Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Nongkrong Asik Bareng Teman di Tap House

    Taphouse
    Suasana di taman
    Main bar & Konsep bar table berbahan cor berpadu furnitur berbahan kayu Jati Bel
    Sumur tua sebagai point of interest di area depan
    Aneka Menu Taphouse

    Pada abad pertengahan di sebagian besar negara Eropa, bir menjadi minuman yang mutlak diperlukan sehari-hari pada saat haus. Sama dengan orang Indonesia abad lalu yang selalu menyediakan air putih di dalam kendi. Hal tersebut tidak lepas dari belum ditemukannya teknologi filtrasi untuk mengolah air tanah menjadi air tawar jernih dan higienis. Namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi untuk mengolah air tanah menjadi air minum, tradisi minum bir hanya menjadi selingan saja. Semakin lama kebiasaan minum bir terutama saat berkumpul bersama teman juga mulai masuk di masyarakat Indonesia, terlepas dari pro dan kontra keberadaan minuman satu ini.

    Berawal dari hobi kedelapan owner Tap House minum bir saat mereka berkumpul, yang akhirnya mereka wujudkan dalam sebuah beer house yang diberi nama Tap House. “Dulu awalnya kami berdelapan yang memang sama-sama punya hobi ngebir bareng. Setelah ngobrol akhirnya kami sepakat untuk bikin sebuah tempat untuk berkumpul dan minum bir bareng, ya akhirnya jadilah Tap House ini”, ujar Pandes yang juga salah satu owner dari Tap House.

    Nama Tap House sendiri diambil dari kata tap yang berarti keran yang ada pada drum beer jaman dahulu. Lalu lambang dari Tap House juga berbentuk seperti biji malt atau semacam biji gandum yang merupakan bahan dasar pembuatan beer. Kafe ini mulai beroperasi sekitar 7 bulan yang lalu dan telah memiliki konsumen setia. Banyak pengunjung dari wisatawan asing yang sedang berlibur di Jogja, namun tidak sedikit juga konsumen lokal yang datang untuk menghabiskan waktu di kafe ini.

    Dari segi bangunan, Pandes yang juga ditunjuk untuk membuat desain kafe ini berusaha menghadirkan 3 suasana berbeda pada setiap sisi di dalam satu tempat. Di bagian depan nampak desain bangunan layaknya rumah tua dengan dominasi batu bata ekspos. Tulisan “TAPHOUSE” terpampang jelas di atas bangunan dengan di terangi lampu tembak yang semakin nampak pada saat malam hari. Kafe ini juga memiliki area parkir yang cukup luas sehingga mempermudah pengunjung untuk memarkirkan kendaraannya. Masuk ke dalam ruangan pertama Tap House, terdapat sebuah cabinet besar yang di dalamnya berjajar rapi berbagai macam bekas botol bir dari berbagai merk. Sudut ini juga biasa digunakan pengunjung sebagai background untuk berfoto.

    Bergeser sedikit ke kanan, suasana rumah kuno begitu terasa pada ruangan ini. Ditambah dengan adanya bekas sumur tua lengkap dengan ember dan tali timba yang dimanfaatkan untuk menampung botol bekas beer. “Sumur tua ini memang sengaja tidak dibongkar, bahkan kalau dilihat di dalam sumur juga masih ada airnya. Jadi dimanfaatkan saja untuk menambah dekorasi ruangan di sini”, tambah Pandes.
    Untuk meja dan kursi di ruangan depan dipilih menggunakan model barstole berbahan kayu jati Belanda dengan rangka dari besi. Jendela-jendela depan juga dibiarkan terbuka dengan mengaplikasikan tralis dari besi beton layaknya penjara. Masuk sedikit ke sudut ruangan depan, nuansa yang nampak masih sama namun dengan desain meja dan kursi yang berbeda. Pada sudut ruangan ini dipilih desain meja dan kursi yang lebih nyaman. Untuk meja yang digunakan berbentuk persegi panjang berbahan kayu jati Belanda, lalu kursi dipilih berbentuk sofa memanjang dan beberapa kursi single berbentuk seperti krat botol bir.

    Ruangan tengah kafe ini cukup menarik, terdapat sebuah bar table memanjang berbahan cor dan beberapa kursi bar dari kayu dengan rangka besi. Pada dinding bar juga banyak terpampang berbagai logo beer dari berbagai merk yang sekaligus menegaskan Tap House sebagai rumah beer. Nuansa yang diberikan pada ruangan tengah lebih bergaya modern dengan sedikit konsep industrial.

    “Memang ruangan tengah ini termasuk yang paling baru dibandingkan dengan dua ruangan lain di kafe ini”, ungkap pria yang berlatar pendidikan akutansi tersebut. Dinding pada ruangan ini dipilih berwarna putih agar terkesan lebih terang. Meja dan kursi masih tetap mengandalkan bahan dari kayu jati Belanda dengan rangka besi. Pada ruang tengah ini juga terdapat sebuah ruangan outdoor dengan lantai beralaskan bebatuan. Sudut ini kembali menghadirkan nuansa rumah tua dengan dinding berhiaskan beberapa pintu tua yang masih menempel dan jendela-jendela dengan tralis besi di sisi atasnya. Kembali masuk ke dalam ruangan namun masih berada di ruang tengah, terdapat dua buah bar table berbahan cor dengan kursi yang serupa dengan kursi pada main bar.

    Ruangan selanjutnya yaitu ruangan belakang memiliki desain yang cukup unik dan sedikit spooky. Pada ruangan ini tidak akan ditemukan meja dan kursi seperti dua ruangan sebelumnya. Yang ada hanyalah ruangan yang nampak seperti bekas bangunan yang sudah hampir runtuh, bahkan hanya beralaskan tanah dan rumput liar yang tumbuh alami. Namun disediakan sofa angin sebagai alas duduk untuk pengunjung yang memilih menghabiskan waktu di ruangan ini.

    “Ruangan ini dulunya adalah bekas reruntuhan bangunan rumah yang sudah tertutup puing-puing. Setelah di bersihkan dari puing-puing bangunan ya jadinya seperti ini, gak ada perubahan signifikan yang dilakukan”, ucap pria yang juga mempunyai bisnis di bidang furnitur jati Belanda tersebut.
    Dari segi menu yang ditawarkan, kafe yang berdiri di atas lahan seluas 3000 m2 ini menawarkan pilihan merk beer yang cukup beragam. Total ada ±150 merk beer dari luar negeri maupun merk lokal, namun 70% merk beer yang tersedia adalah dari Eropa. Bahkan Tap House berani mengklaim bahwa kafe ini memiliki varian beer paling lengkap di Indonesia.

    Dalam semalam kafe ini dapat menjual ±500 botol beer, yang akan meningkat pada saat weekend atau hari libur. Untuk harga yang ditawarkan mulai dari 30 ribu sampai yang paling mahal 280 ribu rupiah per botolnya. Namun bagi pengunjung yang tidak minum beer, Tap House juga menyediakan 22 menu minuman non beer yang bisa dipesan sesuai selera.

    Untuk makanan, kafe ini mempunyai 13 menu makanan yang bisa dipilih. Akan tetapi Tap House mempunyai beberapa menu makanan andalan yaitu Grilled Ribs BBQ, yaitu iga bakar sapi dengan bumbu barbeque lengkap dengan saus homemade ala Tap House dan french fries. Ada juga menu Grilled Chicken Satay Classic bagi anda yang hobi dengan sate. Berbahan dasar daging ayam lalu dibakar dengan bumbu kecap dan disajikan dengan saus ala Tap House dan french fries yang cocok sebagai teman minum beer.

    Tap House buka setiap hari dan mulai beroperasi pada pukul 18.00 – 01.30 di hari Minggu – Jum'at. Pada hari Sabtu, kafe ini buka pada pukul 18.00 dan tutup hingga pukul 02.30. Setiap hari Rabu, kafe ini juga menyajikan hiburan berupa live music akustik dan live DJ perform pada hari Jum'at dan Sabtu. “Nanti ke depannya kita pengen bikin tempat penitipan handphone di depan. Tujuannya agar para pengunjung di sini lebih fokus untuk ngobrol bersama teman-temannya, bukan dengan hapenya”, tutup Pandes. Farhan-red

    TAP HOUSE

    Jl. Jlagran No.18, Pringgokusuman,
    Gedong Tengen, Kota Yogyakarta,
    Daerah Istimewa Yogyakarta 55272
    Telepon: 0812-2444-2225

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain