Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Rumah Berpernik Apik & Nyentrik

    Markus Winarto beserta keluarga
    Rumah berpernik Apik dan Nyentrik
    Ruang tamu dengan sentuhan artistik
    Sudut sempit dimanfaatkan menjadi ruang kerja yang nyaman
    Sudut ruang keluarga bernuansa retro & area dapur

    Tragedi gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Jogjakarta. Bencana yang meluluh-lantahkan sebagian wilayah Kota Budaya tersebut menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa yang tidak sedikit. Namun dengan semangat untuk bangkit dari keterpurukan, perlahan namun pasti warga Jogja mulai membangun kembali kehidupannya. Sarana dan prasarana penunjang hidup mulai dibangun kembali hingga sekarang aktifitas Yogyakarta sudah kembali seperti sedia kala.

    Semangat tersebut juga yang mendorong Markus Winarto untuk bangkit kembali. Rumah tinggalnya yang berlokasi di Jogokaryan MJ III No. 481 Yogyakarta tersebut juga menjadi salah satu yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana alam gempa bumi pada hampir 11 tahun silam. “Pasca gempa bumi tersebut, dampak pada rumah ini memang cukup parah bahkan sudah hampir roboh. Jadi ya mau tidak mau memang harus dibongkar sekalian,” ujar pria asli Wonosari tersebut. Setelah proses pembongkaran akhirnya pada tahun 2008 Markus mulai membangun kembali bangunan rumahnya. Proses pembangunan yang dilakukan juga bertahap hingga menjadi rumah seperti saat ini.

    Nampak dari fasad bangunan dua lantai dengan luas tanah kurang lebih 308 m² tersebut cukup unik, berbeda dari bangunan-bangunan di lingkungan sekitarnya. Kesan rindang begitu terasa dengan adanya beberapa pepohonan yang tumbuh subur di area halaman depan rumah. Pagar depan rumah mengaplikasikan bebatuan alam dipadu dengan pagar bambu yang tersusun rapi di atasnya. Kesan unik sudah nampak pada nomor rumah berukuran cukup besar yang menempel pada sebuah 'keset' yang notabene berada di depan pintu, namun sengaja digantung pada sebuah tiang besi. Tepat di sudut halaman rumah terdapat sebuah area untuk bersantai dengan sebuah meja marmer simpel berangka besi dan beberapa buah kursi kayu. Markus lebih memilih menggunakan bahan terpal sebagai atap penutup area halaman untuk menonjolkan nuansa naturalnya, sehingga memberikan rasa nyaman dan santai bagi penghuni maupun para tamu.

    Sebelum memasuki ruangan dalam rumah, ada sedikit cerita menarik tentang alasan bangunan rumah yang sedikit ditinggikan. “Jadi ini dulu dari bekas puing-puing rumah lama yang sudah dibongkar. Karena dulu bingung mau buang puing-puingnya kemana, ya akhirnya di manfaatkan untuk menguruk sekaligus meninggikan fondasi rumah sehingga bangunannya jadi nangkring seperti ini,” ungkap pria yang memiliki 3 anak tersebut. Konsep bangunan minimalis juga terasa dengan aplikasi jendela kaca berukuran cukup lebar pada fasad depannya. Beranjak dari halaman depan rumah tersebut, dapat langsung memasuki area ruang keluarga. Pada ruangan yang mengaplikasikan lantai dari kayu tersebut nampak cukup lapang dengan minimnya furnitur yang digunakan, karena juga difungsikan sebagai ruang bermain bagi anak. Beberapa mainan anak juga nampak pada area ruangan ini seperti ayunan, perosotan mini, dan beberapa boneka yang tersusun rapi dalam sebuah rak besi bertingkat. Tepat pada salah satu dinding ruangan, terpampang satu lukisan yang melambangkan kelestarian alam berukuran cukup besar bergambar pepohonan dengan bumi tepat berada di tengahnya. Keunikan yang terdapat pada ruang keluarga yaitu adanya beberapa tampah yang ditempelkan pada plafon rumah, menghiasi lampu gantung kuno yang ada pada ruangan tersebut. Nampak juga foto-foto dan lukisan yang tertempel pada dinding area ruang keluarga ini. Pada sudut lain ruangan keluarga, nuansa klasik lebih terasa dengan aplikasi dinding batu bata ekspos berwarna putih. Beberapa cabinet berbahan kayu tempat menyimpan buku koleksi dan pernak-pernik ditempatkan pada sudut ruangan, bergaya senada dengan nuansa klasik yang ditonjolkan. Sebuah jam gantung kuno ala kerajaan Inggris yang menempel pada salah satu cabinet menjadi pemanis di sudut retro ruangan tersebut.

    Bergeser menuju area dapur, terdapat sebuah sekat yang memisahkan dengan ruang keluarga berupa tralis besi bermotif dedaunan. Dinding sekeliling dapur dipenuhi dengan aplikasi batuan alam yang menampilkan kesan natural. Pencahayaan saat siang hari di area cukup baik karena Markus menggunakan atap transparan sehingga cahaya matahari dapat langsung masuk ke area dapur. Lagi-lagi tampah menjadi pilihan untuk menghiasi atap ruangan tersebut. Dapur pada rumah keluarga ini cukup lengkap dalam urusan perabotannya, karena memang suami dari Louisa Rini Widiastuti tersebut memiliki hobi memasak dan sempat menjadi chef di beberapa restoran dan hotel. “Dari dulu memang saya punya hobi masak. Dari tahun 1991 bergelut di bidang kitchen hingga kurang lebih tahun 2003, sempat vakum dari dunia masak tapi kok saya kangen dengan suasana dapur. Akhirnya saya dan istri memutuskan untuk membuka warung sendiri. Semoga tahun ini warung kami sudah bisa dibuka dan mulai beroperasi,” tambah Markus. Beberapa perabotan dapur nampak bergantung rapi pada sisi dapur. Pada salah satu sisi lain dapur juga terdapat beberapa bahan makanan dan bumbu yang berjajar pada cabinet berbahan kayu.

    Sebelum menuju ke ruang tamu, kita akan melewati sebuah ruangan memanjang yang tidak begitu luas. Markus memanfaatkan ruangan ini sebagai ruang kerjanya. Sebuah meja kerja beralaskan kaca dengan satu set komputer di atasnya yang selalu menemani dalam menyelesaikan pekerjaannya. Di sebelah meja kerja tersebut terdapat sebuah jendela kaca berukuran besar yang mempunyai view langsung menuju halaman depan rumah, sehingga menjadikan ruangan tersebut cukup sejuk.

    Beranjak dari ruang kerja Markus, terdapat ruang tamu yang juga mempunyai akses langsung menuju keluar. Ruangan dengan nuansa minimalis tersebut banyak dipenuhi dengan koleksi buku bacaan yang tertata rapi pada rak kayu yang menempel pada dinding ruangan. Di tengah ruangan terdapat meja tamu dan sofa kulit bergaya modern berwarna coklat tua. Kesan klasik sedikit terlihat pada ruangan ini dilihat dari aplikasi tegel pada lantainya. Sebuah televisi yang diletakkan pada cabinet menjadi entertainment pada ruangan ini. Tepat di samping televisi terdapat sebuah radio kuno yang cukup menarik secara tampilannya. “Itu hanya tampilannya aja yang seperti radio kuno, kalau untuk fiturnya sudah lengkap seperti perangkat sound system jaman sekarang. Sengaja mencari yang berbentuk radio kuno biar sekalian sebagai pelengkap interior rumah,” imbuh Markus.

    Pria yang juga berprofesi sebagai konsultan restoran itu mengaplikasikan cermin pada salah satu sisi dinding sehingga ruangan yang tidak terlalu luas menjadi terkesan lebih luas dan lapang. Sirkulasi udara pada ruang tamu pun cukup sejuk dengan adanya jendela kaca berukuran besar yang terhubung dengan halaman depan rumah. Hiasan yang menempel pada plafon ruang tamu juga cukup unik. Markus memanfaatkan besek dan ati agel atau kulit kayu tipis yang telah dikeringkan sebagai dekorasi penghias sekeliling lampu ruangan. “Besek dan ati agel ini sebenarnya adalah bekas properti proyek 1000 bendera dulu. Karena sayang kalau terbuang sia-sia begitu saja, ya sudah saya pakai untuk menghiasi rumah,” cerita pria yang juga sebagai founder proyek 1000 bendera tersebut. Dua buah Sang Saka Merah Putih yang terpasang di muka ruang tamu menjadi bukti rasa nasionalisme Markus. Menutup ceritanya, Markus menambahkan bahwa lantai atas rumahnya saat ini belum banyak digunakan untuk beraktifitas keluarganya, hanya difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan beberapa barang-barang yang sudah tidak terpakai. Farhan-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain