Bersatunya Rumah Tinggal & Alam sekitar Lies Maria
Memiliki rumah sebagai penggambaran dari karakter sang pemilik mungkin menjadi dambaan bagi banyak orang. Tak terkecuali dalam rumah yang terletak di Desa Tanjung, Wukirsari, Cangkringan Sleman. Rumah seorang wiraswasta di bidang advertising pembuatan iklan TV tersebut cukup menggambarkan bagaimana karakter si penghuninya.
Senyum hangat dan sapa renyah dari sang pemilik menggambarkan sikap terbuka dan ramah kepada setiap tamu yang datang. Diceritakan sang empunya rumah, Lies Maria, dirinya tidak memiliki tema khusus dalam membangun rumah tinggal tersebut. Namun sikap terbuka dan hangat dari sang pemilik rumah tergambar dalam penataan bangunan dan interior rumahnya. Setiap bangunan memaksimalkan keterbukaan dengan alam sekitarnya. Menyatu dan menghadirkan kehangatan suasana.
“Kalau ditanya temanya apa, saya selalu bingung untuk menjawab, karena memang tidak ada tema khusus, saya hanya ingin memiliki rumah yang menyatu dengan alam sekitar, memiliki view merapi dan terbuka supaya sirkulasi udara lebih maksimal. Disini udaranya masih segar, sayang kalau tidak dimaksimalkan. Awalnya saya hanya mengumpulkan kayu-kayu bekas yang masih bagus, lalu saya minta tolong kepada teman saya mas Cahyo untuk menggambarkan dan membangunkannya, jadinya seperti ini, nyaman bagi saya,” kisah Lies.
Ditambahkannya pembangunan rumah tersebut dikerjakan secara bertahap. Pertama dari pembangunan rumah jaga yang terletak di bagian paling depan. Disamping rumah jaga terdapat rumah baca bergaya rumah Paiton atau rumah khas Probolinggo. Rumah induk berada ditengah antara dua bangunan di depan dan satu bangunan Limasan di bagian belakang.
“Saya berencana akan membuat rumah baca bagi anak-anak di sekitar tempat tinggal. Bangunannya sudah ada, hanya saja saat ini masih dalam tahap pengumpulan buku-bukunya,” ucapnya. Menyusuri landscape rumah tinggal yang berdiri di area seluas 2400 meter persegi tersebut, sang pemilik seolah ingin menyuguhkan hangatnya perpaduan antara rumah tinggal dan alam sekitar.
Rumah yang menyatu dengan alam sekitar terasa kuat dari taman-taman dan pagar hidup di bagian depan rumah. Pagar hidup dari pepohonan tersebut sengaja dihadirkan Lies untuk menambah kuat menyatu dengan alam. Selain itu taman di depan rumah cukup unik dengan tanaman kacang tanah. Cukup unik bagi layaknya taman rumah pada umumnya. Jika dicermati lebih dalam setiap bangunan yang ada selalu diselimuti dengan taman-taman hijau.
“Kondisi tanah di sini masih sangat subur sayang kalau tidak bisa menghasilkan yang lebih. Makanya taman atau lahan hijau yang saya miliki saya maksimalkan untuk menanam tanaman yang memiliki hasil, saat ini saya tanami kacang, kemarin habis saya tanami padi. Jadi ya berganti-ganti sesuai musim yang ada disekitarnya,” tunjuknya.
Bangunan yang mengkombinasikan antara bangunan modern dan tradisional tergambar kuat dalam rumah Induk. Rumah dua lantai tersebut menyajikan fasad bangunan dan tata interior yang unik. Dalam proses pembangunannya ibu kelahiran tahun 1963 tersebut menceritakannya dengan cukup antusias.
“Rumah induk ini pembangunannya cukup unik, jadi arsiteknya mas Cahyo membuat struktur bangunan dua lantai terlebih dahulu. Dinding pengisi ini menyesuaikan dengan koleksi kayu-kayu bekas yang saya miliki. Jadi kadang ukuran jendela satu dengan satunya tidaklah sama. Termasuk di dalam penataan interiornya saya ingin tetap senada ada unsur modernnya supaya tetap terlihat bersih dan ada unsur tradisionalnya juga,” ceritanya sambil tersenyum.
Dikatakannya untuk bangunan rumah induk tersebut Lies mengisinya sesuai dengan kebutuhan ruangnya. Lantai satu rumah induk cukup unik penataan ruangnya. Terdapat ruang makan yang berukuran luas dengan furnitur bergaya ekletik. Menurutnya ruang tersebut belum digunakan secara maksimal karena furnitur di dalamnya belum komplit.
“Ruang ini masih belum sempurna, saya ingin kedepan ruang ini sebagai ruang berkumpul keluarga, ada meja makannya, ada sudut untuk live musik dan mungkin beberapa sofa klasik,” ujarnya. Terhubung oleh selasar, atau tepatnya di samping ruang tersebut terdapat dapur yang ditata begitu menarik.
“Saya ini kan hobi masak, jadi dapur saya tata senyaman mungkin dan fungsional. Akhirnya ya kalau teman-teman saya berkunjung lebih suka menghabiskan waktu di tempat ini, atau kalau tidak yang di teras depan itu, kalau di teras bisa lebih menikmati segarnya udara,” ucap Lies bangga. Dapur bersih tersebut memilki kombinasi apik antara fungsi dan nilai keindahannya. Kitchen set dan meja bar di tengah ruangan mengkombinasikan warna biru dan coklat kayu. Sudut ruangan terdapat meja dan kursi sejenis sofa namun tetap terkesan santai dan menyatu. Kebersihan dapur rupanya menjadi prioritas utama yang dijaga olehnya pada ruang tersebut. Jika dicermati penataan sirkulasi dapur tersebut begitu masimal, sehingga ketika memasak bau akan terus hilang.
Anak tangga penghubung dengan lantai dua juga tak kalah menarik, lantai anak tangga menggunakan batu alam putih dan pegangan tangga menggunakan kayu bekas 'luku'. Kombinasi tersebut menghadirkan nuansa lebih natural. Di area lantai dua ini Lies masih menghadirkan nuansa kayu bekas yang cukup kental. Salah satu yang masih jadi kenangannya adalah pagar pembatas setinggi kurang lebih satu meter. Pagar kayu tersebut diceritakannya, adalah koleksi kayu pertama yang dia dapatkan dari daerah Kota Gede.
“Dari lantai dua ini kita bisa melihat Merapi atau Merbabu kalau pas cuacanya cerah, dan itu begitu indah,” katanya. Di area tersebut terdapat selasar yang menghubungkan dengan kul-kul atau tower air yang dibawahnya dimanfaatkan sebagai ruang berdoa. Tanaman rambat pada pergola di atas selasar memberikan nuansa hijau alami.
Memasuki lantai dua dari rumah induk konsep tata ruang yang lebih mengedepankan fungsi ruang dibangun secara apik. Kamar tidur utama di setting begitu luas untuk memberikan kenyaman bagi sang penghuni. Tempat tidur masih bernuansa kayu dengan pembatas masif berupa 'slintru' kayu jati yang sudah berumur. “Pembatas ini sudah ada yang berlubang-lubang dan saya biarkan untuk menjaga tekstur kayu lama,” tegas Lies sambil menunjukkan.
Dari tempat tidur tersebut terdapat konekting dengan kamar mandi. Dikatakannya, ruang antara tempat tidur dan kamar mandi tersebut digunakannya sebagai walking closet. “Penataan ruang yang kental nuansa modernnya hanya terdapat pada kamar mandi saya, karena saya ingin kamar mandi selalu terlihat bersih dan rapi.”
Masih di area kamar tidur utama, penataan furnitur dan perlengkapan di dalamnya terlihat simpel dan lebih mengedepankan fungsinya. Hanya ada beberapa furnitur dan satu set televisi. Plafon kamar tersebut terlihat berkelas dengan material papan kayu jati. “Yang cukup lama, waktu mencari kayu untuk papan plafon ini, karena ketebalannya harus sama,”ucapnya singkat.
Tepat di samping rumah induk terdapat bangunan tradisional bergaya Limasan yang sudah diubah tata ruangnya. Dikisahkannya, Limasan tersebut digunakannya sebagai tempat tidur kalau ada tamu atau teman yang menginap. “Limasan ini sudah saya repro, kalau pada umumnya terbuka, disini saya sekat jadi dua kamar, karena saya mengejar kebutuhan fungsi ruang. Namun tidak merubah struktur tiang-tiang penyangga,” terang Lies.
Selaras dengan apa yang dikisahkannya dalam penataan gebyok terlihat kecerdikan dari sang arsitek untuk menata dan menggabungkan beberapa gebyok beda ukuran. Pintu dengan ketinggian yang berbeda tetap dipasangnya tanpa merubah bentuk dan fungsinya. Ruang ini dilengkapi dengan kamar mandi yang lebih modern. Greg-red

















































































