Griya Panggung Pusponegaran, Warisan Nusantara Milik Gus Pri
Hakekat dasar sebuah rumah pada umumnya adalah sebagai tempat untuk berteduh dari panas, hujan, atau tempat berkumpul bersama keluarga. Rumah biasanya terdiri dari ruang-ruang yang dibatasi dengan dinding batu bata. Namun, berbeda dengan rumah tinggal keluarga Agustinus Supriyanto, SH, yang terletak di Dusun Pete Rt.02 Rw 16 Desa Sidomoyo, Godean, Sleman. Berdampingan dengan pemukiman warga sekitarnya, rumah tersebut tampak berbeda. Konsep bangunan tersebut memang tak pada umumnya yang ada di Jogja. Dengan konsep rumah panggung kediaman Agustinus terlihat kokoh, gagah dan menyita perhatian setiap orang yang lewat di depannya.
Rumah dengan luas 144 m2 tersebut ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik. Rumah panggung dengan ketinggian kurang lebih 2 meter tersebut merupakan rumah adat Lampung yang dibangun pada tahun 1927. Terletak di pinggiran sungai Way Terusan, Gunung Batin Ilir, Lampung Tengah. Seperti pada umumnya rumah adat Lampung berbentuk memanjang, dan terbuat dari bahan baku kayu. Bentuk rumah tersebut masih asli seperti aslinya. Seperti diungkapkan Adriana Winarti, SE, istri dari Agustinus Supriyanto, “ rumah panggung ini merupakan rumah adat Lampung yang masih asli. Rumah ini dipindahkan langsung dari Gunung Batin Ilir, Lampung Tengah. Menurut sejarahnya rumah ini dulunya merupakan rumah “Pesirah” atau sebutan untuk salah satu petinggi adat daerah tersebut”, terangnya. Pada tahun 2009 rumah tersebut dipindahkan ke Jogja. Proses pemidahnnyapun membutuhkan 6 tronton untuk membawa semua kayu tersebut. “ Karena ini rumah adat, tak boleh sembarangan memindahkannya, maka perizinannya pun harus komplit. Mulai dari surat dari lembaga adat lampung, pemerintah daerah setempat, hingga dari kepolisian. Untuk membawa semua bagian rumah ini membutuhkan sekitar 6 tronton. Kami tidak ingin ada yang tertinggal salah satu bagiannya”, papar bapak dua anak yang pada tanggal 21 Juli 2011 mendapat gelar Guru Besar, Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada.
Secara struktur bangunan rumah panggung tersebut masih komplit. Mulai dari tiang-tiang penyangga, tangga, lantai sampai dengan dindingnya. Tiang penyangga rumah panggung ini berjumlah 49 tiang masih utuh. “ Tiang-tiang penyangga rumah panggung ini masih utuh, 49 tiang. Kalau dilihat tiang tersebut tidak beraturan sesuai kondisi kayu aslinya. Tinggi rumah panggung ini kami naikan menjadi sekitar 2 meter, karena tiang penyangga tersebut kami tambah umpak, supaya lebih awet”, terang ibu dari dua anak tersebut. Kayu-kayu setiap bagian rumah panggung tersebut menggunakan kayu Laban untuk bagian rangka atap dan rangka utama rumah, rangka kaki memakai kayu Tappang dan Inas, untuk dinding, jendela dan pintu menggunakan kayu jenis Mrawan Telur, rangka lantai menggunakan kayu Nangi, lantai kayu jenis Mentru, sedangkan plafon rumah tersebut menggunakan kayu jenis Menetan.Pemasangan kembali rumah adat tersebut dikerjakan oleh tukang-tukang asli Lampung yang memang sudah ahli dalam pembangunan rumah adat lampung. Seperti dituturkan Prof Dr. KRAT. Agustinus Supriyanto, Pradoto Pusponegoro yang juga berkiprah di Komnas Perempuan di Jakarta, “tenaga pemasangan juga berasal dari Lampung yang memang sudah ahli” terangnya.
Keseriusannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di kantor Komnas Perempuan membuat, pria asal Salatiga tersebut diberi gelar oleh kraton Solo menjadi Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, Pradoto Pusponegoro, SH. Setelah rumah adat Lampung, dan pemberian gelar oleh Kraton Solo, maka pada 30 Oktober 2011 rumah tersebut diresmikan oleh Dra. GKR Wandansari,M.Pd sebagai Griya Panggung Pusponegaran. “ Setelah saya mendapat gelar dari Kerton Solo rumah ini diresmikan, uniknya meski rumah ini merupakan rumah adat Lampung, peresmiannya menggunakan adat istiadat Keraton Solo”, ungkap Agus semangat.
Menyusuri setiap ruang dari rumah ini kita akan berasa sedang berada di dalam rumah adat di Lampung. Untuk memasuki rumah tersebut kita harus menaiki anak tangga yang terletak di bagian salah satu sudut rumah. Anak tangga tersebut akan membawa pada bagian depan rumah yang biasa digunakan sebagai area aktifitas bersama tetangga. Pada teras tersebut, sudah nampak hiasan-hiasan khas rumah adat Lampung, seperti piring-piring keramik yang terpasang pada dinding. Setelah teras tersebut ruang tamu dengan furnitur bergaya klasik terseting begitu apik. Tak kalah menariknya dengan ruang teras, dalam ruang tamu tersebut juga terpasang lebih banyak piring-piring keramik dan guci sebagai ciri khas pernik penghias rumah adat lampung. “ Keramik piring dan guci, dalam filosofi orang lampung memiliki makna yang cukup baik, yakni jika semakin banyak piring-piring tersebut terpasang menghiasi dinding, maka rejeki keluarga tersebut akan semakin baik”, tutur ibu dari Domi Kirana dan Agatho Prabaswara.
Melangkahkan kaki lebih dalam akan dijumpai ruang televisi dan sebuah kamar yang berukurancukup besar. Sedang bagian belakang rumah panggung Pusponegaran ini merupakan bangunan tambahan yang digunakan untuk kamar mandi, dan dapur. Lebih lanjut sebuah ruang yang berukuran cukup besar, atau biasa disebut paviliun berdiri dengan kokohnya. Ruang paviliun tersebut menurut ibu rumah tangga 45 tahun tersebut dulu saat dilampung, karena rumah ini merupakan rumah salah satu petinggi adat daerah tersebut maka di ruang paviliun tersebut digunakan para ibu-ibu rumah tangga untuk menyiapkan makanan disaat para lelaki melakukan pertemuan. Sedangkan di salah satu sudut paviliun tersebut terdapat sebuah anak tangga yang menghubungkan dengan lantai bawah. Di lantai bawah terdapat sebuah ruang perpustakaan, dan sekaligus ruang kerja Agus yang juga bekerja sebagai Dosen di fakultas Hukum jurusan Hukum Internasional, Universitas gajah Mada. Karena kesibukannya tak sedikit mahasiswanya yang juga melakukan konsultasi di ruang tersebut.
Rumah panggung yang berdiri di sebagian tanah seluas 600 meter persegi tersebut mempunyai keunikan dan kehangatan tersendiri. Rumah ini pernah di kunjungi 14 deplomat asing dan berfungsi sosial karena dapat digunakan oleh masyarakat sekitar misalnya untuk syawalan warga setempat. Greg-Red

















































































