Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Hunian Split Level, Keluarga Heru Tjokro

    Hunian Split Level
    Hunian Split Level
    Hunian Split Level
    Hunian Split Level

    Sekilas tak ada yang berbeda apabila melintasi jalan kampung di daerah kabupaten Sleman ini. Pohon-pohon dan petak-petak sawah terhampar menghijau memanjakan mata. Namun, apabila kita menyusuri lebih dalam lagi, kita akan menemukan sebuah tempat tinggal yang tidak umum. Rumah milik Keluarga Heru Tjokro ini ada yang berbeda. Terletak di dusun Ngawen, Desa Trihanggo Kecamatan Gamping, fasad rumah ini berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya. Dari kejauhan terlihat seperti rumah dengan atap-atap yang terpisah. Atap-atap rumah ini memiliki tingkat kemiringan yang berbeda dan memiliki sudut lebih dari tiga puluh derajat sehingga air hujan yang turun ke bawah langsung dapat jatuh ke permukaan tanah.

    Dari sisi luar, rumah milik Heru Tjokro dan Agustina Iriani Prihatiningsih ini terlihat kokoh. Batu bata ekpose mendominasi bagian luar rumah. Kesan kokoh dipertegas dengan tiang cor beton pada setiap sudut. “Memang bapak sengaja ingin punya rumah yang temboknya lebih banyak menggunakan bata ekpose”, ungkap Rivo Bakti Satria P, putra kedua pasangan tersebut dengan mantap. Rumah yang dibangun pada tahun 2001 ini memakai batu bata yang didatangkan langsung dari Solo. Karena pada waktu itu (2001-red), batu bata dari Yogya belum memilki kualitas sebagus batu bata dari Solo. Di setiap tembok luar terdapat lubang ventilasi berbentuk kotak dengan pasangan batu bata mengelilingi setiap sudutnya. Dari pintu gerbang, hanya tampak pohon beringin di depan rumah ini. Kontur tanah yang tidak rata tidak diubah seperti pada waktu pertama kali pemilik membeli tanah ini. Rumah yang berdiri di atas tanah seluas ± 500 m², halamannya beralaskan konblok. Dari pintu jalan masuk Kampung Ngawen, ketinggian rumah ini sekitar 30 cm. Rumah ini pun tampak lebih tinggi lagi karena ditambah dengan pondasi yang memiliki ketinggian sekitar 30 cm dari permukaan halaman, sehingga rumah ini terlihat seperti rumah panggung. Pintu masuk rumah ini bukan menghadap ke Barat ke arah pintu gerbang, tetapi pintu masuk rumah ini menghadap ke sebalah Selatan. Jadi, apabila ada tamu yang baru pertama kali mengunjungi rumah ini pasti akan tertipu.

    Hunian yang menghabiskan waktu pembangunan sekitar satu tahun ini memiliki dua lantai. Secara garis besar rumah ini terdiri dari dua bangunan yaitu hunian dan garasi yang dibangun sedikit menjorok ke dalam dari bangunan utama (rumah). Pada bagian luar rumah ini terdapat jendela dengan disain yang menarik. Rangka jendela yang terbuat dari kayu Jati ini berbentuk persegi panjang dengan bagian bawah kaca yang dapat dibuka tutup. Pada bangunan luar ini juga dipasang beberapa ventilasi udara yang terbuat dari sirip-sirip kayu yang menempel di bawah kaca permanen. Teras yang juga berfungsi sebagai ruang tamu terletak di depan sebelah utara pintu gerbang, langsung terhubung dengan dapur. “Kalau ada orang datang, bisa langsung dibuatkan minum. Jadi kita tidak harus repot pergi berputar-putar”, tutur Agustina Iriani Prihatiningsih. Mengenai konsep, Lendra anak pertama dari pasangan tersebut tidak tahu apa konsep rumahnya. “Arsitek yang merancang rumah ini saya biarkan untuk mengeksplorasi rumah ini, yang penting rumah ini nyaman untuk ditinggali', jelas Lendra yang bekerja pada sebuah percetakan di Yogyakarta. Tukang yang merampungkan pembangunan rumah ini didatangkan dari Solo beserta kayu dan batu batanya. Untuk mengatasi rembesan yang biasa terjadi pada batu bata, perancang rumah ini melapisinya dengan lapisan anti bocor. Hunian yang memiliki luas bangunan 400 m² ini, menggunakan gaya split level pada setiap ruangannya.

    Memasuki lantai pertama, terdapat ruang tamu yang lebih privat dibandingkan dengan ruang tamu yang terdapat pada luar rumah. Di dalam ruang tamu ini terdapat sebuah meja oval dan tiga buah kursi berbentuk setengah lingkaran tanpa tempat bersandar. Di atas meja terletak sebuah asbak dengan bentuk seperti alat musik tradisonal Papua yang menambah kuat bukti cintanya keluarga ini terhadap budaya Papua. Pada sudut ruangan ini terdapat sebuah lemari berbentuk persegi panjang berisi benda-benda koleksi pribadi pemilik rumah. Kesan budaya Papua sangat kental pada rumah ini. Hal ini dikarenakan oleh Ayah dari Lendra yang dahulunya berkerja pada sebuah pertambangan di pulau paling timur wilayah Indonesia ini.

    Rumah milik keluarga Heru ini terdiri dari lima buah kamar. Pada setiap kamar terdapat toliet yang memudahkan setiap orang yang menempati kamar-kamar tersebut tidak perlu menunggu apabila ada keperluan pribadi. Tiga buah kamar berada di lantai pertama dan dua buah kamar berada di lantai kedua. Plafon rumah ini sengaja dibangun tinggi sehingga udara dapat bebas masuk ke setiap ruangan. “Bapak dulu ingin rumah yang tanpa AC. Jadi saya ingin bagian atap dengan lantai berjarak sekitar 8 meter dari lantai” tutur Lendra yang sudah menikah dengan Endah Wulandari. Sebelah kanan ruang tamu terdapat sebuah ruang santai yang terdiri dari dua kursi dan sebuah meja kayu. Di belakangnya terdapat jendela dengan konsep yang sama. Di depan ruang santai terdapat ruang keluarga yang letaknya lebih rendah dibandingkan ruang tamu. Ruang keluarga ini terdapat dua kursi panjang dan sebuah meja. Televisi diletakkan di atas lemari pendek persegi panjang yang terbuat dari kayu. Di dalam lemari kayu tersebut terdapat potongan batu-batu tambang koleksi Heru yang menambah indah ruangan keluarga ini. Tembok sebelah selatan ruang keluarga ini terbuat dari batu bata ekpose akan tetapi tidak dibuat full menutupi ruang keluarga.

    “Untuk menyimpan memori bapak sewaktu bekerja di pertambangan, saya menyuruh arsitek untuk membuat sebuah display berisi berbagai macam batu hasil tambang dulu sewaktu di Papua”, jelas Lendra. Display batu tambang tersebut diletakkan menempel pada tembok tepat sebelum masuk ke kamar tidur utama. Tembok bata ini menyisakan sedikit rongga yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara antar ruangan. Masuk ke dalam master bed room kesan luas dan nyaman tergambar dalam ruangan ini. Lemari besar diletakkan bersebelahan dengan master bed room. Ada dua hal menarik di dalam master bed room ini. Yang pertama, lemari pakaian diletakkan menempel dengan tembok yang langsung terhubung dengan display tempat menyimpan koleksi batu tambang. Kedua, ruangan ini juga memiliki sebuah pintu belakang yang langsung mengarah pada sebuah bidang tanah yang rencananya akan dijadikan sebagai kolam ikan. Pada setiap tembok rumah ini terdapat kaca dan lubang ventilasi di bagian atas sehingga udara maupun cahaya dapat bebas masuk ke dalam rumah. Untuk memudahkan kaki dalam menapaki permainan ruang dan split level yang berbeda di lantai pertama, digunakan anak tangga permanen. Beralih ke ruang makan yang terletak bersebelahan dengan master bed room, konsep split level tetap dipertahankan oleh pemilik.

    Ruang makan di rumah yang penuh inspirasi ini lebih tinggi daripada ruang tamu, ruang keluarga dan ruang santai. Meja makan berbentuk oval ditutupi taplak meja besar mempercantik tampilan ruang makan ini. Bagian yang menjadi ikon pada ruangan makan ini adalah sebuah lemari yang ditempelkan pada tembok batu ekpose. Lemari ini ditopang oleh plat besi yang diperkuat dengan baut. Dalam lemari tersimpan beberapa piring hias dari berbagai negara kenang-kenangan apabila keluarga ini jalan-jalan ke luar negeri. Pengaplikasian split level juga diterapkan pada lantai dekat ruang makan. Sisi yang lebih tinggi ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai. Dapur pada rumah ini terletak di ruangan yang langsung terhubung dengan ruang tamu di bagian teras rumah. Tangga penghubung lantai dua terbuat dari material kayu, baik rangka maupun anak tangganya. Pijakan anak tangga dirancang dengan bentuk yang tidak biasa. Anak tangga terdiri dari tumpukan balok kayu berjumlah lima buah yang ditata rapi berjejer memanjang tetapi tidak rapat. Hal ini dimaksudkan agar udara dapat masuk melalui sela-sela anak tangga.

    Menginjakkan kaki ke lantai dua, konsep split level tetap dipertahankan dalam rumah ini. Lantai ini terdiri dari dua buah kamar tidur. Hal yang menarik dari lantai dua ini adalah adanya penggunaan spilit level tertinggi sehingga di lantai ini seolah-olah memiliki lantai tiga. Ruangan tersebut dahulunya difungsikan sebagai ruang baca, tetapi pada saat ini digunakan oleh anak kedua Heru sebagai mini studio fotografi. Filosofi rumah ini menurut pemiliknya adalah sebagai tempat yang bisa mengakomodir kebutuhan setiap penghuninya. “Hanya ada satu kipas angin di rumah ini, yaitu pada ruang keluarga”, ucap Lendra mengakhiri percakapan. Dika-Red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain