Baik dari konsep bangunannya, materi perabotnya, hingga pada desain interiornya. Secara fasad, hunian yang dibangun di atas lahan seluas 1.000 m² ini mengaplikasikan konsep rumah Jawa, yakni limasan. Sebelum menuju bangunan limasan, suguhan bangunan Joglo di depan rumah semakin menguatkan konsep Jawa yang telah diusungnya.
“Semasa kecil saya, saya tinggal di sini dan tanah ini adalah tanah warisan dari keluarga saya. Kemudian anak-anak secara bebarengan membangunkan rumah ini untuk saya dan isteri saya. Untuk desain rumah ini, anak kedua saya yakni Edi Cahyono atau Didit lah yang mengaturnya. Kebetulan anak kedua saya ini adalah seorang Insinyur Teknik Sipil jadi dia lebih mengerti akan desain hunian yang saya inginkan. Saya dan isteri hanya minta dibuatkan rumah nuansa Jawa agar kenangan masa kecil saya dan isteri bisa kami rasakan kembali,” cerita Wiryono lagi.
Secara eksterior bangunan hunian ini memang tidak seutuhnya bangunan limasan asli, karena ada beberapa berpaduan konsep modern yang disuguhkan. Bangunan limasan sedikit diberi sentuhan modern pada dinding luar yakni menggunakan batu bata ekspos dengan sentuhan kaca di beberapa sudutnya, namun meskipun demikian secara keseluruhan langgam Jawa pada rumah tersebut tetap teraplikasi dengan sempurna.
Joglo terbuka berukuran sedikit kecil difungsikan sebagai ruang tamu depan untuk menjamu tamu yang singgah. Suasana Njawani pun sangat kental terasa di bangunan Joglo ini. Di atas pintu tepat di Joglo tersebut terdapat tulisan yang bertuliskan 'Dalem Kawiryanan' yang berarti rumah bapak Wiryo.
“Papan nama di pintu sengaja saya yang memilihnya untuk menunjukkan bahwa pemilik rumah ini adalah orang Jawa,” kata RAy. Widjaya Prihatin. Ditambahnkannya, di tempat tersebutlah ibu dari sebelas anak tersebut sering menghabiskan waktu di pagi dan sore hari sembari menikmati semilir angin sawah dan pemandangan landscape-nya. “Saya senang duduk disini dan menikmati suasana alam sekitar saya,”ucapnya sambil tersenyum. Meja dan kursi rotan dengan lampu gantung menambah kesan kuno dan mengingatkan nuansa Jawa tempo dulu. Dihadapan Joglo terdapat hamparan taman berukuran cukup luas lengkap dengan aneka pohon disekelilingnya yang akan membuat atmosfer sejuk ketika berada di dalam rumah.
Sudut kanan taman terdapat bangunan unik yang cukup menonjol. “Karena kami tinggal di desa, dan kebetulan saya mendapat warisan sawah yang tepat berada di seberang jalan rumah, maka saya memutuskan untuk membuat lumbung padi. Bangunan lumbung padi saya dapatkan dari daerah Purworejo yang masih asli tanpa renovasi,” katanya sembari memperlihatkan lumbung padi yang telah dipenuhi hasil panen.
Masuk lebih ke dalam terdapat jalan setapak dengan dikonsep terpisah-pisah terkesan seperti jembatan yang terbuat dari batuan yang disemen. Tepat di bawah jalan setapak menuju ke bangunan utama terdapat kolam ikan lengkap dengan hiasan air mancur. Sebelum memasuki rumah, terdapat anakan tangga karena bangunan utama ini dikonsep lebih tinggi dari pendopo Joglo di depan. Dan tepat di atas pintu limasan terdapat tulisan dengan lambang aksara Jawa yang bermaknakan 'Dalem Kawiryanan'.
Konsep Jawa yang lebih berat pun terasa ketika melangkahkan kaki di ruang tamu utama. Selain konsepnya juga dikarenakan desain interior serta perabot yang ada di ruang tersebut. Di ruang tamu sekaligus ruang yang difungsikan untuk berkumpul bersama keluarga besar tersebut banyak terdapat perabot dan dekorasi bernilai Jawa yang kental. Ruang tamu yang lumayan luas ini dipenuhi furnitur meja dan kursi kayu yang ditata menjadi beberapa tempat. Beberapa barang-barang kuno, seperti payung karaton warna hijau dan jam dinding berukuran besar ikut memeriahkan nuansa Jawa yang berat di sekitaran ruang tamu.
Rumah yang selalu ramai pada saat anak cucu berkumpul tersebut memiliki dapur dengan konsep yang menarik juga. Sebelum menuju dapur terdapat ruang makan keluarga dengan meja makan berukuran besar lengkap dengan kursi-kursi kayu. Konsep yang manarik dari dalam dapur itu adalah hadirnya dinding kolam air mancur yang menimbulkan suara gemercik air sehingga kesan ringan dan menyejukkan akan muncul dalam hunian tersebut.
Menuju ke kamar utama, konsep yang disuguhkan si empunya rumah benar-benar akan menginspirasi. Kamar utama menggunakan tempat tidur yang umurnya cukup tua, mampu menghadirkan nuansa kolonial tempo dulu. “Tempat tidur besi di kamar utama umurnya sudah tua, yakni sejak jaman kolonial Belanda dulu,” cerita bu Wiryono semangat.
Permainan warna di dalam kamar dengan menggunakan warna putih pun mengesankan nuansa terang dan memberi rasa leluasa. Warna putih yang digunakan di dalam kamar utama juga memberikan kesan yang segar di dalamnya. Agar cahaya dan udara dari luar terserap baik di dalam kamar, maka si empunya rumah tak lupa menghadirkan jendela di sudut kamar tersebut. Karena kamar tidur merupakan tempat untuk menghabiskan waktu selama beristirahat setelah berkegiatan, maka kamar utama tersebut benar-benar dikonsep senyaman mungkin.
Diakhir perbincangan Wiryono menceritakan keseruannya bersama keluarga besarnya saat berkumpul di kediamannya. “Rumah ini merupakan tempat berkumpulnya keluarga besar kami, maka ruang tamu saya sengaja dibuat sangat luas. Karena di rumah ini hanya ada empat kamar dan tidak mampu menampung seluruh anggota keluarga besar saya, maka ruang tamulah yang akan dijadikan kamar bersama,” kata Wiryono menutup perbincangan sore itu. Yanti-red

















































































